Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Wayang Kulit Jumat Kliwon Diliburkan Sementara, Disbudpar Kota Semarang Ungkap Alasannya

Seorang dalang cilik memainkan wayang kulit pada salah satu perlombaan dalang
beberapa waktu lalu. Dispudpar Kota Semarang resmi menunda pertunjungan wayang kulit jumlah kliwot di TBRS karena efisiensi anggaran.

SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) resmi menghentikan sementara gelaran rutin Wayang Kulit Jumat Kliwon yang biasanya digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). 


Langkah ini diambil sebagai bentuk penyesuaian atas kebijakan efisiensi anggaran 2025 sesuai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025.


Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Semarang, Sarosa, menjelaskan bahwa penghentian sementara pertunjukan budaya ini merupakan imbas dari penghematan anggaran yang menyasar berbagai kegiatan seni dan budaya di Kota Semarang.


"Wayang Kulit Jumat Kliwon termasuk dalam program yang terdampak efisiensi. Namun masih ada kemungkinan untuk dilaksanakan kembali, meski tidak sesering sebelumnya," kata Sarosa, Senin 16 Juni 2025.


Lebih lanjut, efisiensi ini berdampak pada banyak agenda kegiatan kebudayaan yang semula sudah terjadwal. Pertunjukan Wayang Kulit Jumat Kliwon jadi salah satu korban kebijakan efisiensi tersebut.


Hingga pertengahan tahun 2025, pertunjukan Wayang Kulit Jumat Kliwon telah digelar empat kali. Untuk kelanjutan jadwal berikutnya, pihak Disbudpar masih menunggu arahan lanjutan dari pimpinan.


Agenda Budaya Semarang Lainnya Juga Terhenti karena Efisiensi


Tak hanya pertunjukan wayang kulit, Disbudpar Kota Semarang mencatat sejumlah agenda seni dan budaya lain juga mengalami penundaan atau pembatalan. Acara-acara yang terdampak antara lain:


1.Festival Dugderan Simpang Lima


2.Mahakarya Legenda Goa Kreo


3.Wayang on the Street


4.Wayang Kulit 1 Suro (1 Muharam)


5.Ketoprak Truthuk

6.Festival Dalang


7.Beberapa event lintas bidang lainnya


Sebelumnya, tersiar kabar pertunjukan Wayang Kulit Jumat Kliwon di TBRS pada bulan Juni 2025 diliburkan. Selain itu, karena terimbas efisiensi anggaran, jumlah pertunjukan wayang kulit tersebut bakal dikurangi dalam satu tahun. 


Kebijakan ini sontak menuai tanggapan dari berbagai pihak, termasuk Dewan Kesenian Semarang (Dekase). Ketua Dekase, Adhitia Armitrianto, menyampaikan keprihatinannya terhadap penurunan frekuensi pertunjukan Wayang Kulit yang dianggap telah menjadi ikon budaya Kota Semarang sejak 1990-an.


"Tahun ini baru dari Teater Lingkar baru berjalan empat kali. Bulan Juni ini ditiadakan. Alasannya karena efisiensi anggaran," ujarnya di hari yang sama.


Menurutnya, penurunan frekuensi pertunjukan ini bukan hal baru, karena kebijakan pengurangan sudah mulai terasa sejak tahun lalu. Namun ia menegaskan, jika akhirnya hanya empat kali dalam setahun, maka ini adalah kemunduran serius dalam upaya pelestarian tradisi.


Meski demikian, Adhitia menyebut masih ada harapan melalui anggaran perubahan. Ia berharap ada transparansi dari pemerintah kota mengenai skema efisiensi yang dijalankan.


"Wayang kulit Jumat Kliwon bukan sekadar tontonan. Ini bagian dari jati diri budaya Jawa dan Kota Semarang. Penontonnya datang dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa yang belajar budaya dan masyarakat umum," tandasnya.


Wayang Kulit Jumat Kliwon: Warisan Budaya yang Perlu Diperjuangkan


Wayang Kulit Jumat Kliwon bukan hanya sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Semarang dan Jawa Tengah secara umum. 


Pertunjukan ini tidak hanya dinikmati oleh masyarakat lokal, tetapi juga menarik perhatian mahasiswa, peneliti budaya, serta wisatawan budaya yang datang ke TBRS.


Dengan semakin terbatasnya frekuensi pementasan, masyarakat berharap agar pemerintah kota dapat kembali menghidupkan kembali agenda budaya ini dengan skema anggaran yang lebih bijak demi menjaga warisan budaya daerah.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube