SRAGEN — Masih banyak desa yang jadi langganan kekeringan. Bantuan sumur dari pusat yang hanya 16 titik untuk ketersediaan air bersih di Sragen dinilai kurang. Lantaran, beberapa desa di utara bengawan masih terabaikan.
Anggota DPRD Sragen dari Fraksi Demokrat, Hardiyana menyampaiikan apresiasi atas kepedulian pemerintah pusat atas bantuan sumur di beberapa titik. Namun dia menekankan masih banyak wilayah yang belum tersentuh bantuan.
Hardiyana yang berasal dari dapil III Sragen meliputi Miri, Sumberlawang dan Tanon memahami betul daerah yang kesulitan air. Seperti Gilirejo lama, Gilirejo Baru, Bagor dan sebagainya di Kecamatan Miri. Sedangkan di Sumberlawang, ada sejumlah desa seperti, Ngargotirto, Pagak, Ngargosari dan desa Pendem yang menjadi domisilinya.
”Kalau hanya 16 lokasi di Sragen pasti kurang, itu untuk satu kecamatan, misalnya miri atau Sumberlawang saja juga kurang. Kami harap ada pembangunan untuk kebutuhan air bersih hingga tuntas,” selorohnya disela - sela kegiatan DPRD Sragen, Rabu (18/6).
Anggota DPRD yang juga mantan Kades ini sudah lama berniat membantu. Beberapa pengajuan warga untuk sumur air bersih belum disetujui. Demikian juga dari aspirasi anggota dewan belum cukup merata untuk membantu pembuatan sumur karena keterbatasan anggaran.
Fakta kesulitan air bersih di utara bengawan juga dipertegas anggota DPRD dari Fraksi PKB Sragen, Endro Supriyadi. Tidak bisa dipungkiri kawasan tersebut sering kekeringan. Lantas anggaran pusat akan sangat membantu mengentaskan kebutuhan air bersih.
Dia menilai bupati yang punya track record punya banyak kenalan di pemerintah pusat. ”Kita rasa, Bupati yang punya banyak kenalan di pemerintah pusat bisa mencarikan bantuan sumur selain dari seruni itu,” ujarnya.
Dia menyampaikan sumur air bersih di Sragen tidak tercukupi dengan hanya belasan. Namun butuh puluhan termasuk untuk ketahanan pangan. Janji bupati untuk meningkatkan kesejahteran utara bengawan sangat diharapkan warga saat ini.
Terpisah, anggota Panitia Khusus (Pansus) Ketahanan Pangan DPRD Sragen Supriyanto yang sekaligus anggota legislatif yang kerap dilanda kekeringan menyampaikan kondisi di Kecamatan Jenar dan Tangen juga termasuk rawan kekurangan air bersih. Dia berharap bantuan ke Sragen dari pusat tidak hanya 16 titik saja. ”Masih banyak di dapil saya yang belum mendapat sumber air bersih. Anggarannya dari pusat kita tidak tahu, karena tidak disampaikan namun tentu kemampuan pemerintah pusat jauh diatas pemkab untuk mewujudkan air bersih,” ujarnya.
Sebagai anggota pansus ketahanan pangan, kebutuhan air tidak bisa terelakkan. Lantas butuh anggaran yang besar yang harus diupayakan bupati mencukupi air untuk mendukung ketahanan pangan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen Hargiyanto mengaku tidak tahu soal anggaran pembuatan sumur dari seruni kemarin. ”Itu anggarannya langsung dari CSR pertamina diserahkan pihak ketiga. Kabupaten Sragen menerima jadinya,” ujarnya.