SEMARANG — Isu kesetaraan gender ternyata belum sepenuhnya berlaku di dunia usaha. Pelaku UMKM perempuan dinilai masih menghadapi ketimpangan akses terhadap lembaga perbankan dan keuangan.
Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Perempuan bertajuk “Pemberdayaan Perempuan di Sektor Ekonomi: Peluang dan Tantangan” yang digelar di Hotel Muria, Sabtu, 28 Juni 2025.
Seminar ini menghadirkan Ketua Yayasan Temen Tinemu Temenanan, Tri Winarti, dan Anggota DPRD Kota Semarang, Dyah Tunjung Pudyawati.
Koordinator Pusat Studi Wanita Unissula, Mila Karmilah, mengungkapkan bahwa pelaku UMKM perempuan masih terkendala regulasi yang diskriminatif, seperti kewajiban menyertakan KTP suami saat mengajukan bantuan modal usaha.
“Regulasi seperti ini perlu diubah agar perempuan bisa mengembangkan usaha secara mandiri. Pemberdayaan ekonomi perempuan penting karena meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian mereka,” ujar Mila.
Sementara itu, Dyah Tunjung Pudyawati menyampaikan bahwa sekitar 60 persen pelaku UMKM di Jawa Tengah adalah perempuan. Hal ini menunjukkan semangat dan ketangguhan kaum perempuan dalam dunia wirausaha.
Namun, ia juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi, seperti sulitnya akses permodalan, keterbatasan promosi, minimnya keterampilan digital, beban ganda sebagai ibu rumah tangga, serta tidak adanya legalitas usaha.
“Pemerintah daerah perlu hadir melalui pelatihan, pendampingan legalitas, bantuan modal, dan promosi produk. Digitalisasi juga menjadi peluang besar karena memperluas pasar UMKM,” katanya.
Sebagai Sekretaris DPC Partai Gerindra Kota Semarang, Dyah menegaskan komitmennya untuk mendorong Pemkot memberikan pendampingan berkelanjutan kepada pelaku UMKM perempuan.
“Ketika perempuan berdaya, keluarga sejahtera, dan ekonomi daerah ikut tumbuh,” tegasnya.
Ketua Yayasan Temen Tinemu Temenanan, Tri Winarti, menambahkan bahwa pihaknya rutin memberikan edukasi pengembangan UMKM kepada ibu-ibu PKK di Semarang.
Ia menekankan pentingnya perempuan untuk keluar dari zona nyaman dan menjadi sosok yang produktif secara ekonomi.
“Perempuan adalah penentu generasi masa depan. Kegiatan seperti ini memberi bekal penting bagi ibu-ibu dalam merintis dan mengembangkan usaha mereka,” ujarnya.