SEMARANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang segera meluncurkan Lincah, sebuah sistem digital berbasis website yang digunakan untuk memantau dan menganalisis penyebaran 14 jenis penyakit di Kota Semarang. Inovasi ini menjadi langkah nyata menuju sistem kesehatan kota yang tangguh, terukur, dan berbasis data.
Peluncuran platform Lincah disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam, dalam acara Santap Siang Ngobrol Sehat dengan Wartawan (S-Dawet) di Hotel Pandanaran, Kota Semarang, Selasa 21 Oktober 2025.
“Hari ini Kota Semarang memiliki Lincah dengan lepanjangan Kolaborasi Lintas Sektoral Berbasis Peta Risiko Wilayah untuk Ketahanan Kesehatan Kota Semarang ini merupakan gabungan dua kegiatan, yaitu peta risiko kesehatan dan intervensi wilayah rentan. Ada 14 item penyakit yang bisa dipantau, mulai dari TBC, DBD, diabetes, hipertensi, hingga kematian ibu dan bayi,” ujar Hakam.
Memurut Hakam, sistem Lincah akan menampilkan dashboard interaktif berisi data penyebaran penyakit hingga tingkat kelurahan.
Nantinya, masyarakat dan tenaga kesehatan dapat melihat area dengan risiko tinggi melalui peta berwarna merah, oranye, dan kuning.
“Wilayah dengan warna merah, oranye, dan kuning adalah daerah yang harus mendapatkan intervensi. Intervensi ini dilakukan bersama-sama oleh masyarakat, mulai dari RT, RW, lurah, hingga kader kesehatan,” jelasnya.
Selain itu, Lincah juga memuat data hasil intervensi, seperti kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, pola hidup sehat, hingga tingkat keberhasilan penurunan kasus penyakit di tiap wilayah.
Hakam menegaskan bahwa sistem Lincah tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantauan, tetapi juga penggerak perubahan perilaku masyarakat menuju hidup sehat.
Ia mengajak warga untuk melakukan gerakan sederhana seperti membuka jendela dan pintu rumah setiap pagi, membersihkan lingkungan, serta beraktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari. Langkah ini terbukti dapat menurunkan risiko penyakit seperti TBC, DBD, hingga gangguan pernapasan.
“Kalau udara bisa masuk, rumah bersih, nyamuk dan jentik akan berkurang. Dengan begitu, risiko penyakit menular bisa ditekan,” tegasnya.
Dinkes Semarang juga menyiapkan strategi komunikasi berkelanjutan agar pesan kesehatan terus sampai ke masyarakat.
Menurut Hakam, selama ini banyak program kesehatan berhenti di tahap launching tanpa keberlanjutan.
“Kita ingin ada sustainability. Karena itu, kita punya program 7 Bintang dan Blokosuto untuk memperkuat komunikasi dan edukasi kesehatan masyarakat,” paparnya.
Program 7 Bintang berfokus pada deteksi dini risiko penyakit berbasis usia dan kondisi, misalnya skrining anemia pada perempuan usia produktif. Sementara Blokosuto merupakan wadah pertukaran praktik baik antarwilayah dalam penanganan kesehatan masyarakat.
“Contohnya ada RW di Kelurahan Randusari yang sukses menurunkan kasus TBC. Keberhasilan ini kemudian bisa ditiru RW lain melalui program Blokosuto,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Hakam juga menyoroti pentingnya integrasi kebijakan lintas sektor berbasis kesehatan. Dinkes mendorong konsep “Health in All Policy” dan “15-Minute City”, di mana pembangunan kota memperhatikan aspek kesehatan masyarakat.
“Pembangunan di Semarang ke depan harus berpijak pada sisi kesehatan. Misalnya transportasi ramah lingkungan, ruang terbuka hijau, dan penataan tata ruang yang mendukung aktivitas fisik warga,” kata Hakam.
Konsep 15-Minute City bertujuan agar warga dapat menjangkau tempat kerja, pusat belanja, dan fasilitas publik cukup dengan berjalan kaki 15 menit, tanpa bergantung pada kendaraan bermotor. Ini sekaligus menjadi strategi menekan penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, dan diabetes.
Dari hasil survei Dinkes mencatat 61 persen warga dewasa di Kota Semarang memiliki kadar kolesterol tinggi, yang berpotensi memicu penyakit jantung koroner dan stroke. Sementara 41 persen remaja menunjukkan risiko tinggi penyakit tidak menular.
“Kalau tidak kita tekan dari sekarang, maka lima tahun ke depan kasus penyakit kronis akan meningkat tajam,” kata Hakam mengingatkan.