Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Alissa Wahid: Ibu Iko Juliant Junior Selalu Bilang “Ampuni”, Saat Kami Berkunjung

Alissa Wahid mengunjungi rumah kediaman Iko Juliant Junior di Ngaliyan Kota Semarang. (ist)

SEMARANG — Alissa Qotrunnada Munawarroh Wahid atau yang akrab disapa Alissa Wahid, putri keempat Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mengunjungi kediaman almarhum Iko Juliant Junior (19), mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Jalan Koro Raya 3, RT 4 RW 10, Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang yang meninggal bertepatan pada aksi anarkis unjuk rasa pada akhir Agustus lalu.


Dalam kunjungannya, Alissa menyampaikan bahwa Iko tercatat sebagai salah satu dari 10 korban jiwa yang masuk dalam catatan Prahara Agustus 2025 di Indonesia.


"Kedatangan kami pertama-tama membawa salam dari keluarga Gus Dur dan keluarga besar Gusdurian. Kami datang untuk memberikan dukungan moral, semangat, sekaligus aksi solidaritas. Kami tahu, ini pasti berat sekali bagi keluarga, apalagi hingga kini apa yang sesungguhnya terjadi belum jelas,” ujar Alissa Wahid di sebuah kafe kawasan Ngaliyan, Kota Semarang, Rabu 10 September 2025 siang.


Dukungan dan Solidaritas untuk Keluarga Iko


Dalam pertemuan itu, Alissa juga menyoroti kekuatan doa yang terus dipanjatkan keluarga almarhum. Menurutnya, kedua orang tua Iko masih sangat tegar dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada tim dari Pusat Bantuan Hukum (PBH) IKA Alumni FH Unnes.


Yang paling menyentuh perhatian Alissa adalah sikap ibunda Iko, yang berulang kali mengucapkan kata “ampuni”.


"Yang menarik adalah Ibu Iko terus-menerus berkata ‘ampuni’. Artinya, keluarga ini memilih jalan mengampuni siapa pun yang melakukan tindakan terhadap Iko. Dari situ kita bisa membaca bahwa mereka melihat ini ada penyebab yang lebih dalam, bukan sekadar kecelakaan,” jelas Alissa.


Prahara Agustus yang Belum Terjawab


Menurut Alissa, Prahara Agustus yang melanda berbagai daerah di Indonesia menyisakan banyak tanda tanya. Ia menilai, sejumlah kejadian harus segera diperjelas agar keluarga korban maupun masyarakat mendapatkan informasi seterang-terangnya.


"Kalau ada hal-hal yang bisa diperbaiki dalam sistem, ya harus diperbaiki. Itulah tujuan kami hadir, sekaligus menyerap informasi dari berbagai pihak. Jaringan Gusdurian bahkan sudah membentuk tim khusus untuk mengarsipkan semua informasi terkait peristiwa ini," lanjutnya.


Sebelumnya informasi dari pihak kepolisian menyampaikan Iko Juliant Junior meninggal pada Minggu, 31 Agustus 2025 karena kecelakaan di jalan Veteran. Namun, keluarga Iko masih menyimpan kejanggalan karena banyak luka lebab dan limpa mengalami robek dan pecah. 


Harapan agar Tidak Ada Lagi Kejadian Serupa


Meski duka masih menyelimuti, keluarga Iko menegaskan sikapnya untuk tetap mengikuti jalur hukum melalui tim pendamping. Mereka berharap kasus ini tidak berakhir dengan ketidakjelasan.


"Kalau soal apakah ada tindakan represif atau apa yang sebenarnya terjadi, justru yang paling penting sekarang adalah membuat kesimpulan. Karena narasi yang berkembang sudah terlalu banyak versi," terang Alissa.


Ia menambahkan, Gusdurian akan terus menyuarakan agar persoalan mendasar dari berbagai tragedi kemanusiaan bisa segera ditangani. Tujuannya, agar sistem yang ada di Indonesia semakin adil bagi seluruh rakyat.


"Saya percaya, kalau Iko masih ada, ia pasti sudah terlibat dalam program-program sosial seperti ini. Karena sejak awal, semangatnya memang ingin membela kebenaran"” pungkas Alissa.


Ketua Satgas Advokasi Demokrasi Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan Gusdurian, Beka Ulung Hapsara, menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pengungkapan kebenaran atas kematian Iko Julian.


Dalam kunjungannya ke Semarang, Beka menyampaikan rasa solidaritas kepada keluarga korban, terutama kepada Ibu Ingrid, orang tua almarhum Iko. Menurutnya, keluarga memberikan banyak informasi penting terkait kronologi kejadian hingga pelayanan rumah sakit yang dialami almarhum.

"Kami mendapat banyak sekali informasi berharga dari keluarga, termasuk bagaimana Bu Ingrid pertama kali menerima kabar, pelayanan rumah sakit, hingga kondisi jenazah Iko ketika meninggal. Semua ini akan menjadi bahan penting bagi kami untuk mencari kebenaran," ujar Beka.


Menurutnya, tragedi tersebut mencatat sejumlah nama di berbagai kota, termasuk Al-Fadl, Syech di Yogyakarta, dan beberapa korban lain.


"Kasus ini harus menjadi pembelajaran serius bagi kualitas demokrasi di Indonesia. Kita perlu memperbaiki cara negara, khususnya aparat keamanan, dalam menghadapi aksi unjuk rasa dan demonstrasi. Jangan sampai ada lagi korban jiwa dalam aksi damai yang dilakukan mahasiswa, guru, maupun masyarakat," tegas Beka.


Beka juga menuturkan pesan yang disampaikan langsung oleh keluarga almarhum, yakni harapan agar tragedi serupa tidak terulang kembali.


"Pesan dari Bu Ingrid jelas, cukup sudah. Jangan sampai ada lagi korban baru setiap kali rakyat menyampaikan aspirasi lewat aksi damai," kata Beka.


Ketua PBH IKA FH Unnes, Ady Cesario, menyampaikan tim investigasi PBH IKA FH Unnes menemukan sejumlah fakta awal yang menimbulkan tanda tanya. Beberapa saksi menyebutkan adanya kerumunan aparat kepolisian di sekitar Jalan Pahlawan, Jalan Veteran, hingga Jalan Sriwijaya pada malam sebelum kematian Iko.


Menurut keterangan saksi, terlihat beberapa orang membawa kayu atau senjata tumpul yang kemudian “bersiwar-siwar” di area sekitar lokasi kejadian. Kondisi ini menimbulkan dugaan adanya peristiwa yang melibatkan aparat sebelum korban ditemukan dalam keadaan kritis.


"Ketika kami coba korelasikan dengan catatan di Kepolisian, memang ada titik-titik kejadian yang perlu didalami lebih lanjut. Namun akses kami terbatas, sehingga kami mendesak kepolisian untuk membuka data itu," ujar Ady Cesario.


Selain itu, saksi di lokasi juga melihat ada tiga hingga empat ambulans berada di sekitar Jalan Pahlawan. Namun anehnya, korban justru diantar ke rumah sakit menggunakan mobil pribadi, bukan ambulans. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar bagi keluarga maupun tim hukum.


Dorongan Transparansi dari Rumah Sakit


PBH IKA FH Unnes juga menyoroti peran RSUP Dr. Kariadi Semarang yang menangani korban. Dari informasi keluarga, pihak rumah sakit telah melakukan tindakan medis berupa visum, MRI, hingga operasi pengangkatan limpa.


Namun, hasil medis menunjukkan bahwa organ lain dalam tubuh korban masih dalam kondisi sehat. Hanya bagian limpa yang mengalami kerusakan serius. 

"Logikanya, pihak rumah sakit memiliki data yang cukup untuk menjelaskan kondisi medis almarhum. Data itu seharusnya bisa membantu polisi dalam mengungkap penyebab kematian secara terang benderang," jelas Ady.


PBH IKA FH Unnes juga meminta pihak rumah sakit membuka akses rekaman CCTV di UGD dan area sekitar rumah sakit untuk memperkuat transparansi. Mereka berharap tenaga medis memegang teguh kode etik profesi kedokteran dan keperawatan dalam membantu pengungkapan kasus ini.


Harapan Pembentukan Tim Independen


Dalam kesempatan tersebut, Ady Cesario juga mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak, termasuk aktivis dan masyarakat sipil, yang mendorong pembentukan tim independen investigasi. Menurutnya, langkah itu penting agar kasus ini tidak menimbulkan spekulasi liar di tengah masyarakat.


"Gerakan ini bukan hanya untuk almarhum, tetapi juga agar peristiwa seperti ini tidak terulang lagi di Semarang maupun kota lain. Kami akan terus berdiskusi dan mengawal perkara ini bersama jaringan di berbagai daerah," tegasnya.(SUL)

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube