SEMARANG — Peristiwa percobaan penculikan menimpa seorang siswi kelas 6 SD Negeri Pakintelan 2, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, pada Jumat 15 Agustus 2025.
Korban berinisial H, berhasil menyelamatkan diri setelah berusaha melawan saat pelaku mencoba membekap dan memasukkannya ke dalam mobil.
Kepala Sekolah SDN Pakintelan 2, Slamet Hari Pambudi, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, aksi itu terjadi sekitar pukul 11.10 WIB, tak lama setelah korban pulang sekolah.
"Korban sudah perjalanan pulang, jarak sekolah ke rumahnya sekitar 1–2 kilometer dan memang jalannya sepi. Saat itu ada mobil berhenti, pura-pura sedang diperbaiki. Pelaku kemudian dengan paksa mencoba membekap dan memasukkan korban ke dalam mobil. Beruntung, korban bisa melawan dan meloloskan diri,” jelas Slamet kepada diswayjateng.com, Rabu. 20 Agustus 2025
Dari keterangan pihak sekolah, kronologi kejadian berlangsung singkat, korban berjalan kaki pulang dari sekolah di tengah perjalanan, sebuah mobil berhenti di jalan sepi. Pelaku yang beraksi seorang diri berpura-pura memperbaiki mobil.
Tiba-tiba, pelaku mendekati korban, membekap, lalu berusaha memasukkannya ke dalam mobil. Korban berhasil membuka pintu mobil dan melarikan diri ke arah yang lebih aman.
"Korban masih sempat mengalami bekas cakaran di wajah dan cekekang dengan bekas luka dilehernya. Namun sudah mendapatkan perawatan medis dan kondisi kini stabil. Pada Selasa, korban bahkan sudah kembali masuk sekolah dengan pendampingan khusus agar tidak trauma," Ujar Slamet.
Pasca-kejadian, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kelurahan, Dinas Pendidikan, hingga Kepolisian. CCTV di sekitar jalur pulang korban juga telah diperiksa dan dilaporkan ke pihak berwenang.
"Kami sudah melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak. Dinas Perlindungan Anak juga ikut mendampingi agar korban tidak mengalami trauma. Saat ini kasus dalam penyelidikan kepolisian," jelas Slamet.
Pihak sekolah juga memperketat pengawasan terhadap siswa, terutama pada jam pulang sekolah. Guru-guru mendapat instruksi untuk memastikan anak-anak dijemput orang tua atau wali.
"Jika ada siswa yang tidak dijemput, guru wajib mengawasi hingga orang tua datang. Kami juga sudah memberikan himbauan resmi kepada seluruh orang tua agar lebih ketat dalam mengatur antar-jemput anak," tegasnya.
Menurut Slamet, sebelum insiden ini pihak sekolah sebenarnya sudah menerapkan konsep Sekolah Ramah Anak dengan sosialisasi rutin mengenai keamanan. Namun, setelah kejadian percobaan penculikan, langkah pengawasan semakin diperketat.
"Kami mengumpulkan paguyuban orang tua dan melibatkan tokoh masyarakat untuk memperkuat sistem keamanan anak-anak. Babinsa juga melakukan sosialisasi langsung kepada siswa agar lebih waspada," ujarnya.
Ia menambahkan, peristiwa ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak agar lebih peduli pada keselamatan anak-anak, terutama di jalur pulang yang sepi.
Meski sempat mengalami luka ringan, kondisi korban dinyatakan baik. Dengan dukungan psikologis dari Dinas Pendidikan dan Perlindungan Anak, korban sudah bisa kembali bersekolah.
"Anak tersebut sudah kami dampingi terus-menerus. Harapannya, tidak ada trauma berkepanjangan yang dialami. Kami ingin anak tetap merasa aman di lingkungan sekolah," kata Slamet.
Hingga berita ini dibuat, kepolisian masih melakukan penyelidikan dengan memeriksa CCTV serta keterangan saksi di sekitar lokasi. Pihak sekolah berharap pelaku segera ditangkap agar kejadian serupa tidak terulang.
"Semua bukti CCTV sudah kita serahkan kepihak kepolisian, kita berharap kasus ini segera terpecahkan," ujarnya.