SEMARANG — Di tengah hiruk-pikuk Pasar Peterongan, Semarang, seorang pria bernama Teguh Basuki konsisten melestarikan tradisi budaya melalui keterampilan merangkai janur (daun kelapa muda).
Sejak awal tahun 1990-an, Teguh menekuni kerajinan janur secara otodidak, menjadikannya sebagai profesi sekaligus warisan budaya yang ia jaga dengan sepenuh hati.
Berbekal minat pribadi, Teguh belajar merangkai janur hingga menjadi ahli. Kini, karya-karya janurnya tak hanya menghiasi pelaminan di Semarang, tetapi juga dikirim hingga ke luar kota seperti Demak, Solo, Yogyakarta, bahkan pernah sampai Kalimantan melalui pengiriman udara.
"Semua saya belajar sendiri. Awalnya karena minat, terus banyak yang pesan," ujar Tegus sembari menyusun janur, Rabu 18 Juni 2025.
Laris di musim Hajatan
Menurut Teguh, pesanan dekorasi janur mengalami peningkatan signifikan pada musim pernikahan, khususnya di bulan Syawal dan Dzulhijjah. Dalam satu minggu, ia bisa menyelesaikan 15 hingga 20 paket dekorasi janur, seperti penjor, kembar mayang, mayangsari, hingga buket bunga untuk prosesi siraman.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp200 ribu untuk paket standar hingga Rp400 ribu untuk motif kompleks seperti kembar mayang lengkap dengan gentongan.
"Semua tergantung ukuran dan motifnya, dimulai dari Rp200 ribu hingga Rp400 ribu," katanya.
Motif Dekorasi Janur Banyak Diminati
Setiap desain yang dibuat Teguh menyesuaikan keinginan pemesan. Bila pelanggan memberikan referensi gambar atau desain khusus, ia akan menciptakan dekorasi janur yang semirip mungkin.
Mayoritas pesanan datang dari tim dekorasi pernikahan, namun tidak sedikit pula yang berasal langsung dari calon pengantin.
"Biasanya yang pesan itu tim dekorasinya langsung. Tapi kadang juga dari calon pengantin,” tuturnya.
Makna simbolis dari dekorasi janur tetap dipertahankan. Penjor merepresentasikan penyambutan dan doa restu, kembar mayang menggambarkan kesuburan dan keseimbangan, sementara buket siraman menjadi bagian penting dari ritual adat Jawa.
Untuk menjaga kualitas, Teguh menggunakan janur raja yang dikirim langsung dari daerah lereng Gunung Merapi, Magelang. Janur ini dikenal kuat, lentur, dan berwarna cerah—cocok untuk dijadikan hiasan adat.
Meski dunia dekorasi modern terus berkembang, Teguh percaya bahwa janur tradisional masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat, khususnya bagi mereka yang menghargai kearifan lokal dan budaya warisan leluhur.
"Selama masih ada pernikahan adat, janur tetap dibutuhkan," ungkap Teguh.
Dari meja kayu kecil di pasar tradisional, Teguh Basuki bukan sekadar pengrajin. Ia adalah penjaga tradisi, pengukir harapan lewat setiap helai janur yang dianyam menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia.