SEMARANG — SEMARANG-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya berdampak pada dunia pendidikan dan kesehatan, tetapi juga membuka ruang pasar baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Di Jawa Tengah, sedikitnya 300 peternak lebah madu yang tergabung dalam Paguyuban Perlebahan menyatakan kesiapannya memasok hingga 3.000 ton madu alami per tahun untuk kebutuhan tambahan gizi siswa.
Namun mereka menegaskan pentingnya kepastian standar kualitas dan skema harga agar kemitraan berjalan berkelanjutan.
Dorongan pemanfaatan madu lokal dalam MBG tersebut mengemuka dalam diskusi pemanfaatan teknologi untuk mendukung program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang digelar Asdep Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM (KemenUMKM) di Hotel Aruss Semarang.
Ketua Paguyuban Perlebahan Jawa Tengah, Hengky Febrianto, menyambut baik peluang pasar dari MBG.
Namun ia mengingatkan bahwa integrasi produk madu ke dalam program nasional membutuhkan mekanisme yang jelas.
“Kalau dibilang siap, tentu bisa. Tapi harus ada kepastian kualitas dan harga. Pemerintah perlu menentukan apakah MBG membutuhkan madu grade A, B, atau C. Jangan sampai permintaan besar justru menekan peternak,” ujarnya, Kamis (9/10/2025).
Menurutnya, produksi madu alami di Jawa Tengah saat ini relatif moderat, yakni rata-rata 3.000 ton per tahun. Namun produktivitas terus menurun sejak 2022 karena dampak kerusakan lingkungan dan alih fungsi lahan.
“Produksi madu sangat dipengaruhi ketersediaan bunga. Kalau sumber pakan terganggu, hasil turun otomatis. Belum lagi maraknya madu campuran di pasaran yang merusak reputasi kami,” tegasnya.
Hengky pun mengusulkan pembentukan badan hukum koperasi khusus perlebahan agar pengelolaan rantai pasok ke MBG bisa lebih terstruktur.
“Kalau ada skema yang jelas, kami bahkan siap membuat produk turunan seperti suplemen madu saset seribu rupiah per porsi,” imbuhnya.
Kepala Dinkop UMKM Jateng, Edy Sulistyo Bramiyanto, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana integrasi madu lokal ke dalam MBG. Ia menilai, selain meningkatkan gizi anak sekolah, penggunaan madu juga akan menciptakan multiplier effect bagi pelaku usaha perlebahan dan sektor pengemasan.
“Dari sisi kesehatan jelas bagus. Kalau dikemas dalam saset kecil, madu bisa menjadi suplemen tambahan yang disukai anak-anak. Dan dari sisi ekonomi, ini akan menggerakkan seluruh ekosistem UMKM dari hulu sampai hilir,” ungkapnya.
Edy menambahkan bahwa konsumsi madu masyarakat Jawa Tengah cukup tinggi karena sudah menjadi bagian dari gaya hidup keluarga. Karena itu, ia mendorong agar KemenUMKM melakukan klasterisasi perlebahan sehingga lebih mudah dalam pengadaan.
“Kalau ekosistemnya disusun rapi, MBG bisa menjadi pasar tetap bagi peternak madu. Ini bukan hanya soal gizi, tapi juga soal kemandirian ekonomi lokal,” pungkasnya.