Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Kurangi Penggunaan HP Saat Liburan, Lurah Ngemplak Simongan Gelar Lomba Permainan Tradisional

Sejumlah anak dari total 8 RW di Kelurahan Ngemplak Simongan mengikuti lomba dolanan tradisional untuk mengurangi aktivitas bermain HP saat liburan. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Untuk mengurangi aktivitas anak terhadap gawai atau handphone saat liburan sekolah, Kelurahan Ngemplak Simongan menyelenggarakan perlombaan permainan tradisional. Suasana meriah tampak di halaman kantor Kelurahan Ngemplak Simongan saat anak-anak dari berbagai RW antusias mengikuti lomba dolanan tradisional. 


Salah satu momen menarik terjadi ketika kelompok bakiak dari RW 1 yang terdiri dari tiga anak menunjukkan kekompakan luar biasa.


Muhamad Arfian Habibie (10) yang duduk di SDN Manyaran 1, menjadi pemimpin langkah dalam timnya bersama Zuhayr Kanza Aga Pewira (12) dari SMPN 40 dan Azizah Queen Prasetyo (10) dari SDN Gisikdrono 02. 


Meski sempat terjatuh karena sandal bakiak terlepas, semangat mereka tak surut dan berhasil lolos ke babak berikutnya.


"Tadi jatuh gara-gara sandal copot, tapi tetap semangat soalnya liburan ini seru," ujar Arfian kepada wartawan diswayjateng.com sambil tersenyum malu, Sabtu 12 Juli 2025.


Arfian mengaku sering memainkan bakiak saat di sekolah, "Pernah main ini tapi saat di sekolahan, kalau di rumah jarang," terangnya.


Untuk mengjaga kekompakan saat berjalan meggunakan bakiak, Arfian memberikan aba-aba kepada kedua rekannya dibelakan. 


"Tadi biar kompak kita beri aba-aba kanan dan kiri, sehingga langkahnya pas," katanya.


Namun naas perjuangan mereka bertiga harus kandas saat masuk ke babak semi final.


Kegiatan lomba ini merupakan bagian dari program Kelurahan Ramah Anak, sekaligus upaya melestarikan permainan tradisional di era digital. 


Lurah Ngemplak Simongan, Susi Slamet Prasetyo, menegaskan pentingnya permainan tradisional bagi perkembangan sosial anak-anak.


"Sekarang ini semua serba HP, anak-anak main game terus. Padahal dolanan tradisional seperti bakiak ini mengajarkan kerja sama dan sosialisasi. Ini juga bagian dari dukungan kami terhadap program Bu Wali Kota untuk kelurahan ramah anak," terang Slamet.

Acara yang digelar selama libur sekolah ini diikuti oleh perwakilan dari 8 RW dengan target minimal 3 anak per RW. Namun animo masyarakat melampaui ekspektasi.


"Awalnya kita targetkan 3 anak per RW, tapi ternyata banyak yang datang. Bahkan ada yang dari satu RW lebih dari tiga anak. Ini bukti antusiasme warga tinggi," tambahnya.


Selain lomba bakiak, rangkaian kegiatan dolanan anak ini juga mencakup engklek (soda mandah), jemparingan (memanah tradisional), dan lomba menggambar.


Slamet juga akan mengarahakan kepada seluruh RW untuk memasukan permainan tradisional pada perlombaan 17 agustus di kampungnya.


"Ini merupakan rangkaian 17 Agustus, nantinya semua RW akan saya kerangkan untuk memasukan permainan tradisional dalam setiap perlombaan untuk anak-anak, agar permainan ini masih tetap dilestarikan," ujar Slamet.


Wahid, salah satu juri lomba, menjelaskan sistem penilaian lomba bakiak, engklek dan jemparingan.


"Tim akan dinilai dari kecepatan menyelesaikan lintasan sejauh 25 meter. Posisi peserta terakhir tidak boleh melewati batas garis. Untuk engklek, satu putaran bernilai satu poin. Sementara jemparingan menggunakan sistem target lingkaran dengan nilai 6 sampai 10 poin," jelas Wahid.


Acara ini bukan hanya ajang hiburan, tapi juga cara untuk menanamkan nilai-nilai budaya dan kebersamaan kepada generasi muda.


"Tujuannya agar anak-anak cinta dolanan tradisional, tidak tergantung pada gadget. Kami juga menghimbau RW lain untuk mengadopsi kegiatan serupa,” tegas Slamet.


Dengan antusiasme tinggi dan semangat gotong royong, lomba dolanan anak di Kelurahan Ngemplak Simongan membuktikan bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati anak-anak. 


"Semoga tradisi ini terus tumbuh dan menjadi jembatan budaya antargenerasi di Kota Semarang," tutup Slamet.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube