Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Hari Anak Nasional, Agustina Jadikan Kota Semarang Ramah Anak

Aksi treatikal permainan tradisional dibawakan oleh puluhan anak pada peringatan Hari Anak Nasional di Halaman Balai Kota Semarang. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Suasana penuh keceriaan menyelimuti halaman Balai Kota Semarang pada peringatan Hari Anak Nasional. Puluhan anak tampil membawakan teaterikal permainan tradisional, mengingatkan pada memori masa kecil yang hangat. Bagi Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, momen itu seakan menjadi kilas balik perjalanan hidupnya.


Agustina menegaskan, visi pemerintahannya adalah menjadikan Kota Semarang sebagai kota ramah anak. Menurutnya, kenyamanan tidak hanya berada di kawasan ikonik seperti Simpang Lima atau Balai Kota, melainkan juga di kampung-kampung, jalan-jalan kecil, hingga ruang publik yang dekat dengan kehidupan warga.


"Setiap minggu saya akan jalan-jalan untuk menemukan aset milik Pemkot, sekecil apapun, yang bisa diubah menjadi ruang bermain anak. Anak-anak harus bisa pulang sekolah, mampir ke taman, nongkrong dengan aman, merasa nyaman dan terlindungi, tanpa gangguan," tegasnya pada peringatan Hari Anak Nasional, Kamis 21 Agustus 2025.


Ia juga akan mengajak Dinas terkait seperti Dinas Pendidikan dan Lingkungan Hidup untuk menciptakan peran lebih ke anak dan lingkungan yang bersih.


"Saya tadi di akhir pidato mengajak Dinas Pendidikan untuk menciptakan sistem pendidikan lokal yang memberi peran lebih banyak bagi anak. Juga kepada Dinas Lingkungan Hidup agar menciptakan lingkungan yang bersih. Bagaimana caranya supaya Kota Semarang benar-benar nyaman untuk anak-anak, tanpa hal-hal yang menakutkan," ujar Agustina.


Dalam refleksi usia ke-41 peringatan Hari Anak Nasional, Agustina menekankan bahwa anak-anak harus memiliki ruang ekspresi di luar sekolah. Ia menilai, kegiatan non-formal seperti kompetisi, festival, maupun pameran bisa lebih mengasah kreativitas anak.

"Kalau anak-anak hanya belajar les, main piano, menari, tanpa ruang kompetisi dan festival, potensinya tidak terasah maksimal. Pemerintah Kota akan berusaha memfasilitasi ruang-ruang ekspresi itu agar anak-anak semakin cerdas dan percaya diri,” jelasnya.


Agustina memberikan pesan khusus bagi anak-anak di Kota Semarang untuk teruslah berprestasi dan belajar, bermimpilah setinggi langit dan gunakan setiap kesempatan untuk mengekspresikan diri.


"Konferensi anak tadi memberi pesan penting: apa yang kita lakukan belum cukup. Anak-anak ingin suara mereka diadopsi dalam keputusan pemerintah, paling tidak untuk program 2026. Hari Anak Nasional adalah momentum bagi kita untuk mendengar mereka," tambahnya.


Puncak peringatan Hari Anak Nasional yang dihadiri Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan menampilkan berbagai permainan tradisional anak. Berbagai stand memamerkan hasil karya anak baik dolanan hingga teknologi. 


Bagi Agustina, tugas orang tua dan pemerintah adalah menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan dunia dewasa, bukan sekadar memaksakan cita-cita masa lalu.


"Sering kali kita merasa tahu masa depan anak, padahal zaman sudah berubah. Kita perlu mendengar mereka. Karena itu, Hari Anak Nasional bukan hanya seremoni, tapi refleksi bahwa masih banyak PR untuk menyiapkan ruang tumbuh yang lebih baik bagi anak-anak," pungkasnya. (SUL)

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube