SEMARANG — Suasana duka menyelimuti rumah duka di Jalan Watu Kaji Raya No.100, Gedawang, Banyumanik, Kota Semarang. Tangis Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, pecah saat prosesi penutupan peti jenazah sang suami, V. Djoko Riyanto, yang wafat pada Minggu pagi pukul 05.30 WIB di Rumah Sakit Telogorejo, Semarang.
Agustina tampak tegar, namun air matanya tak terbendung ketika peti jenazah Djoko ditutup dan doa dari berbagai lintas agama dilantunkan. Di sisi lain ruangan, sejumlah pejabat tampak turut berduka, memberikan pelukan dan ucapan belasungkawa.
Rumah duka yang dikenal warga sebagai “Cafe Warga Lokal” itu menjadi saksi keharuan terakhir sebelum almarhum dimakamkan.
Upacara penghormatan terakhir dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin, Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Ketua DPRD Kota Semarang, serta sejumlah tokoh masyarakat dan pejabat Pemkot Semarang.
Suasana hening menyelimuti prosesi doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama. Sekitar pukul 17.00 wib WIB, jenazah diberangkatkan menuju TPU Demangan Srondol Wetan, Banyumanik, untuk dimakamkan secara khidmat diiringi keluarga, sahabat, dan rekan sejawat.
Usai prosesi doa, Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin menyampaikan duka mendalam atas kepergian sosok yang dikenal rendah hati dan bersahaja itu.
“Sore hari ini Semarang berduka karena kehilangan salah satu tokoh terbaiknya. Bapak Djoko Riyanto bukan hanya suami dari Ibu Wali Kota, tapi juga seorang sahabat dan sosok penyeimbang dalam dinamika pemerintahan kota,” ujar Iswar saat ditemui Diswayjateng.com.
Menurut Iswar, selama menjabat sebagai anggota DPRD Kota Semarang, Djoko Riyanto dikenal sebagai figur yang mampu menjaga harmoni antara legislatif dan eksekutif.
“Beliau selalu berusaha menengahi ketika ada perbedaan pendapat. Dengan kerendahan hati, beliau menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat dan kebijakan pemerintah. Banyak program kota yang bisa berjalan baik karena peran aktif beliau,” lanjutnya.
Menjawab pertanyaan mengenai keberlanjutan roda pemerintahan Kota Semarang, Iswar menegaskan bahwa seluruh jajaran Pemkot tetap bekerja seperti biasa sambil memberikan ruang bagi Wali Kota untuk berduka.
“Kami memahami duka mendalam yang dirasakan Ibu Wali. Namun roda pemerintahan tidak akan berhenti. Agenda-agenda yang sudah terjadwal, seperti Kirab dan kegiatan IDC, akan tetap berjalan sesuai koordinasi bersama Pak Sekda,” tegasnya.
Dengan iringan drumband, peti almarhum Djoko Riyanto di tanduk oleh petugas untuk dimasukan ke mobil jenazah untuk menuju pemakaman.
Almarhum V. Djoko Riyanto, S.E., lahir di Klaten pada 5 April 1969. Ia dikenal sebagai kader loyal PDI Perjuangan yang memulai kiprahnya di dunia politik dari bawah.
Sejak 2019, ia menjabat sebagai Ketua PAC Banyumanik, dan telah empat kali terpilih menjadi anggota DPRD Kota Semarang periode 2009–2014, 2014–2019, 2019–2024, dan kembali dipercaya untuk periode 2024–2029.
Rekan-rekannya di parlemen mengenang Djoko sebagai sosok sederhana yang konsisten memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Semasa hidup, ia aktif dalam kegiatan sosial, terutama yang berkaitan dengan masyarakat Banyumanik dan wilayah sekitarnya.
Sejak pagi, warga dan kolega terus berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir. Di ruang tengah rumah duka, karangan bunga berderet dari berbagai instansi dan tokoh politik. Aroma dupa dan lagu rohani mengiringi suasana hening yang sesekali pecah oleh tangis keluarga.
Agustina Wilujeng Pramestuti tampak dikelilingi anak dan kerabat dekat. Sesekali ia menatap potret sang suami dengan tatapan sendu. Kehilangan ini terasa begitu dalam, bukan hanya bagi keluarga, tapi juga bagi masyarakat Semarang yang mengenal kiprah Djoko sebagai wakil rakyat yang merakyat.