TEGAL — Pengungsi bencana tanah bergerak di Desa Padasari Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal mulai terserang batuk, diare hingga gatal-gatal. Gangguan kesehatan ini mulai menyerang warga yang masih mengungsi di tenda-tenda darurat dan penampungan sementara.
Sebelumnya ratusan jiwa warga mengungsi sejak bencana tanah bergerak menerjang wilayah Desa Padasari, Selasa 2 Februari 2026 lalu. Akibatnya ratusan rumah ambruk dan rusak parah, sehingga tak bisa ditempati lagi.
Berdasarkan data Posko Pengungsian di Pondok Pesantren Al-Adalah 2 Desa Capar, sejumlah warga antre menjalani pemeriksaan kesehatan sejak pagi. Beberapa di antaranya adalah santriwati, yang sedang menunggu giliran di Posko Kesehatan PSC 119 Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal.
Mereka tidak hanya trauma, tetapi juga mengeluh secara fisik. Empat santriwati yang menanti pemeriksaan, salah satunya adalah Arini, santriwati Ponpes Al-Adalah asal Desa Padasari.
Ia datang diantar teman-temannya untuk memeriksakan kondisi kesehatannya, yang menurun dalam beberapa hari terakhir. Arini mengaku mengalami gatal-gatal disertai bintik merah di tangan, batuk, pilek, hingga mual.
Keluhan itu dirasakannya sejak awal puasa pertengahan Februari 2026 lalu. “Saya merasa gatal-gatal dan ada bintik merah di bagian tangan. Selain itu saya juga batuk dan merasa mual sudah beberapa hari terakhir."
"Ya ini periksa ke posko kesehatan memanfaatkan fasilitas yang ada. Sangat terbantu karena tidak perlu jauh-jauh ke puskesmas karena kondisinya juga sulit,†katanya.
Kondisi serupa rupanya tidak hanya dialami Arini. Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Kabupaten Tegal sekaligus Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kabupaten Tegal, Siti Iva Rifda Chomsiyah, mengungkapkan setiap hari warga dan santri berdatangan ke posko kesehatan.
Pada, Senin 23 Februari 2026 saja, tercatat enam orang memeriksakan diri dan seluruhnya merupakan santriwati. “Keluhannya rata-rata batuk, pilek."
"Ada juga satu santri yang tangannya terkena air panas, tapi tidak parah dan sudah tertangani,†ujar Siti Iva Rifda.
Menurutnya, keluhan paling banyak di Posko Ponpes Al-Adalah 2 meliputi batuk, pilek, diare, serta gatal-gatal. Ia menduga diare dipicu perubahan pola makan, terlebih di tengah kondisi pengungsian yang serba terbatas dan bertepatan dengan bulan puasa.
Untuk memastikan layanan kesehatan tetap optimal, Dinkes Kabupaten Tegal mendirikan sejumlah posko kesehatan sejak hari pertama bencana.
Selain di Ponpes Al-Adalah 2, posko juga tersedia di rumah salah seorang warga, rumah bidan desa, rumah kepala desa, serta satu titik di Desa Penujah.
Posko kesehatan beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga 19.00 WIB. Tenaga medis siaga memberikan pemeriksaan, pengobatan, hingga rujukan bila diperlukan.
Meski layanan kesehatan terus berjalan, kondisi pengungsi tetap memprihatinkan. Ribuan orang hidup berdesakan, dengan keterbatasan air bersih, sanitasi, dan asupan gizi yang berpotensi memicu penyakit lebih luas jika tak segera diantisipasi.