Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Kirab Budaya Sedekah Bumi, Camat Semarang Barat Tak Sabar Berebut Gunungan

Ratusan warga mengikuti kirab sedekah bumi Kalibanteng Kulon Semarang Barat sebagai bentuk rasa syukur dan mengembalikan citra positif untuk menjadikas kawasan Argorejo sebagai destinasi wisata religi. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Tradisi budaya dan religi berpadu dalam acara Sedekah Bumi Kalibanteng Kulon, Semarang Barat. Ratusan warga dari 6 RW tumpah ruah mengikuti kirab budaya dan ritual rebutan gunungan yang digelar dalam suasana penuh syukur dan kebersamaan di kawasan padat penduduk Argorejo.


Salah satu sosok yang turut antusias adalah Camat Semarang Barat, Elly Asmara. Ia mengaku tak sabar untuk ikut berebut hasil bumi yang ditata rapi dalam bentuk gunungan.


"Sebenarnya saya dari pertama kali datang sudah ngelirik gunungan, tapi waktu itu masih bertanya ke Pak Lurah, kapan jadwalnya. Sekarang tak tertahankan, ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap budaya yang diuri-uri oleh warga Kalibanteng Kulon,” ujar Elly kepada diswayjateng.com, Minggu 30 Juli 2025.


Elly juga berharap, tradisi ini menjadi batu loncatan untuk mengangkat wilayah Argorejo yang selama ini identik dengan kawasan tempat karaoke menjadi destinasi wisata religi.


Di kawasan tersebut terdapat makam Sunan Kuning, yang diyakini sebagai penyebar ajaran Islam di Semarang.


"Ini merupakan salah satu misi besar kami adalah membangun citra positif Argorejo. Kita punya makam Sunan Kuning, dan perlahan tapi pasti, wilayah ini bisa dijadikan tujuan wisata religi. Tradisi seperti ini menjadi penguat citra baru," jelas Elly.


Diketahui, sebelumnya kawasan tersebut dukenal sebagai komplek perkampungan padat penduduk sebagai eks lokalisasi yang saat ini berubah menjadi tempat karaoke.


Menariknya, tradisi Sedekah Bumi atau Sadranan di Kalibanteng Kulon tidak digelar pada bulan Ruwah seperti lazimnya, melainkan di bulan Suro. Hal ini menjadi kekhasan lokal yang tetap dijaga oleh warga setempat.


Kirab dimulai pada pukul 07.30 dari makam Soen An Ing dan berakhir di balai RW 4 dengan jarak 1,5 kilometer.


Kirab diawali dengan para punokawan, dilanjutkan tiga gunungan hasil bumi seperti sayuran dab buah-buahan dilanjutkan para warga yang membawa makanan serta laut untuk dimakan bersama usai acara.

Pemerintah Kecamatan Semarang Barat turut mendukung pendanaan kegiatan ini melalui alokasi anggaran non-fisik untuk pelestarian budaya.


Sejumlah bantuan juga datang dari CSR perusahaan, termasuk PDAM, TAPM, hingga lembaga pendidikan seperti Al-Azhar.


"Bentuk dukungan dari Pemerintah Kota Semarang bermacam-macam. Termasuk bantuan logistik, konsumsi, hingga fasilitas pendukung kegiatan budaya seperti ini," tambah Elly.


Ketua Panitia sekaligus Ketua LPMK Kalibanteng Kulon, Herry Suryadi Timur, mengungkapkan bahwa tradisi ini sempat vakum lebih dari 10 tahun, sebelum akhirnya dihidupkan kembali pada 2024 dan kembali digelar meriah tahun ini.


"Kami menguri-uri tradisi leluhur, membersihkan tiga makam tokoh seperti Sunan Soen An Ing, Kepoh dan Mbah Banteng Wareng. Alhamdulillah, dukungan dari masyarakat RW 1 sampai RW 6 luar biasa," kata Herry.


Ia juga menyebutkan bahwa acara berlangsung selama dua hari, dimulai dari lomba-lomba antar warga, pengajian akbar, hingga puncaknya kirab budaya dan rebutan gunungan yang diikuti ratusan warga.


Dalam rangkaian acara, juga disalurkan bantuan sosial berupa 210 paket sembako, 71 santunan untuk anak yatim dan warga kurang mampu dengan total bantuan senilai Rp7,1 juta, mayoritas dari CSR warga dan perusahaan sekitar.


Dikenal sebagai kawasan eks-lokalisasi, warga Kalibanteng Kulon kini berjuang membalikkan citra wilayahnya. Dengan semangat gotong royong, seni budaya, dan pendekatan religi, mereka yakin Argorejo bisa jadi destinasi wisata baru yang menyatukan sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal.


“Kita ingin tunjukkan bahwa Kalibanteng bukan cuma soal masa lalu. Ada nilai-nilai budaya dan religi yang kuat di sini. Semoga tahun depan lebih meriah dan lebih banyak dukungan,” pungkas Herry.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube