SEMARANG — Suara mesin jahit bersahutan dari sebuah rumah sederhana di Kampung Sedayu, RT 2 RW 1, Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Belasan penjahit tampak sibuk menyusun pola, menjahit, dan menyetrika seragam sekolah.
Di sinilah Najma Konveksi, milik Nung Istri Arwanti atau akrab disapa Nunung berdiri dan tumbuh selama lebih dari satu dekade.
Berawal dari Otodidak, kini Nunung bisa memperkerjakan 11 karyawan dan beberapa anak yang magang ditempatnya. Hingga saat ini mendekati masuk sekolah ajaran baru Nunung mulai banyak pesanan seragam sekolah dari awal Februari lalu.
"Kalau untuk seragam sekolah, biasanya pesanan mulai ramai sejak bulan Februari," ujar Bu Nunung kepada wartawan diswayjateng.com saat ditemui di rumah produksinya.
"Puncaknya di bulan Juni dan Juli, menjelang tahun ajaran baru. Seringkali yang datang terakhir itu untuk melengkapi pesanan, misalnya ada anak yang ukurannya lebih besar atau seragam belum lengkap," tambahnya.
Menurutnya, setiap sekolah memiliki kebutuhan berbeda. Untuk sekolah dasar, bisa mencapai 120 set seragam lengkap.
"Kalau satu anak lima item – merah putih, olahraga, pramuka, baju adat, dan identitas – bisa sampai 700 potong total hanya dari satu sekolah," terangnya.
Untuk memenuhi lonjakan pesanan, Najma Konveksi tak hanya mengandalkan tenaga dari rumah produksinya, melainkan melimpahkan ke konveksi rekanannya di Sumowono dan Klaten.
"Kalau overload, kami kerja sama dengan mitra di Sumowono dan Klaten. Mereka ambil borongan seminggu sekali, bisa 200 potong," jelas Nunung.
Saat ini, Najma Konveksi telah melayani sekitar 50 sekolah dari berbagai jenjang, dari TK, SD, hingga SMP, termasuk beberapa boarding school di Semarang dan sekitarnya.
Soal harga, Nunung menyebutkan tarif jahitannya tetap kompetitif. “Baju olahraga paling murah Rp55 ribu sedangkan untuk seragam lengkap mulai Rp75 ribu sampai Rp145 ribu tergantung bahan dan ukuran," tuturnya.
Ia menambahkan, pihaknya hanya menerima pesanan pre-order dan tidak menerima jasa jahitnya saja.
"Kami tidak menerima jasa jahitnya saja, jadi semua bahan kami yang belanjakan. Sehingga customer datang bawa desain dan motif baru kami buatkan," tegasnya.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, jika kain dibawa dari pelanggan, akan menyulitkan pihak konveksi.
"Pelanggan sekarang makin kritis, kalau kita putuskan sendiri, mereka bisa kecewa. Jadi harus atas persetujuan mereka kalau bahan yang diinginkan customer,"
Najma Konveksi bukan usaha warisan atau hasil pendidikan formal di dunia tekstil. Nunung memulai semuanya dari nol, hanya berbekal kursus menjahit biasa.
"Dulu saya ibu rumah tangga, belajar otodidak. Sekarang sudah punya 11 karyawan, semua dari sekitar sini," ucapnya dengan bangga.
Di luar musim seragam sekolah, Najma Konveksi juga menerima pesanan gamis, koko, hingga kaos untuk kegiatan kampus dan perusahaan.
"Biasanya dari Himpunan Mahasiswa atau perusahaan outsourcing di awal tahun. Ada juga dari rumah sakit besar seperti RS Karyadi dan RSWN," tambahnya.
Meski berawal dari rumah, Najma Konveksi telah menjelma menjadi pelaku usaha konveksi lokal yang tangguh dan menjadi tulang punggung ekonomi warga sekitar. Usaha rumahan ini tak hanya menjahit pakaian, tapi juga menjahit harapan.