SEMARANG — Perubahan besar kini dirasakan para nelayan di pesisir pantai utara Kota Semarang, khususnya di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu. Melalui progam Corporate Social Responsibility (CSR), Pertamina Niaga menghadirkan Bengkel Edu-Preneur, sebagai solusi inovastif baru yang menggerakan roda perekonomian warga pesisir diluar sebagai nelayan.
Roda kehidupan tak ada yang menyangka, Muhammad Yasin (43) warga Rt3 Rw 4, Kelurahan Mangunharjo yang telah profesi nelayan sejak 2005, kini dipercaya menjadi penanggung jawab Bengkel Edu-Preneur sejak 2022.
"Kalau melaut masih yang utama, karena kita dilatih untuk jadi nelayan. Bengkel kita buka setelah pulang mencari ikan dari pukul 09.00 wib hingga 16.00 wib," terangnya kepada Diswayjateng.com, Senin 4 Agustus 2025.
Raut wajahnya tak pernah terlihat letih. Setiap harinya, pria yang akrab disapa Yasin ini berangkat melaut pukul 03.00 wib dan kembali pukul 08.00 wib, sebelum melanjutkan aktivitas di bengkel.
"Bengkel dari CSR Pertamina ini menjadi sumber kehidupan baru kami para nelayan. Yang biasanya kita habis melaut pulang dan tidur, sekarang banyak warga nelayan dan pengangguran bisa mendapatkan penghasilan dari bengkel ini," terangnya sembari tersenyum bahagia.
Selain itu, bengkel Edu-Preneur Pertamina yang dibangun ditanah milik Mas Trim yang juga merupakan salah satu dari anggota bengkel ini sangat membatu nelayan Mangunharjo dalam hal perbaikan mesin kapal.
"Sebelum ada bengkel ini, para nelayan kalau memperbaiki mesin perahu harus mencari bengkel ditepi jalan dan sangat jauh. Terutama dalam membeli sparepart yang yang harus pergi ke pusat kota dan Mijen, itupun belum tentu ada," terangnya.
Lebih lanjut, Yasin mengaku dibukanya bengkel Edu-Preneur Pertamina ini semua urusan mesin perahu sangat dipermudah, terutama urusan sparepart. Bengkel ini juga memberikan kemudahan bagi nelayan yang belum memiliki cukup uang untuk membayar jasa servis
"Sejak adanya bengkel ini, kita nelayan hanya bisa mengucapkan syukur dan alhamdulilah, karena semua dipermudah dan dibantu. Selain itu kalau ada yang tidak punya uang, ya tetap kita bantu dulu. Urusan bayar belakangan, yang penting perahu bisa jalan," tegas Yasin, menunjukkan solidaritas antar sesama nelayan.
Kini bengkel Edu-Preneur Pertamina sudah memiliki pelanggan mencapai 100 nelayan dari berbagai daerah seperti Kabupaten Kendal dan Mangkang Wetan Kota Semarang. Semakin berjalannya waktu, bengkel ini tidak hanya memperbaiki mesin perahu dan las saja, melainkan perbaikan sepeda motor dan cuci motor.
Banyak yang menyebut, Yasin sebagai manager di Bengkel Edu-Preneur Pertamina, tugasnya memantau perbaikan mesin yang dilakukan oleh dua mekanik dan mengelola management bengkel.
Dengan mengenakan kaos biru putih bertuliskan MyPertamina Niaga, Yasin sesekali mengecek pekerjaan mekanik yang tengah memperbaiki mesin perahu dan kondisi mesin diatas perahu yang baru dipasang.
"Disini ada dua mekanik, yang khusus memperbaiki mesin perahu dan motor. Sebelumnya kita ikut pelatihan mesih perahu dan diberangkatkan ke Bandung untuk pelatihan mesih kendaraan," terangnya.
Yasin menceritakan, penghasilan dulu selama murni menjadi nelayan sangat pas-pasan karena tangkapan tergantung dengan kondisi cuaca. Dengan datangnya CSR dari Pertamina Niaga ini semua terbantu, baik dari sisi perekonomian warga dan kendala-kendala mesin perahu serta motor milik nelayan.
"Awalnya Pertamina kasih bantuan berupa mesin las, alat perbengkelan dan kompresor. Tahun berikutnya diberi sparepart dan alat tangkap untuk mengembangkan usahanya," kenangnya.
Melihat perkembangan bengkel semakin pesat, Pertamina memberikan bantuan lagi untuk lebih maju dengan membuka bengkel dan cuci motor.
"Melihat perkembangan pesat, Pertamina bantu lagi untuk pengembangan usaha, termasuk bengkel cuci motor. Sekarang bengkel sudah makin ramai," kenangnya penuh syukur.
Bengkel Edu-Preneur Pertamina menjadi salah satu contoh nyata keberhasilan program CSR dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir. Dari sekadar nelayan, kini warga Mangunharjo juga menjadi teknisi, pengusaha kecil, dan mitra pembangunan.
"Yang dulunya hanya pasrah pada hasil laut, sekarang kami punya pilihan lain untuk memperbaiki hidup," pungkas Yasin.
Pengelola Community Development PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Semarang, Aryo Aji Asmoro menyampaikan berdirinya bengkel Edu-Preneur Pertamina Niaga ini menjadi bengkel pertama di Kota Semarang yang memperdayakan nelayan sebagai mekanik andal.
"Bengkel seperti di Mangunharjo ini baru pertama kali di Kota Semarang, sedangkan untuk di Jateng sendiri Bengkel Edu Preneur sudah ada di Cilacap dan Boyolali," terangnya.
Ia menceritakan, sebelum adanya bengkel ini, mayoritas nelayan di Kelurahan Mangunharjo hanya mengandalkan pendapatan dari tangkapan dilaut yang tak menentu.
"Dulu mereka murni melaut. Setelah melaut tidak ada kegiatan lainnya, dan pendapatan juga tergantung cuaca. Terkadang tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan," ujar Aryo.
Dengan melihat kondisi tersebut, Pertamina hadir memberikan solusi berupa pelatihan mekanik bagi nelayan. Awalnya hanya ditujukan untuk service mesin perahu, sedangkan dilapangan kebutuhan masyarakat terhadap layanan perbaikan sepeda motor sangat tinggi.
"Banyak motor dari warga yang keropos terkena rob. Akhirnya bengkel ini berkembang melayani motor juga," tambah Aryo.
Tidak hanya peralatan dan bangunan, Pertamina juga menyelenggarakan pelatihan teknis sesuai dengan latar belakang pendidikan para nelayan.
"Sebagian besar hanya lulusan SD, jadi pendekatan kami sesuaikan. Pelatihan dibuat tidak terlalu teknis, materi yang santai seperti kebiasaan mereka otak-atik mesin sendiri," jelasnya.