SEMARANG — Guna meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api dan mengurangi risiko kecelakaan di perlintasan sebidang, PT Kereta Api Indonesia bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan Kota Semarang melakukan uji coba sistem Panic Button di Perlintasan Jalan Madukoro (JPL 6).
Menurut Franoto Wibowo, Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, sistem Panic Button di perlintasan kereta api dikembangkan untuk mengurangi potensi tabrakan akibat kendaraan yang mogok atau terjebak di jalur lintasan. Ia menambahkan bahwa peningkatan kecepatan KA hingga 120 km/jam akibat jalur ganda menjadikan sistem ini semakin mendesak untuk diterapkan.
"Biasanya petugas hanya mengandalkan bendera merah untuk memberi sinyal darurat. Dengan sistem Panic Button ini, cukup tekan tombol dan sinyal otomatis dikirim ke masinis," jelas Franoto, Kamis 26 Juni 2025.
Uji coba inovasi teknologi keselamatan ini dihadiri oleh Direktur Keselamatan dan Keamanan KAI, Dadan Rudiansyah; Direktur Keselamatan Perkeretaapian DJKA, Jumardi; Kepala Daop 4 Semarang, Daniel Johannes Hutabarat; serta perwakilan dari Dishub Kota Semarang.
Cara Kerja Panic Button di Perlintasan Sebidang
Sistem ini terdiri dari tiga bagian utama: tombol darurat (button), panel kontrol (control box), dan lampu serta sirine peringatan (emergency lamp and buzzer). Lampu sinyal dipasang dalam radius 1 kilometer dari pos jaga, agar masinis memiliki cukup waktu untuk mengerem secara aman.
Dalam kondisi normal, lampu indikator akan mati. Namun jika tombol ditekan, akan muncul sinyal darurat berupa lampu merah berkedip dan suara sirine, yang langsung memberi tahu masinis untuk melakukan pengereman darurat.
Teknologi Baru, Solusi Lama
Inovasi ini menjadi bagian dari transformasi digital sistem keselamatan perkeretaapian nasional. Diharapkan, Panic Button untuk perlintasan kereta api dapat menjadi standar baru dalam protokol darurat di wilayah rawan kecelakaan.
Dengan semakin padatnya lalu lintas kendaraan dan kereta di kota besar seperti Semarang, kehadiran sistem ini menjadi solusi cepat dan efisien mencegah kecelakaan tragis di perlintasan.
Franoto menegaskan bahwa keselamatan merupakan prioritas utama. KAI berkomitmen terus berinovasi, sekaligus menggandeng pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kepatuhan berlalu lintas di sekitar rel.
Ini adalah tanggung jawab bersama. KAI akan terus hadirkan inovasi demi keselamatan transportasi rel dan pengguna jalan," pungkasnya.