DEMAK — Rob yang terus menggenangi wilayah pesisir Kabupaten Demak tak lagi bisa hanya dihadapi dengan keluhan. Ketua DPRD Demak, H. Zayinul Fata, memilih aksi nyata dengan mengirim 150 dump truk tanah padas ke 12 desa terdampak di Kecamatan Bonang.
Dua belas desa penerima bantuan antara lain Purworejo, Margolinduk, Morodemak, Gebang, Gebangarum, Karangrejo, Tridonorejo, Betahwalang, Kembangan, Sukodono, Krajanbogo, dan Sumberejo.
Wilayah-wilayah ini selama ini menjadi langganan rob dan rawan banjir akibat tanggul yang kerap jebol.
Namun, bantuan fisik saja tidak cukup. Zayin juga menghadirkan pelatihan mitigasi bencana untuk 300 warga setempat yang digelar di GOR Desa Margolinduk.
Dalam pelatihan ini, warga dibekali pengetahuan dan keterampilan menghadapi situasi darurat, mulai dari tanggap bencana hingga pemanfaatan teknologi.
"Kita ingin masyarakat punya bekal agar tidak panik saat bencana datang. Kita tanggulangi bersama, kita cari solusi bareng-bareng,” tegas Zayin, Selasa (24/6/2025).
Ia juga telah mendorong alokasi 30 persen APBD untuk wilayah terdampak bencana kepada pemerintah daerah.
Bersinergi dengan PGN dan BPBD, pelatihan ini membidik akar masalah, yakni kurangnya kapasitas warga dalam menghadapi perubahan iklim dan dampaknya.
Lembaga Relawan Kesejahteraan Masyarakat (RKM), Muadhom, menilai pelatihan semacam ini sangat penting.
“Warga perlu tahu apa yang harus dilakukan saat bencana datang. Pelatihan ini membuka wawasan dan meningkatkan kesiapan,” ujarnya Muadzom yang juga sebagai Ketua Komisi A DPRD Demak.
Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Demak, Riski Sulistyanto, menyebut bahwa rob adalah konsekuensi dari perilaku manusia terhadap alam.
“Kerusakan lingkungan dan perubahan iklim saling berkaitan. Rob bisa dicegah kalau kita tangani dari hulu. Mitigasi adalah langkah preemptif, tapi perlu partisipasi aktif warga,” jelasnya.
Riski juga menekankan perlunya pendekatan teknologi, seperti pompanisasi, normalisasi sungai, dan perbaikan drainase, sebagai solusi jangka panjang.
“Kalau masyarakat sudah punya kapasitas sendiri, mereka tidak perlu menunggu bantuan datang. Mereka bisa bergerak lebih cepat menyelamatkan diri dan lingkungan,” tutupnya.