SEMARANG — Suasana penuh semangat kemerdekaan terasa di sebuah kegiatan kreatif yang digelar komunitas Sahabat Difabel Indonesia. Puluhan anak difabel diajak untuk menyalurkan ekspresi melalui seni mural dengan tema “Merdeka Berkarya, Mewarnai Indonesia”.
"Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan ruang berekspresi bagi anak-anak difabel. Mereka bebas menuangkan kreativitas sesuai imajinasi, karena pada hakikatnya kemerdekaan adalah kebebasan untuk berkarya," ujar pengajar seni lukis komunitas difabel, Geovanni Susanto kepada Diswayjateng.com, Sabtu 16 Agustus 2025.
Di salah satu ruangan Roemah Difabel Indonesia, Puspowarno, Semarang Barat Puluhan penyandang disabilitas bersama siswa-siswi dari SD Kanisius Kurmosari, SD Nasima, hingga SMP Muhammadiyah 4, bahu membahu menggambar mural dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam kegiatan yang digagas Yayasan Roemah Difabel Indonesia ini tidak sekadar untuk perayaan semata, tetapi juga menjadi wadah ekspresi seni serta pembelajaran kemandirian bagi para difabel.
Menurut Geovani, kegiatan ini juga menjadi ajang persiapan menuju launching ruang karya di bulan Oktober mendatang.
"Kami sedang menyiapkan ruang panel sebagai galeri, juga RD Shop untuk menjual merchandise, lukisan, dan karya keterampilan anak-anak difabel," jelasnya.
Geovani mengaku awalnya sempat ragu ketika mendapat tawaran untuk melatih anak-anak difabel. Namun, keraguan itu berubah menjadi kekaguman setelah melihat hasil karya mereka.
"Awalnya saya merasa ini sebuah tantangan. Tapi ternyata, potensi mereka sangat besar, tidak kalah dengan anak-anak non-difabel. Goresan dan cara mereka melukis justru unik, penuh karakter," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa proses pembinaan ini baru berjalan sekitar 6–8 bulan, namun sudah mampu melahirkan karya-karya luar biasa yang pernah dipamerkan di berbagai ajang seni.
Momentum Hari Kemerdekaan Indonesia juga memberi makna mendalam bagi para peserta. Johan berharap agar anak-anak difabel semakin diberi ruang untuk berkembang dan dipandang setara dengan masyarakat umum.
"Harapan saya, di hari kemerdekaan ini, teman-teman difabel bisa semakin merdeka. Merdeka dalam arti bebas berkarya, bebas mengasah potensi, dan mendapatkan kesempatan yang sama. Bagi saya, mereka sudah setara, tidak ada perbedaan antara difabel dan non-difabel," tegas Geovani.
Dalam proses pembinaan, Johan mengaku tidak memiliki latar belakang khusus dalam mengajar anak difabel, terutama bagi yang tunarungu. Namun, ia percaya bahwa ketulusan hati adalah kunci dalam menjalin komunikasi.
"Saya tidak punya skill atau pendidikan khusus untuk mengajar difabel. Tapi saya yakin, dengan hati dan niat yang tulus, kendala komunikasi bisa diatasi. Dan itu terbukti, mereka bisa menghasilkan karya indah," katanya.
Salah satu karya yang cukup menarik adalah lukisan tentang Bung Karno karya Johan, seorang difabel tunarungu, yang sebelumnya pernah dipamerkan di acara On the Track. Karya tersebut bahkan hanya disiapkan dalam waktu kurang dari satu bulan.
"Ini bukti bahwa difabel mampu berprestasi dan menghasilkan karya seni yang patut diapresiasi," tambah Geovani.
Menurut Theresia Rina Dwi Pangestuti Ketua komunitas sahabat difabel (KSD) terdapat 45 difabel aktif yang rutin mengikuti kegiatan di Roemah Difabel, dari total sekitar 150 anggota.
Bahkan, sejumlah difabel sudah berhasil disalurkan bekerja, salah satunya melalui kerja sama dengan Hotel Tentrem Semarang.
"Ini langkah dari Rumah Difabel sendiri untuk menggerakkan seni untuk difabel. Anak-anak ini kami latih setiap hari, ada kelas melukis, menggambar, memasak, hingga public speaking. Hasil karya mereka bisa dijual dalam bentuk kaos, tas, bahkan pernah dibuat kalender bersama mitra," ujar Theresia
Tak hanya mural, berbagai karya seni dari penyandang disabilitas di Semarang ini sudah mendapat apresiasi luas. Beberapa lukisan mereka telah dipamerkan, bahkan dibeli kolektor maupun lembaga mitra.
"Contohnya Pak Johan, teman tuli yang suka melukis. Karyanya sudah banyak dibeli. Jadi meski dengan keterbatasan, mereka tetap bisa mandiri," tambahnya.
Momentum peringatan kemerdekaan tahun ini menjadi refleksi penting bagi para difabel. Mereka berharap pemerintah dan masyarakat lebih membuka kesempatan tanpa diskriminasi.
"Harapan kami, jangan hanya memenuhi kuota inklusi di perusahaan. Tetapi benar-benar memberi ruang agar difabel bisa bekerja dan mandiri. Kemerdekaan sejati bagi kami adalah saat bisa berkarya tanpa dibatasi stigma," tegasnya.