Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Tren Kasus HIV di Kota Semarang Terus Naik, Dinkes Perkuat Deteksi Dini dan Akses Layanan

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam lonjakan kasus HIV bukan hanya disebabkan oleh perilaku berisiko. wahyu sulistiyawan

SEMARANG — Dalam tiga tahun terakhir, kasus HIV di Kota Semarang mengalami peningkatan yang konsisten. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, tercatat sebanyak 601 kasus HIV pada tahun 2022, meningkat menjadi 689 kasus di tahun 2023, dan kembali naik menjadi 691 kasus per Juli 2024. 


Kenaikan ini memicu perhatian berbagai pihak, terutama dalam hal pencegahan, edukasi, dan perluasan akses layanan kesehatan.


Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, lonjakan kasus bukan hanya disebabkan oleh perilaku berisiko, tetapi juga oleh perluasan layanan tes HIV yang kini semakin mudah diakses masyarakat.


"Kasus memang naik, tapi ini juga mencerminkan bahwa akses layanan tes HIV semakin membaik. Saat ini kami sudah memiliki 79 titik layanan, tersebar di puskesmas dan klinik," ungkap Hakam saat dikonfirmasi, Rabu 30 Juli 2025.


Salah satu kelompok yang disebut turut berkontribusi pada peningkatan angka kasus adalah laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL). Kelompok ini masuk dalam kategori populasi kunci dengan tingkat risiko tinggi penularan HIV.


"Populasi kunci memang bertambah dan itu ikut mendorong naiknya jumlah kasus. Tapi di sisi lain, kita juga makin gencar memberikan kemudahan akses tes," tambah Hakam.

Untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama yang tidak dapat datang di jam kerja, Dinkes Kota Semarang membuka layanan malam hari di 21 puskesmas. Layanan ini menjadi andalan dalam menjangkau kelompok rawan yang bekerja pada malam hari atau memiliki mobilitas tinggi.


Tidak hanya mengandalkan puskesmas dan klinik, Pemkot Semarang juga mengoperasikan layanan VCT mobile (Voluntary Counseling and Testing) atau tes HIV keliling. Mobil layanan ini secara aktif menyambangi lokasi-lokasi yang dianggap berisiko tinggi, seperti tempat karaoke, spa, hotel, panti pijat, hingga rumah kos.


"Pendekatan aktif ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi demi memastikan orang yang berisiko bisa segera mengetahui statusnya dan mendapatkan pengobatan," tegas Hakam.


Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis komunitas, Dinas Kesehatan berharap dapat menekan laju penularan HIV, terutama di kalangan populasi kunci. Edukasi juga menjadi fokus utama agar masyarakat tidak takut melakukan tes, karena seluruh layanan dijamin kerahasiaannya serta disertai pendampingan psikologis dan medis yang memadai.


Di tengah stigma yang masih melekat pada pengidap HIV, pemerintah terus mendorong agar masyarakat tidak ragu untuk memeriksakan diri. Layanan bersifat gratis, rahasia, dan terbuka untuk umum. Edukasi juga ditingkatkan melalui sosialisasi di sekolah, tempat ibadah, komunitas, hingga media sosial.


"Kami ingin warga Semarang tahu bahwa tes HIV bukan hal yang menakutkan. Justru dengan tahu lebih awal, pengobatan bisa segera dilakukan, dan risiko penularan dapat ditekan," pungkas Hakam.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube