TEGAL — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menarik perhatian publik karena porsinya yang tidak biasa.
Kali ini, sebuah video viral menunjukkan seorang siswa yang memperlihatkan seiris buah semangka dari jatah MBG.
Alih-alih segar dan menggugah selera, potongan semangka tersebut justru kecil dan tipis, hampir transparan, bahkan buahnya dapat bergoyang saat digerakkan.
Netizen pun membandingkan potongan semangka itu dengan ketipisan kartu ATM.
"MBG berhasil membuat semangka setipis kartu ATM," cuit akun X @MurtadhaOne1, sambil membagikan video viral tersebut.
Bukan hanya semangka yang menjadi sorotan. Dalam nampan makanan MBG yang direkam, terlihat menu lain seperti nasi putih, sedikit orek tempe, telur orak-arik seadanya, dan lalapan dengan porsi yang dianggap minim.
Kondisi ini membuat publik mempertanyakan standar gizi dan kelayakan dari program MBG yang dipromosikan pemerintah sebagai solusi peningkatan nutrisi anak bangsa.
"Terima Kasih @prabowo & @KemensetnegRI dengan MBG porsi Diet-nya bin Ngirit Gizi-nya," komentar @Inf******.
"Woy @prabowo, gizinya di mana???" kata @ibh*****.
"Tidak hanya tempe setipis ATM, tetapi semangka juga. Terlalu aesthetic semangkanya untuk dimakan. Dipajang di bingkai Rekor Murni kesengajaan," tulis @lat*****.
Anggaran Fantastis vs Realita di Lapangan
Program MBG memang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka dengan anggaran yang besar.
Mengutip Radar Solo, tahun ini, dana yang dialokasikan mencapai Rp171 triliun. Prabowo menyatakan bahwa MBG telah menjangkau 23 juta penerima manfaat.
Operasional program ini dijalankan oleh 6.610 Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) atau dapur umum, dengan target memperluas layanan hingga 82,9 juta penerima pada akhir 2025.
“MBG hadir di setiap desa, kecamatan, dan kabupaten,” kata Prabowo dalam pernyataannya.
Namun, beredarnya video semangka tipis ala MBG membuat publik menilai ada kesenjangan antara klaim pemerintah dan realitas yang dirasakan penerima program.
Banyak yang mendesak untuk pengawasan diperketat, agar dana besar yang digelontorkan benar-benar sampai ke masyarakat dalam bentuk gizi layak.