Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Kasus ISPA di Semarang Masih Tinggi

MENINGKAT - Kepala Dinkes Kota Semarang Moh. Abdul Hakam mengungkapkan masih tingginya kasus ispa di wilayahnya. (wahyu sulistiyawan/disway jateng).

SEMARANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat bahwa kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih mendominasi angka penyakit. Meski begitu kasus pneumonia menunjukkan tren penurunan signifikan dalam dua tahun terakhir.


Kasus Ispa sendiri terus mengalami peningkatan, pada 2024 mencapai 421.621 kasus sedangkan hingga Juni 2025 ini sudah mencapai 154.883, dimana mengalami kenaikan setiap minggunya. 


Sedangkan untuk pneumonia mengalami penurunan pada 2024 sebanyak 1.906 kasus, hingga Juni 2025 hanya 664 kasus. 


Kepala Dinkes Kota Semarang Moh. Abdul Hakam mengatakan, peningkatan kasus ISPA diduga kuat disebabkan oleh kombinasi antara perubahan iklim, paparan polusi udara, debu (PM 2.5), serta kurang maksimalnya upaya preventif lingkungan. 


"ISPA masih menjadi PR bersama karena kita belum bisa mengurangi jumlah paparan debu dan polusi kendaraan secara signifikan," ujar, Rabu 27 Juni 2025. 


Sementara itu, tren kasus pneumonia mengalami penurunan berkat cakupan imunisasi yang terus meningkat, baik untuk balita maupun dewasa. 


"Cakupan imunisasi pneumonia dan influenza cukup tinggi, baik di puskesmas maupun rumah sakit. Ini sangat membantu menurunkan kasus," tambahnya.


Berdasarkan data DKK Semarang, perkembangan kasus pneumonia dari 2021 sebanyak 1.521 kasus, 2022: 3.463 kasus, 2023: 2.509 kasus, 2024: 1.906 kasus dan 2025 (hingga Juni): 664 kasus.


Sementara itu, ISPA tetap menjadi penyakit terbanyak yang dilaporkan puskesmas, dengan kasus mingguan di tahun 2025 berkisar antara 5.000–7.000.


Pada minggu ke-24, terdapat 5.886 kasus, dengan akumulasi tahunan mencapai 154.883 hingga Juni 2025. 

Sebagai perbandingan, total kasus ISPA sepanjang tahun 2024 tercatat sebanyak 421.621 kasus.


Beberapa wilayah yang menjadi zona merah ISPA antara lain Kalisongo, Ngijo, Polaman, Randugarut, Karanganyar, Bondoriyo, Jabungan, Trimulyo dan Muktiharjo Lor.


Sedangkan penderita pneumonia terbanyak tercatat di Cempoko, Jatibarang, Polaman, Kramas.


Lebih lanjut, Hakam menyampaikan selain imunisasi, penurunan kasus pneumonia juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). 


"Tapi tetap saja, kalau masyarakat belum rutin cuci tangan atau PHBS cuma formalitas, dampaknya belum maksimal," ujarnya.


Menambahkan, polusi dari industri skala besar dan rumah tangga juga menjadi perhatian serius. "CO, SO2, dan CO2 dari industri dapat melampaui ambang batas dan membahayakan kesehatan anak-anak dan kelompok rentan," paparnya.


Dinkes Kota Semarang mendorong seluruh elemen masyarakat dan pelaku industri mendukung Semarang sebagai kota hijau (green city). 


"Pabrik harus ikut tanam pohon, kalau tidak akan berdampak jangka panjang bagi lingkungan dan kesehatan," katanya.


Pemerintah Kota Semarang saat ini juga akan menggalakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) lebih serius, khususnya di tempat-tempat umum dan sekitar anak-anak. 


"Rokok berisiko tinggi menyebabkan pneumonia dan TBC. Kita minta Satpol PP perketat pengawasan KTR," ungkap Hakam saat dikonfirmasi terkait kasus ispa di Kota Semarang.