SEMARANG — Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang, Heroe Soekendar, memastikan pendaftaran siswa Sekolah Rakyat tahun ajaran 2025 telah memenuhi bahkan melampaui target.
Meski demikian, pembangunan sekolah permanen yang akan dibangun di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang masih menunggu persetujuan dari Kementerian Pertanian (Kementan), sementara aktivitas belajar akan dialokasikan di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Semarang.
Heroe mengungkapkan, target awal pendaftaran siswa untuk tahun 2025 sebenarnya hanya 50 siswa tingkat SD dan 50 siswa tingkat SMA. Namun, realisasi justru melampaui target.
"Alhamdulillah targetnya sudah terpenuhi bahkan melebihi kuota. Untuk SD target 50 siswa kini mencapai 58, berarti ada cadangan 8. Sementara untuk SMA target 50 kini sudah 61 siswa, cadangan 11," jelas Heroe kepada diswayjateng.com kemarin.
Lebih lanjut, Heroe menyebut komposisi siswa SD terdiri dari 30 laki-laki dan 28 perempuan, sementara di tingkat SMA ada 38 laki-laki dan 23 perempuan.
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) rencananya dimulai pada September 2025, dengan lokasi sementara di BBPVP Semarang, sembari menunggu pembangunan sekolah permanen di kawasan Rowosari.
"Insyaallah September tahun ini kegiatan sudah dimulai. Untuk sementara kita gunakan fasilitas BBPVP, karena gedungnya masih dalam tahap rehabilitasi," tambahnya.
Di sekolah tersebut nantinya tidak hanya tersedia ruang kelas, tetapi juga asrama, ruang makan, tempat belajar, hingga sarana ibadah. Bahkan, pengadaan fasilitas pendukung seperti tempat tidur bagi siswa sudah mulai dilakukan.
Heroe menegaskan, untuk pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di Rowosari, pihaknya masih menunggu izin pemanfaatan lahan seluas 1,9 hektare dari Kementerian Pertanian.
"Lokasinya sudah diproyeksikan di Rowosari, namun harus ada persetujuan dari Kementerian Pertanian. Lahan tersebut sebelumnya merupakan kawasan taman hijau, sehingga perlu proses perizinan," katanya.
Selain itu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) juga tengah melakukan rehabilitasi terhadap gedung yang akan dipakai. Heroe optimistis, fasilitas sudah siap digunakan sesuai target waktu.
Untuk tenaga pengajar, Dinsos Kota Semarang menggandeng Kementerian Sosial (Kemensos) yang bekerja sama dengan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Pola ini mengikuti praktik serupa di Sekolah Rakyat Sentra Suharso, Solo, yang sudah lebih dulu berjalan.
"Nanti ada kemungkinan guru mendaftar melalui mekanisme Kemensos, lalu ditempatkan mengajar di Sekolah Rakyat, sama seperti di Solo," jelas Heroe.
Ia menegaskan, sasaran utama Sekolah Rakyat adalah warga miskin dan mereka yang masuk kategori kemiskinan ekstrem. Namun, kesempatan juga terbuka bagi masyarakat yang tidak termasuk kategori tersebut tetapi putus sekolah dan berasal dari keluarga kurang mampu.
"Tentunya yang kita dahulukan adalah warga miskin kategori Desa 1 dan 2. Tapi jika ada warga tidak mampu atau putus sekolah, mereka juga tetap diprioritaskan," pungkasnya.