SEMARANG — Hujan lebat yang mengguyur Kota Semarang pada Kamis (16/10/2025) malam disertai dengan air pasang laut (rob) setinggi sekitar 1 meter menyebabkan kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang tergenang banjir dengan ketinggian mencapai 20 sentimeter di sejumlah titik.
Genangan air terlihat merendam jalan utama menuju area pelabuhan dan membuat aktivitas kendaraan sedikit tersendat. Meski demikian, pihak PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo memastikan bahwa kegiatan bongkar muat dan operasional pelabuhan masih berjalan normal.
Menurut keterangan Rohmat, salah satu karyawan di area Pit Bongkar Muat, banjir mulai terjadi sejak pukul 04.00 WIB.
“Banjirnya mulai sekitar jam 4 subuh, Mas. Ini karena air pasang sampai 1,1 meter ditambah hujan deras tadi malam. Biasanya enggak sampai segini, tapi kali ini tinggi banget karena rob-nya juga besar,” jelas Rohmat Kepada Diswayjateng.com, Junat 17 Oktober 2025 siang.
Ia menambahkan, akibat genangan air, sebagian kendaraan pekerja pelabuhan terpaksa parkir di luar area karena terjebak banjir.
“Banyak yang parkir di luar karena airnya tinggi. Kantor sih enggak terendam, cuma jalan dan parkiran aja,” tambahnya.
Dari pantauan dilapang, hingga siang hari jalan akses di Pelabujan Tanjung Emas Semarang masih tergenang setinggi 20 sentimeter, meski aktivitas lalu lintas truk berjalan normal namun sedikit mengalami tersendat akibat genangan air pasang dan hujan.
Saat dikonfirmasi Branch Manager PT Pelindo Multi Terminal Branch Tanjung Emas Semarang, S. Joko, mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk mengantisipasi cuaca ekstrem dan potensi rob di perairan utara Jawa.
“Fenomena alam seperti ini pasti bisa terjadi. Tugas kami adalah melakukan upaya terbaik untuk mengurangi dampaknya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pelindo telah mengoperasikan 64 unit pompa air dengan kapasitas antara 150 hingga 800 liter per detik yang tersebar di sejumlah titik rawan genangan, antara lain di Jalan Yos Sudarso, Pos 1, Jalan Musang, Jalan Asahan, Jalan Ampenan, Terminal Penumpang, Dermaga Samudera, Masjid Al-Mannar, Jalan Usman Janatin, hingga Jalan Coaster.
Pompa-pompa tersebut berfungsi untuk menyedot air laut yang masuk ke daratan dan mengalirkannya ke kolam retensi.
“Air laut yang disedot akan ditampung sementara di kolam retensi agar volume air di jalan cepat berkurang,” jelasnya.
Selain itu, setiap pompa dilengkapi dengan genset cadangan agar tetap dapat berfungsi saat listrik padam. Pemeriksaan rutin juga dilakukan terhadap instalasi listrik dan pompa agar sistem drainase tetap optimal.
Meski genangan air melanda beberapa ruas jalan pelabuhan, Joko memastikan aktivitas bongkar muat kapal dan layanan pelabuhan berjalan normal. Petugas lapangan terus memantau ketinggian air serta melakukan tindakan cepat bila terjadi kenaikan debit air laut.
“Selain pompa, kami juga sudah melakukan peninggian jalan di sepanjang Jalan Coaster untuk membendung air laut agar tidak masuk ke area pelabuhan,” ungkapnya.
Pelindo juga terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Semarang terkait informasi terkini mengenai cuaca dan potensi pasang surut air laut.
"Menurut data BMKG Semarang memperkirakan kondisi cuaca ekstrem dan potensi gelombang laut sedang masih akan terjadi hingga 24 Oktober 2025. Prakiraan tersebut mencakup kemungkinan terjadinya pasang air laut tinggi di wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Kota Semarang," jelas Joko.
Masyarakat pesisir, terutama nelayan dan pekerja pelabuhan, diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi rob dan curah hujan tinggi yang dapat memicu genangan di kawasan rendah.
Sebagai bentuk antisipasi jangka panjang, Pelindo berkomitmen memperkuat sistem drainase dan menambah kapasitas pompa air di Pelabuhan Tanjung Emas. Selain itu, pihaknya juga melakukan peninggian tanggul dan jalan utama pelabuhan secara bertahap.
“Mitigasi ini bagian dari upaya kami menjaga kelancaran arus logistik nasional agar tidak terganggu oleh kondisi alam. Kami ingin memastikan pelabuhan tetap aman dan produktif meskipun menghadapi tantangan cuaca ekstrem,” tujar Joko.