SRAGEN — Memasuki musim kemarau, gas LPG 3kg atau biasa disebut gas melon langka di Kabupaten Sragen.
Warga Sragen kini dibuat pusing oleh kelangkaan gas Elpiji 3 kg yang sudah berlangsung beberapa waktu.
Kebutuhan pokok rumah tangga ini tiba-tiba menjadi barang langka, bahkan di tingkat pangkalan resmi. Imbasnya, harga di pasaran pun melambung jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Yang jelas, fenomena ini tidak hanya menyulitkan masyarakat, tetapi juga mengancam usaha kecil yang sangat bergantung pada gas bersubsidi ini.
Pemerintah dan pihak terkait dituntut untuk segera turun tangan dan memastikan ketersediaan serta harga gas kembali normal.
Kelangkaan ini terasa hampir merata di berbagai wilayah Sragen. Di Kecamatan Karangmalang, misalnya, pantauan di Kroyo dan Puro menunjukkan kondisi yang sama. Sulitnya mencari gas melon mulai dikeluhkan.
Bahkan, di Pangkalan SPBU Taman Asri, petugas hanya bisa menjanjikan stok baru akan datang pada Senin besok. Kondisi serupa juga terlihat di Gambiran, Kelurahan Sine, Kecamatan Sragen, di mana sejumlah pangkalan gas tak ragu memasang tulisan "Gas Habis" sebelum pembeli sempat bertanya.
Jika pun ada, gas Elpiji 3 kg hanya bisa didapatkan di tingkat pengecer dengan harga yang mencekik, mencapai Rp 24.000 per tabung, jauh di atas HET Rp 18.000.
Demikian di wilayah Kecamatan Tangen, konsumen harus rela membeli dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 23.000 hingga Rp 25.000. "Sulit, tapi ya masih ada yang jual," ujar Sri, seorang konsumen di Kecamatan Tangen.
Sementara itu, kondisi yang lebih parah terjadi di Gemolong dan Kalijambe. Di kedua wilayah ini, harga gas Elpiji 3 kg bisa mencapai Rp 25.000 hingga Rp 27.000 per tabung. Harga selangit ini pun hanya berlaku jika barangnya kebetulan ada.
Kelangkaan gas Elpiji 3 kg ini menimbulkan dugaan adanya permainan di tingkat distribusi. Sempat beredar isu bahwa gas untuk wilayah Sragen dialihkan ke daerah lain, meskipun belum ada konfirmasi resmi.