Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Rindu Riuh yang Hilang: Pasar Johar Kini Sepi Pengunjung dan Sisakan Cerita Kejayaan

Salah satu pedagang Pasar Johar menunggu pembeli yang kini kian menurun usai kembali diresmikan pada 2022. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Suasana riuh dan sesaknya pengunjung di Pasar Johar Semarang kini hanya tinggal cerita. Ingatan itu kembali sebelum api melahap bangunan cagar budaya peninggalan Belanda tersebut pada tahun 2015 silam.


Dulu, Pasar Johar menjadi pusat perdagangan terbesar di Jawa Tengah. Pedagang dari berbagai daerah datang mengadu nasib dengan menjual beragam kebutuhan, mulai dari pakaian, buku, hingga bahan pokok dan sembako.


Kini kondisinya jauh berbeda. Lorong-lorong Pasar Johar nyaris lengang. Banyak pedagang merindukan masa-masa ketika pengunjung memadati pasar setiap hari. Bahkan, saat momen khusus seperti bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri, keuntungan pedagang bisa berlipat ganda.


Mariana (60), seorang pedagang kelontong di Pasar Johar, tak kuasa menahan haru saat mengenang masa kejayaan pasar tradisional terbesar di Jawa Tengah itu. Baginya, hiruk pikuk pembeli yang dahulu memenuhi setiap sudut pasar kini tinggal kenangan.


“Dulu itu ramai sekali, sesak. Setiap hari ada saja orang yang belanja. Ada yang beli buat oleh-oleh, ada juga yang kulakan. Tapi itu dulu, sebelum kebakaran tahun 2015,” tutur Mariana, Kamis, 25 Septembet 2025.


Ia masih ingat betapa sulitnya bergerak di dalam pasar karena ramainya pengunjung. “Kalau ada kunjungan wisata, tambah ramai lagi. Waktu itu rasanya hidup sekali, setiap hari ada pemasukan,” kenangnya.


Namun, kebakaran hebat 2015 mengubah segalanya. Ratusan pedagang kehilangan lapak, termasuk Mariana yang sudah berjualan sejak usia remaja.


“Saya sudah jualan di sini lebih dari 40 tahun. Dari umur belasan sampai sekarang 60 tahun. Dulu ya di Johar terus. Setelah kebakaran, kami pindah ke pinggir jalan, lalu direlokasi,” ujarnya.

Setelah direlokasi dan diresmikan kembali oleh Presiden Joko Widodo, Mariana mengakui ada sedikit peningkatan aktivitas. Namun, kondisi itu tak pernah bisa mengembalikan kejayaan seperti dulu.


Beberapa kali Pasar Johar sempat ramai, misalnya saat ada tren TikTok yang menarik pengunjung. “Ramai cuma sebentar, setelah itu kembali sepi,” katanya.


Menurut Mariana, salah satu penyebab sepinya pembeli adalah persaingan dengan belanja online. “Sekarang orang lebih banyak belanja online. Pedagang di pasar kebanyakan sudah sepuh, jadi sulit ikut jualan online. Makanya kalah saing,” jelasnya.


Meski hidup dalam pasang surut, Mariana tetap setia berjualan kelontong. Harapannya sederhana: Pasar Johar kembali hidup seperti dulu.


“Keinginannya ya pasar bisa ramai lagi. Johar itu dulu pusatnya, semua kulakan masuknya ke Johar. Pengennya ya seperti itu lagi. Tapi bingung juga harus mulai dari mana,” katanya penuh harap.


Bagi warga Semarang, Pasar Johar bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah simbol kehidupan kota, pusat denyut ekonomi rakyat kecil, sekaligus bagian dari sejarah panjang Semarang.


Mariana berharap Johar bisa kembali menjadi kebanggaan.


“Ya, kami ini pedagang kecil cuma bisa berharap. Yang penting tetap bertahan. Semoga suatu saat Johar bisa kembali berjaya seperti dulu,” pungkasnya.(SUL)

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube