Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Ratusan pelajar hingga mahasiswa Gelar aksi Semarang Climate Strike 2025

Ratusan pelajar
mahasiswa
dan anak muda di Kota Semarang menggelar Semarang Climate Strike 2025 di depan bundaran air mancur jalan pahlawan Semarang
Jumat 14 November 2025. Foto : Umda

SEMARANG — Ratusan pelajar, mahasiswa, dan anak muda di Kota Semarang menggelar Semarang Climate Strike 2025 di depan bundaran air mancur jalan pahlawan Semarang, Jumat 14 November 2025.


Dalam aksinya, para pelajar membawa dua spanduk warna kuning bertuliskan Semarang Climate Strike dan Semarang Tenggelam kalau kita diam.


Sementara para bocil membawa poster dan lukisan bertema lingkungan. Beberapa poster yang di bawa antara lain kurangi sampah makan, kurangi jejak karbon, aku mau bumiku bersih untuk bermain, masa depan ada di tangan kita.


Aksi yang digagas oleh Jaringan Peduli Iklim dan Alam (JARI 5) bersama berbagai komunitas untuk mendesak pemerintah mengambil langkah cepat dan ambisius dalam penanganan krisis iklim.


Koordinator JARI 5, Ellen Nugroho mengatakan Aksi tahun ini diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai sekolah dan kampus, di antaranya Eduhouse (TK–SD), SMA Kebon Dalem, Universitas Bina Nusantara (Binus), UIN Walisongo, serta sejumlah komunitas mahasiswa Gusdurian dari berbagai kampus.


Koordinator JARI 5, Ellen Nugroho, mengatakan aksi tahun ini mengangkat tema “Just Transition Now” atau ajakan untuk segera melakukan transisi dari energi fosil ke energi bersih secara adil.


“Yang akan mewarisi bumi ini adalah anak-anak muda. Mereka yang akan menghadapi dampak dari kebijakan yang dibuat saat ini. Karena itu, sejak 2019 para pelajar turun ke jalan untuk membangunkan kesadaran generasi yang memegang kekuasaan,” jelasnya.


Menurut Ellen, berbagai dampak krisis iklim sudah nyata dirasakan di Semarang dan Jawa Tengah, seperti cuaca ekstrem, hujan lebat, banjir, hingga kekeringan yang berpotensi menyebabkan gagal panen dan krisis air.


Kelompok rentan seperti perempuan dan penyandang disabilitas disebut akan paling merasakan dampaknya.


“Dalam situasi kekurangan air atau pangan, perempuan biasanya berada di garis depan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara penyandang disabilitas akan makin kesulitan karena mobilitasnya terbatas,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa aksi climate strike memang bertujuan mendisrupsi stabilitas status quo yang selama ini menganggap situasi masih baik-baik saja.


“Para pelajar mogok sekolah dan turun ke jalan untuk menyuarakan bahwa perubahan iklim ini harus segera ditangani,” tambahnya.


Terkait tuntutan transisi energi, Ellen menegaskan bahwa langkah tersebut sangat mendesak seiring naiknya suhu bumi yang dalam dua tahun terakhir telah melewati ambang batas aman.


“Menurut Kesepakatan Paris, pemanasan global harus ditahan di 1,5 derajat Celsius. Tapi sekarang sudah terlampaui. Iklim tidak seperti cuaca yang bisa cepat berubah. Kalau sudah naik, dia tidak akan turun lagi,” kata Ellen.


Jika pemerintah tidak segera mempercepat penggunaan energi bersih—seperti energi angin dan air—maka dalam beberapa dekade mendatang suhu panas ekstrem dapat mencapai level membahayakan keselamatan manusia.


“Nanti itu bisa sampai panas mematikan. Orang yang bekerja di luar ruangan, seperti ojol atau pedagang kaki lima, bisa mengalami heat stroke dan meninggal di tempat,” jelasnya.


Selain mencegah dampak yang lebih parah, transisi energi juga penting untuk mencegah krisis air dan pangan yang berpotensi menimbulkan kerusuhan sosial.


“Kalau rakyat tidak bisa mendapatkan air dan makanan, atau banjir terus terjadi, maka konflik sosial bisa muncul,” tegas Ellen.


Aksi ini juga melibatkan komunitas lintas agama untuk menunjukkan bahwa merawat bumi adalah ajaran universal dalam setiap kepercayaan.


“Kita negara yang religius. Keberagamaan tidak hanya tentang beribadah, tetapi juga melakukan aksi nyata menjaga bumi sebagai rumah bersama,” pungkasnya

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube