Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Kisah Paminah Meng-Emaskan Indonesia, Sulap Sampah Jadi Cincin hingga Tabungan Emas

Paminah warga kampung Muntal RT5 RW5 Kelurahan Patemon Gunungpati Semarang menunjukan emas hasil dari Tabungan Emas Pegadaian di Bank Sampah Mawar. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Siapa sangka, tumpukan sampah rumah tangga yang sering dianggap tidak berguna justru bisa berubah menjadi harta berharga. Inilah kisah Paminah, warga Kampung Muntal RT 5 RW 5, Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang yang berhasil mendapatkan emas dari sampah. 


Berkat ketekunannya menabung sampah di Bank Sampah Mawar, ia berhasil mengubah sampah plastik, kardus, hingga minyak jelantah menjadi cincin emas, emas batangan, bahkan tabungan emas di Pegadaian.


Awal Bergabung dengan Bank Sampah


Paminah bergabung dengan Bank Sampah Mawar Patemon sejak awal berdirinya, sekitar tahun 2001. Kala itu, atas keprihatinan sampah yang berserakan di kampung dan inisiatif dari kelurahan yang mengajak tiap RT mendirikan organisasi bank sampah demi mengurangi timbunan sampah dan menjaga kebersihan lingkungan.


"Awalnya karena keinginan saya sampah-sampah yang berserakan di kampung, di desa, di jalan raya atau di lokasi itu bisa bersih. Dan sampah plastik dan non-organik kan sebenarnya punya nilai jual kalau dikumpulkan,” kata Paminah kepada diswayjateng.com, Minggu 24 Agustus 2025.


Dari kegiatan sederhana itu, kebiasaan memilah dan menabung sampah mulai tumbuh. Paminah bersama pengurus dan warga lain rutin menyetorkan sampah rumah tangga seperti kardus, botol plastik, bungkus detergen, kemasan bumbu dapur, hingga minyak jelantah.


Dari Sampah Jadi Emas


Awalnya, hasil tabungan sampah dicairkan setahun sekali dalam bentuk uang. Namun, sejak ada sosialisasi dari Pegadaian, nasabah Bank Sampah Mawar diperkenalkan dengan Tabungan Emas. Setiap bulan, hasil penjualan sampah langsung disetorkan ke rekening emas.


"Hasilnya luar biasa, dari sampah saya bisa dapat cincin dua gram, emas Antam satu gram, dan masih ada tabungan emas yang terus bertambah," ungkap Paminah.


Menurutnya, emas lebih menjanjikan dibanding uang tunai. Jika uang cepat habis dipakai kebutuhan rumah tangga, emas justru bisa menjadi investasi jangka panjang yang nilainya terus naik.


"Kalau dulu nabung emas saat harganya Rp750 ribu per gram, sekarang sudah Rp1,8 juta per gram. Keuntungannya terasa sekali," jelasnya.


Painah sendiri sudah merasakan manfaatnya. Ia pernah mendapatkan cincin emas seberat 2 gram, emas batangan 1 gram Antam, dan tabungan emas yang nilainya terus bertambah seiring kenaikan harga emas di pasaran.


"Kalau emas, semakin lama nilainya naik. Dari sampah yang dulunya tidak ada harganya, kini bisa jadi investasi," kata Painah.


Manfaat Ekonomi dan Lingkungan


Selain membantu keluarga menambah pemasukan, kegiatan bank sampah juga memberikan dampak besar bagi lingkungan. Setiap bulan, Paminah bisa mengumpulkan rata-rata 20–30 kilogram sampah. 


Jika dijual, nilainya bisa mencapai Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per bulan, lalu dikonversikan menjadi saldo tabungan emas.

Kini, hampir semua warga RT 5 di Kampung Muntal ikut menabung sampah. Mereka sadar, sampah yang dulu dianggap tak berharga ternyata bisa menjadi sumber cuan dan investasi.


"Sekarang tidak ada lagi warga buang sampah sembarangan. Semua sudah ikut menabung di Bank Sampah Mawar. Sampah jadi bersih, lingkungan terjaga, ekonomi juga meningkat," kata Paminah.


"Bagi saya, sampah itu bukan lagi barang buangan. Sampah adalah tabungan masa depan," tegas Paminah.


Sampah Jadi Berkah, Lingkungan Jadi Bersih


Selain memberikan keuntungan finansial, keberadaan Bank Sampah Mawar juga menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Setiap RT di Patemon kini aktif memilah sampah, sehingga kesadaran warga terhadap kebersihan meningkat drastis.


"Dulu sampah berserakan di jalan. Sekarang warga sudah terbiasa memilah sampah, bahkan anak-anak juga ikut terlibat. Jadi manfaatnya ganda yakni lingkungan bersih, masyarakat untung," tegas Sumiyati.


Program tabungan emas ini juga menarik perhatian dari berbagai pihak karena dianggap sebagai inovasi unik. Selain meningkatkan taraf hidup warga, langkah ini sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).


Lebih jauh, program ini diharapkan bisa direplikasi di daerah lain di Indonesia. Dengan semangat gotong royong, sampah yang dulu menjadi masalah, kini bisa menjadi sumber kesejahteraan sekaligus investasi masa depan.


"Bagi saya, ini sangat membantu keuangan keluarga. Kalau ada sampah, jangan dibuang sembarangan. Kumpulkan, tabung, dan buktikan kalau sampah bisa jadi emas," tutup Painah sambil menunjukkan cincin emasnya.


Ketua Bank Sampah Mawar RW 5 Patemon Sumiyati mengatakan, kerja sama dengan Pegadaian membuka peluang baru. Masyarakat tidak hanya sekadar menyetor sampah untuk ditukar uang tunai, tetapi bisa langsung dikonversi menjadi emas. Emas yang ditabung dicatat dalam buku tabungan resmi Pegadaian.


"Awalnya total tabungan emas yang terkumpul baru 25 gram dari semua nasabah. Ada juga yang menabung pribadi hingga 3 gram. Tapi ini langkah awal yang luar biasa. Bayangkan, dari sampah yang dianggap tidak berharga bisa menjadi investasi masa depan," katanya bangga.


Emas dipilih karena nilainya stabil bahkan cenderung naik setiap tahun. Warga pun diajak untuk lebih bijak dalam memilih instrumen simpanan. 


"Kami sosialisasi tidak hanya di RW 5, tapi juga di seluruh RT di Kelurahan Patemon. Responnya sangat baik. Banyak yang mulai tertarik ikut tabungan emas," tambahnya.


Merubah Pola Pikir Masyarakat, Dari Sampah Jadi Kilauan Emas


Masyarakat pedesaan umumnya lebih memilih uang tunai karena bisa langsung digunakan. Namun, perlahan-lahan pola pikir itu mulai berubah. Melalui pendekatan yang konsisten, Bank Sampah Mawar berhasil meyakinkan warga bahwa menabung emas adalah investasi jangka panjang yang lebih menjanjikan.


"Sampah yang dulunya hanya dibuang sembarangan, kini bisa memberikan nilai ekonomi dan bahkan menjadi tabungan emas. Itu bukti nyata bahwa jika dikelola dengan benar, sampah bukan masalah, melainkan berkah," Papar Sumiyati.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube