BATANG — Sudah dua pekan berlalu sejak laporan dugaan tindakan asusila terhadap sejumlah siswi SD di sebuah tempat pengajian di Kabupaten Batang dilayangkan ke pihak kepolisian.
Namun, hingga kini, keluarga korban menyebut belum ada perkembangan yang berarti dari penanganan Polres Batang.
Sejumlah orang tua korban mulai gerah.
“Kami menunggu tindak lanjut dari Polres Batang, jangan sampai terlalu lama, kasihan anak-anak yang jadi korban,” ujar W, ibu salah satu korban, dengan nada kecewa, Selasa 24 Juni 2025.
Ia mengungkapkan bahwa anaknya masih mengalami trauma berat.
“Setiap dengar nama pelaku, anak saya langsung ketakutan. Kami butuh keadilan, bukan janji,” lanjutnya.
Desakan ini muncul bukan tanpa alasan.
W menuturkan bahwa kejadian tersebut terjadi di lingkungan yang dianggap aman: tempat mengaji yang hanya berjarak beberapa rumah dari kediaman mereka.
“Saya pikir, pelaku cuma becanda karena dia tetangga kami. Tapi ternyata bukan cuma anak saya yang jadi korban,” ungkapnya getir.
Kecurigaan bermula dari pengakuan anaknya yang mendadak enggan berangkat mengaji.
“Katanya jijik, sudah dipegang-pegang. Hati saya langsung hancur dengarnya,” kata W sambil menahan air mata.
Tak lama berselang, dua anak lain yang juga belajar di tempat yang sama, mengungkapkan cerita serupa.
“Cerita mereka saling menguatkan. Saya yakin ini bukan sekali dua kali,” ujarnya.
Dugaan itu diperkuat dengan rekaman CCTV yang memperlihatkan interaksi mencurigakan antara korban dan terduga pelaku.
“Memang hanya satu anak yang terekam, tapi isi pengakuan tiga anak itu mirip semua,” jelas W.
Parahnya lagi, pelaku diduga memberikan uang Rp5.000 setiap kali usai melakukan tindakan tak senonoh.
“Modusnya ngasih uang, biar anak-anak diam,” beber W.
AKP Imam Muhtadi, Kasatreskrim Polres Batang, saat dikonfirmasi, menegaskan bahwa pihaknya serius menangani kasus ini.
“Benar, kami sudah menerima laporan dan langsung melakukan gelar perkara,” ucapnya di Mapolres, Selasa 24 Juni 2025.
Menurutnya, proses pemeriksaan sudah berjalan, termasuk memeriksa korban dan sejumlah saksi.
“Kami juga periksa warga sekitar. Salah satu korban bahkan kabur saat hendak diraba pelaku,” terangnya.
Soal identitas pelaku, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman.
“Dugaan kuat, pelakunya memang tetangga korban. Masih kami dalami apakah dia benar seorang guru ngaji,” ujarnya.
Namun hingga kini, belum ada penetapan tersangka maupun penahanan terhadap pelaku.
Sebelum melapor ke kepolisian, keluarga korban sempat berinisiatif menyelesaikan perkara ini secara kekeluargaan di tingkat desa.
Namun, keluarga pelaku mangkir dari undangan pertemuan tersebut.
“Sudah kami ajak musyawarah di balai desa, tapi mereka tidak hadir. Terpaksa kami bawa ke jalur hukum,” tegas W.
Keluarga besar korban kini hanya berharap satu hal: keadilan.
“Bukan cuma untuk anak saya, tapi untuk semua korban dan agar tidak ada korban lain lagi,” pungkasnya.