SEMARANG — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Semarang terus berinovasi dalam menciptakan program pembinaan kemandirian untuk warga binaannya.
Salah satu upaya terbarunya adalah menggelar Pelatihan Berkebun dan Melukis Pot dari Galon Bekas yang bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kota Semarang.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program pelatihan keterampilan bagi warga binaan, guna membekali mereka dengan keahlian yang bermanfaat, baik selama masa pidana maupun setelah bebas nanti.
Pelatihan dibagi menjadi dua fokus, yakni budidaya sayuran dan seni melukis pot daur ulang.
Sebanyak 10 warga binaan Lapas Perempuan Semarang terlibat dalam pelatihan melukis pot dari galon bekas. Kegiatan ini tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemanfaatan barang daur ulang.
Pot-pot hasil karya ini memiliki nilai estetika dan berpotensi dijual sebagai produk kerajinan.
Sementara itu, 15 warga binaan lainnya mengikuti pelatihan budidaya sayuran yang difasilitasi langsung oleh tim dari Dinas Pertanian Kota Semarang.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Perempuan Semarang menyampaikan materi yang diberikan mencakup persemaian benih, perawatan tanaman, hingga teknik panen yang tepat.
"Semoga ilmu yang didapatkan di sini bermanfaat di luar. Karena mempelajari tentang tanaman tidak hanya berhenti sampai di sini saja.
Setelah bebas nanti, ilmu tersebut juga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sayuran sendiri dan bahkan membantu perekonomian keluarga," ujarnya, Kamis 3 Juli 2025.
Ia juga mengapresiasi dukungan dari Dinas Pertanian Kota Semarang yang telah ikut andil dalam mendukung program pembinaan kemandirian warga binaan.
"Dengan pelatihan ini, Lapas Perempuan Semarang tidak hanya menciptakan suasana positif di dalam lingkungan pemasyarakatan, tetapi juga meletakkan fondasi penting bagi proses reintegrasi sosial warga binaan," terangnya.
Melalui keterampilan praktis seperti berkebun dan seni daur ulang, warga binaan Lapas Perempuan Semarang dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat dengan bekal kemandirian yang nyata.