SEMARANG — Menyikapi banyaknya keluhan masyarakat terkait mesin pompa yang rusak dan berdampak pada lambatnya penanganan banjir di sejumlah titik, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti memberikan penjelasan dan memastikan langkah konkret sedang dilakukan untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Menurut Agustina, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah berkoordinasi secara intensif dengan Balai Pengelolaan Wilayah Sungai (BPWS).
Namun, perbedaan sistem dan tahapan penganggaran antara pemerintah pusat dan daerah menyebabkan proses perbaikan berjalan lambat.
“Teman-teman PU dan BPBD sudah berkoordinasi langsung dengan BPWS. Hanya saja, proses penganggaran di pusat berbeda dengan kita. Sekitar tujuh bulan lalu mereka sudah menindaklanjuti keluhan soal pompa yang rusak terus. Sekarang memang sudah diganti menggunakan tenaga listrik, tapi prosesnya cukup lama,” jelas Agustina saat ditemui di kantor Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Senin 27 Oktober 2025.
Ia menambahkan bahwa saat ini pompa baru telah tiba dan instalasi sudah dipasang. Namun, proses penyediaan daya listrik masih menjadi kendala teknis yang sedang diselesaikan. Meski begitu, Agustina memastikan bahwa uji coba sistem baru akan dilakukan dalam waktu dekat.
“Pompanya sudah datang, instalasi sudah dipasang. Hanya saja tenaga listriknya belum siap. Tapi janjinya minggu depan sudah bisa diuji coba. Mudah-mudahan semua berjalan lancar,” ujarnya.
Agustina mengungkapkan, dalam uji coba awal, salah satu pompa dengan kapasitas 1.000 liter per detik baru mampu beroperasi sekitar 300 liter per detik.
Meski demikian, hasil tersebut sudah menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya ketika sebagian pompa tidak dapat berfungsi sama sekali.
“Kalau semua pompa BPWS bisa beroperasi penuh, saya yakin banjir di Semarang akan jauh lebih cepat surut,” tegasnya.
Sebagai langkah jangka pendek, Agustina menginstruksikan Dinas PU untuk menyiapkan opsi pembelian pompa tambahan, baik berkapasitas besar maupun portable. Langkah ini diambil untuk memperkuat sistem penanganan air, terutama menjelang musim penghujan yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026.
“Saya sempat tanya ke PU, kalau kita beli pompa tambahan yang besar dengan kapasitas 500 sampai 1000 liter per detik apakah cukup? Mereka bilang tidak cukup. Maka diputuskan membeli yang kecil-kecil, portable,” terang Agustina.
Pompa portable dinilai lebih efektif karena bisa dipindahkan antar lokasi sesuai kebutuhan. Cara ini memungkinkan penanganan banjir lebih fleksibel, terutama di kawasan padat permukiman atau daerah kampung yang sulit dijangkau kendaraan besar.
“Pompa kecil bisa dipindah-pindah. Kalau di satu titik airnya sudah surut, bisa langsung digeser ke lokasi lain. Jadi lebih efisien,” jelasnya.
Selain menyiapkan pompa tambahan, Pemkot Semarang juga membuka peluang untuk membeli pompa ketiga guna memperkuat kapasitas sistem drainase.
Agustina menyebut, anggaran sementara yang disiapkan untuk kebutuhan ini mencapai sekitar Rp150 juta.
“Masih ada kemungkinan kita beli pompa ketiga dengan anggaran sekitar 150-an juta. Semuanya dilakukan agar saat musim hujan nanti kita lebih siap,” ungkapnya.
Agustina menegaskan bahwa penanganan banjir di Kota Semarang tidak hanya dilakukan secara reaktif, tetapi juga strategis dan berkelanjutan.
Pemkot terus menjalin koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk BPWS dan Kementerian PUPR, untuk memastikan perbaikan sistem pompa dan drainase berjalan sesuai rencana.
“Percayalah, kalau semua pompa berfungsi normal, banjir di Semarang bisa surut lebih cepat. Kita sedang pastikan semuanya berjalan baik,” kata Agustina.