Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Pasar Johar yang Kian Sepi, Pedagang Terhimpit Gempuran Online dan Kenangan Masa Jaya

Pedagang menunggu pengunjung di lapak Pasar Johar Semarang yang kini semakin tergerus maraknya penjualan online. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Riuh saling sahut tawar menawar barang kini hampir tidak pernah terderngar lagi di Pasar Johar, yang dulu dikenal sebagai pusat perdagangan terbesar di Jawa Tengah, kini semakin sayup terdengar.


Jejak kejayaan pasar yang berdiri sejak tahun 1939 oleh arsitek Belanda Thomas Karsten itu pelan-pelan tergeser, bukan hanya oleh maraknya pusat perbelanjaan modern, melainkan lebih kuat lagi oleh derasnya arus perdagangan digital atau online.


Ketua Paguyuban Pedagang Johar dan Perdagangan (PPJP) Rayon Pasar Johar, Surachman, mengisahkan getirnya perubahan zaman yang membuat banyak pedagang kecil di Johar kelimpungan.


“Kalau mall itu dampaknya ada, tapi tidak sebesar penjualan online. Justru pedagang paling khawatir dengan online. Itu pengaruhnya besar sekali,” ujar Surachman, Kamis, 25 September 2025.


Pria yang berjualan jenis tekstil di Johar Tengah mengaku persaingan dengan mal sebenarnya bukanlah masalah besar.


"Segmen pasar Johar dan mal jelas berbeda itu yang membuat pedagang masih bisa bertahan hingga sekarang," ujarnya.


Namun, kehadiran platform belanja online dengan harga yang jauh lebih murah membuat pelanggan beralih secara masif.


“Kalau di pasar barangnya memang lebih terjamin kualitasnya, tapi masyarakat sekarang hanya melihat harga. Yang penting murah, meski kualitas kadang kalah. Itu yang membuat pasar makin terpuruk,” kata Surachman.


Dengan wajah yang lesu, ia menceritakan Pasar Johar sudah berkali-kali menghadapi cobaan besar. Mulai dari kebakaran pada 2015 yang meluluhlantakkan bangunan cagar budaya peninggalan Belanda itu, hingga hantaman pandemi Covid-19.


Sejak saat itu, grafik penjualan terus menurun tajam. Surachman menyebut, rata-rata omzet pedagang turun 60 hingga 70 persen.


“Yang bertahan paling tinggal 30 sampai 40 persen dari sebelumnya. Banyak pedagang akhirnya menutup lapaknya karena modal habis,” tuturnya.

Bahkan, sekitar 60 persen kios yang ada kini sudah tidak lagi beroperasi. Sebagian pedagang memilih pindah, sebagian lain menyerah total.


Suasana yang paling dirindukan para pedagang adalah saat memasuki bulan Ramadan hingga jelang perayaan Hari Raya Idul Fitri.


Dulu, Ramadan adalah puncak kejayaan pedagang Johar. Sejak jauh-jauh hari sebelum puasa, pasar sudah dipadati pembeli.


Suasana malam hari menjelang Lebaran begitu ramai, hampir setiap sudut penuh transaksi. Namun, kini suasana itu hanya tinggal cerita.


“Sekarang paling ramai cuma H-7 Lebaran, itupun hanya kebutuhan pokok. Kalau dulu bisa satu bulan penuh ramai, sekarang hanya seminggu saja. Penjualannya turun sampai 60 persen juga,” kenang Surachman.


Kondisi yang terus merosot juga berdampak pada retribusi pasar yang ikut menurun. Pedagang berharap ada perincian dan kebijakan baru dari pemerintah kota agar mereka tidak semakin terbebani.


“Kalau begini terus, banyak pedagang yang tidak bisa menutup kebutuhan sehari-hari. Modal habis, jualan tidak laku. Akhirnya ya berhenti,” kata Surachman.


Menurutnya, Pemerintah Kota Semarang sudah berusaha membantu pedagang, namun langkah itu masih parsial dan belum menyentuh akar persoalan. Upaya menghubungkan Pasar Johar dengan jalur wisata kota tua, Masjid Kauman, hingga Gereja Blenduk juga dinilai belum maksimal.


“Kami berharap ada sinergi. Kalau wisatawan bisa diarahkan ke Johar, mungkin ada peluang pasar kembali hidup. Tapi sampai sekarang program itu belum berjalan maksimal,” katanya.


Pasar Johar bukan sekadar pusat ekonomi, melainkan juga bagian dari identitas Semarang. Namun kini, denyut nadi itu semakin melemah. Surachman dan ratusan pedagang lain hanya bisa berharap, pemerintah dan masyarakat mau kembali melirik Johar, bukan sekadar lewat, apalagi melupakannya.


“Kalau tidak ada perubahan, Johar tinggal kenangan. Kami hanya bisa bertahan sebisa mungkin, sambil berharap ada kebijakan yang benar-benar berpihak pada pedagang kecil,” pungkasnya.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube