Magelang — Festival Lima Gunung (FLG) ke-24 ditutup, Minggu 13 Juli 2025 kemarin. Kegiatan digelar lima hari sejak, Rabu 9 Juli 2025 itu digelar di Dusun Tutup Ngisor Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang.
Pada festival kali ini mengusung tema andhudhah kawruh sinengker, yang berarti menggali Ilmu yang tersembuny. Selama lima hari, festival ini melibatkan lebih dari 1.800 seniman dari dalam dan luar negeri.
Saat pembukaan, suasananya berlangsung meriah dan khidmat. Gamelan berpadu dengan doa serta pekik semangat seniman yang datang dari berbagai kalangan.
Mulai dari anak-anak dusun, pelajar, hingga seniman dari kota besar di Indonesia serta negara seperti Jepang dan Prancis. Festival ini sendiri telah menjelma menjadi ruang pertemuan antara kesenian, spiritualitas, serta refleksi terhadap situasi sosial kekinian.
Ketua Komunitas Lima Gunung, Sujono menyebut tema tahun ini lahir dari keprihatinan terhadap generasi muda yang mulai menjauh dari khazanah ilmu lokal.
"Kami ingin membangkitkan kembali kesadaran akan warisan intelektual dan spiritual yang selama ini tersembunyi di desa-desa,” ujar Sujono.
Salah satu sorotan utama FLG tahun ini adalah penganugerahan perdana Uma Gunung Award.
Ini diberikan atas penghargaan budaya bagi tokoh-tokoh yang dinilai berjasa secara spiritual, intelektual, dan budaya.
Para penerima penghargaan tersebut adalah almarhum KH Hamam Djafar (pendiri Pesantren Pabelan), M Habib Chirzin (duta perdamaian dunia), Romo Sindhunata SJ (budayawan dan penulis), almarhum Jacob Oetama (pendiri Harian Kompas), serta kelompok musik spiritual Kiai Kanjeng yang dipimpin Emha Ainun Nadjib.
Di panggung utama, berdiri instalasi raksasa Dewa Ganesha setinggi tujuh meter yang menjadi ikon festival tahun ini.
Patung tersebut dirangkai dari jerami, kayu, dan padi, khas lereng Merapi.
Tak seperti representasi umum, Ganesha kali ini memegang pacul, arit, kendi, padi, dan pena simbol kerja keras, spiritualitas, pangan, dan ilmu pengetahuan.
"Ganesha kami gambarkan sebagai penghubung antara lokalitas dan pencerahan,” jelas Sujono.
Menariknya, FLG XXIV menyuguhkan 93 mata acara yang terdiri dari pertunjukan teater, tari, musik, puisi, hingga ritual sakral seperti wayang orang Tumbung Tugu Mas dan kenduri Suran.
Momen ini juga bertepatan dengan 90 tahun Suran Tutup Ngisor, yang memperkuat nilai spiritual dan komitmen komunitas terhadap pelestarian budaya.
Sementara itu, Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, Festival Lima Gunung (FLG) sebagai bukti bahwa desa adalah pusat inovasi dan peradaban, bukan sekadar wilayah pinggiran.
“Festival ini menegaskan bahwa kekuatan kebudayaan dapat tumbuh dari bawah, dari desa yang mandiri dan sadar akan jati dirinya,” katanya.