Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Pertumbuhan Koperasi Kelurahan Merah Putih di Kota Semarang Masih Terkendala Permodalan

Sejak dilaunching Presiden RI
Koperasi Kelurahan Merah Putih di Kota Semarang masih terkendala dana. (Ilustrasi AI)

SEMARANG — Sejak resmi dilaunching Presiden RI Prabowo Subianto pada 21 Juli 2025 lalu, keberadaan Koperasi Kelurahan Merah Putih di Kota Semarang belum sepenuhnya berjalan optimal. Dari total 177 kelurahan, baru 7 koperasi yang tercatat aktif beroperasi.


Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan bahwa koperasi harus lebih proaktif dalam menarik minat masyarakat untuk bergabung. Menurutnya, keberhasilan koperasi sangat ditentukan oleh jumlah anggota.


"Koperasi itu dari anggota untuk anggota. Kalau anggotanya sedikit, modal juga terbatas. Maka harus diperbanyak melalui pemasaran yang baik. Ke depan, Dinas Koperasi dan UMKM akan memberikan pelatihan pemasaran untuk memperkuat kelembagaan koperasi," ujar Agustina di Balai Kota Semarang, Senin 25 Agustus 2025.


Pemerintah Kota Semarang berkomitmen mempercepat pertumbuhan koperasi di seluruh kelurahan. Program ini diharapkan mampu menjadi wadah pemberdayaan ekonomi warga berbasis gotong royong.


"Setiap kelurahan memiliki potensi yang berbeda. Ada yang berbasis nelayan, ada yang UMKM, ada pula yang bergerak di sektor perdagangan. Tinggal bagaimana koperasi ini dikelola agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat," pungkas Agustina.


Salah satunya di Kecamatan Semarang Utara, dari 9 Kelurahan baru dua yang sudah beroperasi, yakni di Kelurahan Tanjung Mas dan Dadapsari. Selebihnya masih terkendala dengan permodalan.


Camat Semarang Utara, Siwi Wahyuningsih, mengakui jika kendala terbesar yang dihadapi koperasi di wilayahnya adalah soal permodalan. Di Kelurahan Tanjung Mas misalnya, koperasi nelayan sudah mulai berjalan dengan dukungan anggota, sementara di Kelurahan Dadapsari koperasi berbasis sembako mulai aktif. Namun dari total 9 kelurahan di Semarang Utara, baru dua koperasi yang beroperasi.

"Permodalan menjadi tantangan utama. Kami masih melakukan sosialisasi dan rekrutmen anggota. Bentuk usaha koperasi sementara lebih banyak bergerak di sektor sembako, karena simpan pinjam belum di-approve pusat," jelas Siwi.


Hal senada disampaikan R. Wisnu Effendy, Lurah Pindrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah. Ia menyebut koperasi di wilayahnya masih berjalan dalam skala kecil dengan mengandalkan potensi UMKM lokal.


"Kalau di Pindrikan Lor, kami fokus ke UMKM. Jadi koperasi ini sifatnya masih kecil, lebih ke kegiatan bersama warga. Anggota berasal dari RT, RW, hingga pelaku UMKM. Harapannya, koperasi bisa membantu akses permodalan dan membuka pasar bagi produk lokal," terang Wisnu.


Wisnu menambahkan kendala yang dialami kelurahab karena masih bingung karena setiap daerah potensinya berbeda-beda. Kebetulan di Pindrikan Lor memiliki potensi UMKM. 


"Kebetulan di pin di pin lor ini kan potensinya UMKM, dan kami memang menjauhi dari yang namanya koeperasi simpan pinjam," terangnya.


Ia menambahkan, kantor Koperasi Kelurahan Merah Putih di Pindrikan Lor menempati gedung pertemuan di Jalan Abimanyu. Saat ini, semua RW, RT, Masyarakat UMKM semua harus ikut dengan simpanan pokok ditetapkan sebesar Rp50 ribu per orang dengan iuran wajib Rp10 ribu per bulan.


"Semua harus ikut, nanti dengan koperasi kan secara garis besar mereka juga bantu. Untuk simpanan pokok per orang Rp50 ribu dan iuran wajib per bulan setiap orang wajib memberikan Rp10 ribu," terangnya. 


Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube