SEMARANG — Jemaah haji asal Kota Semarang Kloter 28 tiba di Islamic Center, Manyaran. Uniknya, satu dari beberapa jemaah tampil berbeda dengan yang lainnya.
Selayaknya jemaah haji yang pulang dari Tanah Suci mengenakan songkok atau peci, namun berbeda dengan Soni Harsono (42), warga Krapyak, yang justru mengenakan topi SD berwarna merah putih.
Ia menerangkan bahwa topi SD tersebut merupakan simbol bahwa semua orang harus selalu belajar, meskipun sudah lanjut usia.
"Topi SD itu menandakan bahwa kita harus siap dan selalu mau belajar. Kalau anak SD kan baru masih belajar, jadi kita harus terus belajar," katanya kepada wartawan diswayjateng.id, Jumat, 20 Juni 2025 malam.
Soni mengaku, sebelumnya ia dan rombongan Kloter 28 merupakan bagian dari Kloter 33 yang kemudian dipindahkan untuk bergabung dengan rombongan dari Kabupaten Kendal.
"Sebetulnya rombongan kami itu Kloter 33. Tapi malam-malam ditelepon untuk langsung berangkat paginya, jadi ikut Kloter 28 bersama Kabupaten Kendal," terangnya.
Menurutnya, kebahagiaan menjalankan ibadah haji tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ia hanya berharap semua umat muslim bisa merasakan kegembiraan yang mereka rasakan tahun ini.
"Kebahagiaan ini tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Semoga semua umat Muslim bisa merasakan kegembiraan yang kami rasakan tahun ini," ujarnya.
Soni menceritakan bahwa sebelumnya, yang seharusnya berangkat haji adalah sang ibu, yang sudah menunggu selama 12 tahun, namun masuk sebagai jemaah haji cadangan. Sedangkan jemaah haji cadangan tidak diperkenankan membawa pendamping.
"Saat itu sempat kecewa. Tahun kemarin sempat diumumkan berangkat tapi cadangan. Tapi rencana Allah SWT lebih baik dari rencana manusia. Jemaah cadangan gugur dan bisa berangkat tahun ini bersama ibu tercinta," katanya.
Ia juga mengenang momen saat melaksanakan tawaf, bermalam di Muzdalifah, dan menjalankan ibadah di Mina. Menurutnya, semua rangkaian ibadah haji mengajarkan kesabaran.
"Kita dituntut untuk sabar dan saling berbagi dengan teman-teman satu rombongan kloter," jelasnya.
Sebelumnya, suasana haru terlihat saat keluarga menyambut kedatangan 28 jemaah haji asal Kota Semarang. Mereka tergabung dalam Kloter 28 dan tiba di Islamic Center Manyaran pada pukul 20.22 WIB.
Peluk dan tangis bahagia dari para kerabat tak terbendung saat para jemaah turun dari bus dan menginjakkan kaki di tanah kelahiran mereka.
Para jemaah haji asal Kota Semarang sebelumnya diberangkatkan dari Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, pada Jumat, 20 Juni 2025 pukul 00.05 Waktu Arab Saudi, dan mendarat di Tanah Air pukul 18.05 WIB melalui Embarkasi Solo. Setelah itu, mereka langsung diberangkatkan menuju Islamic Center Manyaran, Kota Semarang.
Mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Semarang, Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kemenag Kota Semarang, Dony Aldise Harahap menyampaikan bahwa Kloter 28 merupakan gabungan dari jemaah haji asal Kota Semarang dan Kabupaten Kendal, dengan total 360 jemaah.
"Yang tiba di Asrama Haji Transit Semarang malam ini hanya 28 jemaah dari Kota Semarang. Mereka datang dengan satu armada bus dan satu ambulans sebagai antisipasi jika ada yang membutuhkan bantuan medis," jelas Dony.
Dony juga menyampaikan bahwa kloter-kloter berikutnya dari Kota Semarang akan tiba dalam waktu dekat.
"Kloter 30 dijadwalkan mendarat di Bandara Adi Soemarmo Solo pada Sabtu, 21 Juni 2025 pukul 10.00 WIB, Kloter 31 pukul 13.10 WIB, Kloter 32 pukul 18.35 WIB, dan Kloter 33 pada Minggu, 22 Juni 2025 pukul 04.15 WIB," terangnya.
Adapun jumlah total jemaah haji asal Kota Semarang dari Kloter 30 hingga 33 adalah:
Kloter 30: 352 jemaah
Kloter 31: 348 jemaah
Kloter 32: 351 jemaah
Kloter 33: 329 jemaah
"Keempat kloter tersebut tidak lagi melakukan transit di Embarkasi Donohudan, melainkan langsung diberangkatkan menuju Islamic Center Manyaran, Kota Semarang, dari bandara menggunakan bus," tambah Dony.
Dony juga menginformasikan bahwa dari total jemaah haji asal Kota Semarang yang telah tiba di Tanah Air, terdapat tiga orang yang wafat saat menjalankan ibadah haji. Ketiganya adalah:
Sodiq bin Zubaidi (Kloter 31), meninggal di Madinah sebelum puncak ibadah Armuzna, karena acute coronary syndrome.
Suprapto bin Kasyanto (Kloter 31), meninggal pasca Armuzna, karena acute coronary syndrome.
Widodoningsih binti Prawirosoedarmo (Kloter 33), meninggal pasca Armuzna, karena faktor usia lanjut dan autoimun.
Ia menambahkan bahwa rata-rata jemaah haji yang meninggal dunia disebabkan oleh faktor usia dan kelelahan saat menjalankan ibadah.
"Mayoritas jemaah lansia. Salah satu dari mereka lahir tahun 1941. Kebanyakan wafat karena kondisi fisik yang lemah dan faktor kesehatan," jelas Dony.