SEMARANG — Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin sempat merasakan tremor ketika pertama kali melangkah di atas jembatan kaca pada soft launching Tinjomoyo Adventure Tourism. Meski demikian, perlahan ia mulai terbiasa berjalan di atas kaca setebal 4 sentimeter yang membentang di atas Sungai Kaligarang, kawasan Hutan Wisata Tinjomoyo.
Sebagai seorang yang memahami dunia teknik sipil, Iswar meyakini bahwa jembatan kaca ini aman bagi wisatawan. Menurutnya, jembatan tersebut bukan hanya menghadirkan pengalaman berbeda yang memacu adrenalin, tetapi juga menyuguhkan panorama alam berupa sungai, hutan, hingga latar Gunung Ungaran.
“Wisata itu harus menghadirkan sesuatu yang berbeda dari keseharian. Di sini, salah satunya adalah jembatan kaca yang memberi sensasi menantang saat melihat ke bawah,” ujarnya, Minggu 5 Oktober 2025.
Ia menambahkan, kaca dengan ketebalan 4 cm serta konstruksi beton yang kokoh membuat jembatan ini cukup kuat menahan beban hingga puluhan orang sekaligus.
"Kalau mau lompat-lompat di atas juga aman, kacanya 4 sentimeter. Jadi tidak perlu khawatir," ujarnya.
Menyangkut keamanan, Iswar menegaskan bahwa jembatan sudah melalui kajian teknis. Kapasitas maksimal ditetapkan untuk 50 orang dalam satu waktu.
"Angka ini cukukp ideal agar pengunjung tetap merasa aman dan nyaman, sekaligus memberi ruang untuk aktivitas berfoto atau menikmati pemandangan dari ketinggian," terangnya.
Selain itu, pengawasan teknis akan dilakukan oleh tim pengelola agar jumlah pengunjung yang naik ke jembatan bisa terkendali. Dengan begitu, setiap wisatawan bisa mendapatkan pengalaman terbaik tanpa rasa cemas berlebihan.
Bagi Pemerintah Kota Semarang, jembatan kaca ini bukan hanya soal hiburan, tetapi juga bagian dari strategi besar menjadikan Semarang sebagai kota wisata.
Iswar menegaskan bahwa Semarang tidak lagi hanya mengandalkan sektor industri, melainkan juga perdagangan, jasa, dan pariwisata.
"Orang kalau berwisata itu pasti menghabiskan uang. Itu artinya mampu menggerakkan ekonomi lokal. Maka masyarakat juga harus nyengkuyung, terbuka, ramah kepada siapa saja yang datang ke Semarang," jelas Iswar.
Destinasi Tinjomoyo Adventure Tourism diharapkan bisa menjadi salah satu ikon baru Semarang. Dengan kombinasi wisata alam, atraksi menantang, dan paket tur yang akan dikembangkan, kawasan ini diyakini mampu bersaing dengan destinasi lain di Jawa Tengah.
Meski baru soft launching, antusiasme masyarakat dan perhatian pemerintah menunjukkan bahwa Hutan Wisata Tinjomoyo memiliki potensi besar. Iswar optimistis, jika dikelola dengan baik, destinasi ini akan menjadi primadona baru.
"Saya kira ini bisa berkembang dan memberi hiburan kepada masyarakat," tegasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Wing Wiyarso Poespojoedho, menjelaskan bahwa Hutan Wisata Tinjomoyo merupakan satu-satunya hutan wisata yang berada tepat di dalam kota. Dengan kontur tanah naik turun dan topografi yang menantang, kawasan ini sangat potensial dijadikan destinasi adventure tourism.
“Anak-anak muda sekarang mencari wisata adrenalin. Tinjomoyo punya semua potensi itu, mulai dari petualangan ekstrem hingga wisata edukasi. Kami mencoba mengoptimalkan kawasan ini dengan menggandeng komunitas dan pelaku wisata lokal,” ujarnya.
Wisatawan dapat mencoba berbagai wahana seru. Mulai dari paintball arena, wisata Jeep off-road menyusuri hutan, hingga menantang keberanian di jembatan kaca.
Bagi yang berani, jembatan kaca menjadi ikon baru Tinjomoyo. Wisatawan bisa menikmati sensasi berjalan di ketinggian dengan panorama hutan di bawah kaki. Bagi yang kurang berani, tersedia jembatan gantung yang tak kalah menantang karena sensasi goyangannya.
Demi keamanan, jembatan kaca ini sudah memiliki sertifikasi K3 dan pengelolaan wisata berisiko tinggi sesuai aturan Kementerian Pariwisata. Setiap kelompok maksimal 50 orang akan dibekali dengan APD, meskipun hal ini kadang mengurangi kesan estetik saat berfoto. “Keselamatan tetap prioritas,” tegas Wing.
Selain wisata adrenalin, Hutan Wisata Tinjomoyo juga menjadi pusat wisata edukasi. Di Pondok Darwis Srikandi, RW 1 Tinjomoyo, wisatawan bisa belajar pengelolaan sampah, termasuk daur ulang kertas koran menjadi suvenir kreatif. Program ini tidak hanya mengedukasi, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Salah satu atraksi yang dinantikan adalah river tubing yang dikelola oleh Pokdarwis Wolu Makmur. Rutenya dimulai dari jembatan kaca hingga pintu masuk Tinjomoyo. Namun untuk saat ini, wahana tersebut masih menunggu izin final dari Kementerian PUPR.
Selain itu, kawasan ini akan menghadirkan pasar Semarangan bernuansa tradisional, lengkap dengan penggunaan uang kepeng sebagai alat transaksi. Pasar ini akan menjadi wadah bagi UMKM lokal untuk memasarkan produk khas Semarang.
Bagi pecinta olahraga, Tinjomoyo juga menyiapkan arena trail run, downhill, dan e-bike track. Kawasan ini disebut-sebut sebagai spot terbaik di Semarang untuk olahraga petualangan berbasis alam.
Harga tiket masuk Hutan Wisata Tinjomoyo cukup terjangkau, yakni Rp10 ribu pada hari biasa dan Rp15 ribu pada akhir pekan. Untuk paket wisata, harga bervariasi. Misalnya, paket lengkap Jeep Adventure untuk tiga orang dibanderol sekitar Rp250 ribu sudah termasuk tiket masuk, jeep ride, jembatan kaca, dan river tubing.
Untuk wisatawan yang hanya ingin menikmati jembatan kaca, tiketnya sekitar Rp20 ribu per orang, sudah termasuk asuransi.
Pmerintah Kota Semarang menargetkan Tinjomoyo menjadi destinasi unggulan bertaraf internasional pada 2026. Soft launching tahun ini akan menjadi tahap uji coba sebelum grand opening. Dengan dukungan infrastruktur, termasuk penerbangan internasional rute Semarang–Singapura yang segera dibuka, Wing optimistis Tinjomoyo akan menarik minat wisatawan Nusantara hingga mancanegara.
“Tinjomoyo ini unik, hutan wisata di tengah kota jarang ada di tempat lain. Kami ingin menjadikannya ikon wisata petualangan Semarang,” ungkap Wing.