SEMARANG — Sebuah tren olahraga baru tengah menghinggapi masyarakat Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang. Olahraga padel, yang merupakan perpaduan antara tenis dan squash, kini kian digemari oleh berbagai kalangan.
Ketua Pengurus Besar Padel Indonesia (PBPI) Jawa Tengah, Arganto Cahyo Wibowo Pangarso, menyebut perkembangan padel di provinsi ini sangat menggembirakan.
Hingga akhir tahun 2025, diproyeksikan sebanyak 80 lapangan padel akan beroperasi di seluruh Jawa Tengah, dengan 44 lapangan di antaranya berada di Kota Semarang.
Jumlah tersebut menunjukkan betapa cepatnya pertumbuhan olahraga yang baru masuk Indonesia beberapa tahun terakhir ini.
“Ini tentu sangat menggembirakan karena sebagai olahraga baru, antusias warga sangat tinggi untuk bermain padel,” ungkap Arganto di sela kegiatan di Mesa Padel Semarang, Sabtu, 13 September 202t.
Target Besar PBPI Jateng: 20 Pengurus Kota/Kabupaten
Tak hanya berhenti pada pembangunan lapangan, PBPI Jawa Tengah juga tengah serius mendorong pembentukan pengurus cabang di tingkat kabupaten/kota. Menurut Arganto, hal ini merupakan syarat utama agar olahraga padel bisa diakui secara resmi oleh KONI Jawa Tengah.
Minimal, harus ada 50 persen + 1 atau 18 pengurus kota/kabupaten yang terbentuk. Saat ini, setidaknya sudah ada 12 daerah yang siap membentuk kepengurusan, terutama di wilayah Semarang Raya dan Solo Raya.
“Kami menargetkan sekitar 20 daerah bisa terbentuk kepengurusannya agar lebih solid. Dengan begitu, pembinaan atlet juga lebih terarah,” jelas Arganto.
Turnamen Padel: Dari Hobi Hingga Ajang Pencarian Bibit
Untuk terus menggairahkan olahraga padel di Jawa Tengah, PBPI Jateng berencana menggelar turnamen padel pada November 2025. Turnamen ini akan dibagi dalam beberapa kategori, mulai dari bronze bagi penghobi, silver untuk pemain yang lebih berpengalaman, hingga kategori pro bagi atlet yang serius menekuni padel.
“Turnamen ini bukan hanya soal prestasi, tapi juga menjadi kesempatan kami memantau bibit atlet muda Jawa Tengah,” tegas Arganto.
Selain kategori umum, turnamen juga akan membuka kompetisi Kelompok Umur (KU) 12, 14, 16, hingga 18 tahun, sebagai ajang regenerasi atlet.
Tantangan: Jam Terbang Masih Kalah dari Bali dan Jakarta
Meski perkembangan lapangan dan komunitas padel di Jawa Tengah terbilang pesat, dari sisi prestasi, atlet Jawa Tengah masih harus banyak belajar dari daerah lain seperti Bali dan Jakarta. Kedua daerah tersebut lebih dahulu mengenal padel dan bahkan sudah mengirimkan atlet ke turnamen internasional.
Namun demikian, Jawa Tengah punya keunggulan tersendiri, yakni banyak atlet muda yang usianya masih berkisar 16 hingga 20 tahun. Potensi besar inilah yang terus didorong PBPI Jateng agar nantinya bisa bersaing di level nasional maupun internasional.
Padel: Olahraga Mudah, Seru, dan Ramah Komunitas
Salah satu faktor yang membuat padel cepat berkembang adalah kemudahan memainkannya. Berbeda dengan tenis yang butuh lapangan luas dan teknik dasar yang cukup rumit, padel relatif lebih mudah dimainkan, bahkan oleh pemula.
“Dengan bergabung di komunitas, tentu bermain jauh lebih mudah dan terjangkau. Apalagi padel adalah jenis olahraga yang fun dan bisa dinikmati oleh semua usia,” tutur Arganto.
PBPI Jateng pun berkomitmen untuk terus menggaet komunitas serta memberikan pelatihan bagi yang membutuhkan. Harapannya, padel tidak hanya menjadi olahraga tren sementara, tetapi berkembang menjadi budaya baru di masyarakat Jawa Tengah.
Optimisme Padel Jawa Tengah
Dengan pertumbuhan lapangan yang pesat, target pembentukan pengurus daerah, dan gelaran turnamen rutin, masa depan padel di Jawa Tengah terlihat cerah. Tahun 2025 bisa jadi titik awal lahirnya atlet-atlet padel potensial dari Jawa Tengah yang siap bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
“Olahraga ini masih sangat baru, tapi dengan antusiasme yang begitu tinggi, kami optimistis padel akan menjadi salah satu cabang olahraga favorit masyarakat Jawa Tengah ke depan,” pungkas Arganto. (SUL)