SEMARANG — Di tengah musim kemarau yang masih diselingi hujan, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Semarang justru menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan tahun lalu.
Jumlah kasus DBD di Kota Semarang mengalami penurunan hingga pertengahan tahun 2025, tercatat hanya 112 kasus, jauh lebih rendah dari sekitar 150 kasus pada periode yang sama tahun lalu.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, dr. Mochammad Abdul Hakam, menyampaikan bahwa keberhasilan ini tak lepas dari strategi pengendalian vektor nyamuk melalui metode surveilans dan program penyebaran nyamuk ber-Wolbachia.
"Alhamdulillah, kejadian DBD di Kota Semarang ini turun. Tahun lalu sekitar 150 kasus, sekarang hanya 112," ungkap Hakam saat ditemui di Kantor Dinkes Semarang, Selasa 17 Juni 2025.
Menurut Hakam, masyarakat perlu membedakan antara infeksi virus dengue biasa dan DBD. Demam karena dengue belum tentu DBD jika tidak disertai penurunan trombosit.
"Kalau positif NS1 tapi trombositnya tidak turun, itu dengue. Kalau trombosit turun di bawah 150 ribu, itu baru masuk kategori DBD,” jelasnya.
Dinas Kesehatan secara aktif melakukan surveilans vektor, yaitu pengambilan sampel nyamuk dari wilayah-wilayah yang terindikasi tinggi kasusnya. Salah satu contoh efektif terjadi di Kelurahan Pandansari.
"Setelah kita kumpulkan nyamuk dari satu kelurahan, lalu dites dan hasilnya positif dengue, maka langsung kita lakukan PCR seminggu 2-3 kali selama 3-4 minggu berturut-turut," katanya.
Jika hasil negatif, tetap dilakukan PCR seminggu sekali sebagai upaya monitoring. Tujuannya agar masyarakat mengetahui status lingkungan mereka dan melakukan tindakan pencegahan lebih awal.
Hakam menyebut empat kecamatan yang mengalami penurunan tajam dalam kasus DBD, yaitu Banyumanik, Tembalang, Mijen, dan Gunungpati.
"Yang tadinya kasusnya bisa 100-an, sekarang tinggal di bawah 10 kasus. Bahkan lebih dari 60-70% nyamuknya tidak lagi membawa virus dengue," ungkapnya.
Keberhasilan tersebut tak lepas dari program penyebaran nyamuk dengan bakteri Wolbachia, yang terbukti menurunkan kemampuan nyamuk Aedes aegypti untuk menularkan virus dengue.
Saat ini program telah mencakup 37 kelurahan di 12 kecamatan, dan akan terus diperluas hingga akhir 2025. Evaluasi menyeluruh dijadwalkan dilakukan awal 2026.
"Memang belum seluruh kelurahan bisa dijangkau karena keterbatasan anggaran. Tapi dari hasil evaluasi bersama Kementerian Kesehatan, 2025 dan awal 2026 akan ada perluasan," tambah Hakam.
Kecamatan yang dulunya masuk lima besar penyumbang kasus terbanyak seperti Tembalang, Banyumanik, dan Semarang Utara, kini justru berada di posisi lima terbawah.
"Ini salah satu keberhasilan dari program Wolbachia dan surveilans ketat nyamuk vektor," pungkas Hakam.