TEGAL — Tren konsumsi masyarakat di Indonesia belum sepenuhnya pulih. Masih banyak golongan masyarakat yang menahan belanja, terutama untuk kelas menengah atas.
Hal ini terbukti dari data Bank Indonesia (BI) yang mencatat adanya penurunan daya beli masyarakat dalam periode sebelum Ramadan dan Idul Fitri atau Lebaran 2025. Hal tersebut ditunjukkan oleh hasil survei mengenai penjualan eceran di Tanah Air.
Berdasarkan informasi dari laman Merdeka.com, data yang disajikan, Indeks Penjualan Riil pada Februari 2025 diprediksi mengalami penurunan sebesar 0,5 persen secara tahunan dibandingkan dengan Februari 2024.
Sementara itu, penjualan eceran pada Februari juga diperkirakan tumbuh tipis sebesar 0,8 persen dibandingkan dengan Januari 2025 atau secara bulanan. Tren ini memperpanjang kontraksi penjualan eceran pada Januari 2025 yang tercatat anjlok minus 4,7 persen.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, mengakui adanya kehati-hatian masyarakat dalam berbelanja. Bahkan, dia menyebut banyak kelompok masyarakat yang memilih untuk memarkir dana yang mereka miliki dan memutuskan untuk menunda belanja.
"Uang mereka diparkir terlebih dahulu di instrumen investasi, deposito, SBN yang saat ini memberikan yield tinggi, ditambah lagi saat ini ada emas digital dan emas batangan. Instrumen investasi ini sedang menarik, sehingga mereka memilih untuk berinvestasi terlebih dahulu," ucap David dalam diskusi bersama Bank Indonesia yang diadakan di Labuan Bajo, NTT, pada hari Jumat (18/7).
Dia menyebutkan bahwa kelas menengah atas selama ini menyumbang sekitar 70 persen konsumsi secara nasional. Namun, kelas ini saat ini lebih selektif dalam mengeluarkan uang untuk berbelanja.
"Jadi ada is rojali (rombongan jarang beli). Mal kelihatan ramai tapi banyak mereka hanya makan saja, mencari diskon, atau cafe yang ada diskon. Ditambah lagi, saat ini sudah ada e-commerce," katanya.
Namun demikian, David optimistik konsumsi masyarakat akan membaik di semester II-2025. Terlebih, faktor eksternal sudah membaik dan memberi kepastian seperti tarif Trump yang sudah diputuskan 19 persen untuk Indonesia.
"Eksternal faktor sebenarnya harusnya sudah lewat, tarif sudah clear dan memang gak mungkin nol (tarif Trump). Selain itu pemerintah sudah mulai belanja. Kondisi semester II-2025 akan berbeda dengan semester I-2025 secara keseluruhan," tutupnya.