Pekalongan — Sebanyak 45 siswa angkata 9 resmi diwisuda dari Rumah Batik TBIG pada Kamis, 9 Oktober 2025. Acara wisuda berlangsung di Rumah Batik TBIG, Jalan Kampung Singgah RT 12 RW 4, Kelurahan Gumawang, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan.
Wisuda ini menjadi penanda keberhasilan program Corporate Social Responsibility (CSR) Tower Bersama Group (TBG) dalam melahirkan generasi muda kreatif dan mandiri di bidang batik.
Dari total 51 siswa, sebanyak 35 peserta berasal dari kelas reguler A, 8 siswa dari kelas B disabilitas, serta 10 siswa dari kelas kuliner.
Kelas kuliner sendiri merupakan program baru di tahun ini dan menjadi angkatan pertama yang berhasil meluluskan hampir seluruh pesertanya.
Lie Si An, Chief of Business Support Officer TBIG, menyampaikan bahwa kelulusan para siswa merupakan bukti nyata komitmen Tower Bersama Group dalam mendukung keberlanjutan program CSR di bidang pelestarian budaya batik.
“Ini menunjukkan komitmen Tower Bersama Group terhadap keberlanjutan program CSR Rumah Batik yang telah berjalan sejak 2014. Kami bahagia karena sebagian wisudawan kini sudah menjadi wirausaha mandiri dan mampu berkarya,” ujar Lie Si An kepada Diswayjateng.com.
Lie juga menambahkan bahwa beberapa alumni kini telah menjadi mitra usaha Rumah Batik TBIG. Salah satunya adalah Purwoko, alumnus yang kini menjadi desainer sekaligus produsen batik.
"Batik yang saya gunakan ini juga merupakan hasil karya dari wisudawan," ucapnya dengan bangga.
Selain itu, Tower Bersama Group juga menjalin kolaborasi dengan Indonesian Fashion Chamber (IFC) untuk mengembangkan desain batik modern yang dapat diterima di pasar nasional hingga internasional.
"Program ini melibatkan 10 hingga 12 siswa yang mendapatkan pelatihan langsung dari desainer profesional tingkat nasional," ujar Lie
Kepala Kantor Pelayanan Koperasi Bangun Bersama (KBB) Pekalongan, Nanang Tri Purwanto, menegaskan bahwa Rumah Batik TBIG memiliki visi menjadi pusat pendidikan batik yang inklusif dan ramah lingkungan di Indonesia.
“Kami menjalankan pendidikan batik yang terstruktur dan terprogram, menyediakan jalur inkubasi usaha, serta membangun kemitraan strategis dengan berbagai pihak agar siswa bisa berkembang,” ungkap Nanang.
Ia menjelaskan program pelatihan di Rumah Batik TBIG meliputi kelas reguler A dan B, serta kelas kuliner. Kelas reguler A diikuti 30 peserta dan meluluskan 27 siswa, dengan kompetensi meliputi desain, pewarnaan, dan penyempurnaan produk batik.
Untuk kelas reguler B diikuti 10 peserta dan meluluskan 8 siswa berkebutuhan khusus.
Sedangkan untuk kelas kuliner diikuti 11 peserta dan meluluskan 10 siswa, dengan fokus pada pelatihan pengolahan, pengemasan, dan pemasaran produk kuliner khas daerah.
Nanang menambahkan, setiap siswa yang telah lulus akan mengikuti program inkubasi usaha (pemgembangan usaha), di mana mereka berkesempatan memproduksi dan memasarkan hasil karya melalui Koperasi Jasa Bangun Bersama.
"Hingga tahun 2025, sebanyak 35 alumni telah berhasil mengikuti program inkubasi dengan dukungan modal usaha mencapai Rp450 juta," ujar Nanang.
Program inklusif ini dirancang tidak hanya untuk melestarikan warisan budaya batik, tetapi juga menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan anak muda, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus.