DEMAK — Program Makan Bergizi Gratis yang dikelola melalui anggaran APBN/APBD maupun mandiri sudah terselenggara hampir di semua daerah di Indonesia. Di Demak sendiri terdapat 11 yayasan yang mengelola MBG, satu diantaranya adalah milik pengusaha dan tokoh masyarakat Edi Sayudi yang mana kepada diswayjateng.com menyampaikan harapan program ini akan berjalan dan diundangkan.
Pihaknya bercerita bahwa keikut sertaannya dalam program MBG mandiri dimulai dari awal Juni 2025, di mana pihaknya memiliki dua dapur yang berada di Maharani, Alun-alun Demak dan rumah yang berada di jalan Bayangkara yang masing-masing di bangun kembali sesuai dengan standard dapur MBG dari Badan Gizi Nasional (BGN).
”MBG merupakan program nasional yang mana dibawah BGN, yang adalah lembaga yang setara dengan kementrian. Ini memang sesuatu yang baru bagi saya, sehingga saya butuh pendalaman untuk membuat dapur ini,” kisah Edi di dapur MBG bayangkara, Rabu 9 Juli 2025.
“Kendalanya dalam pelaksanaan ini adalah SDM (sumber daya manusia) yang mana masih susah untuk bisa mengiuti shift atau jam kerja. Terlebih pada saat jam malam. Karena kan kita memasak untuk makan pagi siap jadi masuknya malam,”terangnya.
Pelaksanaan MBG ditengah pro dan kontra
Program pelaksanaan MBG sendiri dalam pelaksanaannya mendapatkan pro – kontra, bahkan ada yang meminta untuk minta dihentikan, namun mantan anggota DPR Demak dari fraksi PKB tersebut tegas mengatakan bahwa program tersebut baik dan sangat perlu dilanjutkan.
“MBG merupakan program pemerintah yang bagus, di mana kalo dipelajari lagi, di negara-negara maju sudah menerapkan dan menjalankanya sejak lama, Indonesia baru dilaksanakan maka menyulut pro-kontra dan saya rasa itu wajar,”ucapnya.
Kepada pihak-pihak yang ingin membuat dapur MBG, Edi pun memberikan pandangan bahwa pada saat memulai tantangannya terletak pada pengutan struktur managemen.
“Tantangannya adalah harus menguatkan struktur managemen, karena SDM nya sangat terbatas, karena banyak yang ingin bekerja tapi melihat pekerjaan malam hari jadi banyak pertimbangan, apalagi jika dari ibu-ibu rumah tangga,”terangnya.
“Terkait MBG bagi saya harusnya memang diperlukan karena merupakan program peningkatan sumberdaya manusia dengan gisi terpenuhi,” ucapnya.
Tantangan lain juga didapatkannya dari penerima MBG yang mana banyak anak-anak sekolah yang pilih-pilih makanan dan belum mengerti bahwa yang disajikan adalah makanan bergisi tidak sekedar enak
“Contoh sayur kita sajikan sayur siem yang vitaminnya tinggi, tapi dianggap ga enak padahal kami selain memikirkan rasa juga terpenuhinya gizi. Dimana kita kan punya ahli gizi yang menentukan makan apa bergizi apa. Jadi bukan gratisnya. Isina nasi,lauk,sayur, buah atau ikan2 da susu setiap seminggu sekali,”pungkasnya.
DEMAK – Program Makan Bergizi Gratis yang dikelola melalui anggaran APBN/APBD maupun mandiri sudah terselenggara hampir di semua daerah di Indonesia. Di Demak sendiri terdapat 11 yayasan yang mengelola MBG, satu diantaranya adalah milik pengusaha dan tokoh masyarakat Edi Sayudi yang mana kepada diswayjateng.com menyampaikan harapan program ini akan berjalan dan diundangkan.
Pihaknya bercerita bahwa keikut sertaannya dalam program MBG mandiri dimulai dari awal Juni 2025, di mana pihaknya memiliki dua dapur yang berada di bekas tokonya swalayannya Maharani dan rumah yang berada di jalan Bayangkara yang masing-masing di bangun kembali sesuai dengan standard dapur MBG dari Badan Gizi Nasional (BGN).
”MBG merupakan program nasional yang mana dibawah BGN, yang adalah lembaga yang setara dengan kementrian. Ini memang sesuatu yang baru bagi saya, sehingga saya butuh pendalaman untuk membuat dapur ini,” kisah Edi di dapur MBG bayangkara, Rabu 9 Juli 2025.
“Kendalanya dalam pelaksanaan ini adalah SDM (sumber daya manusia) yang mana masih susah untuk bisa mengiuti shift atau jam kerja. Terlebih pada saat jam malam. Karena kan kita memasak untuk makan pagi siap jadi masuknya malam,”terangnya.
Pelaksanaan MBG ditengah pro dan kontra
Program pelaksanaan MBG sendiri dalam pelaksanaannya mendapatkan pro – kontra, bahkan ada yang meminta untuk minta dihentikan, namun mantan anggota DPR Demak dari fraksi PKB tersebut tegas mengatakan bahwa program tersebut baik dan sangat perlu dilanjutkan.
“MBG merupakan program pemerintah yang bagus, di mana kalo dipelajari lagi, di negara-negara maju sudah menerapkan dan menjalankanya sejak lama, Indonesia baru dilaksanakan maka menyulut pro-kontra dan saya rasa itu wajar,”ucapnya.
Kepada pihak-pihak yang ingin membuat dapur MBG, Edi pun memberikan pandangan bahwa pada saat memulai tantangannya terletak pada pengutan struktur managemen.
“Tantangannya adalah harus menguatkan struktur managemen, karena SDM nya sangat terbatas, karena banyak yang ingin bekerja tapi melihat pekerjaan malam hari jadi banyak pertimbangan, apalagi jika dari ibu-ibu rumah tangga,”terangnya.
“Terkait MBG bagi saya harusnya memang diperlukan karena merupakan program peningkatan sumberdaya manusia dengan gisi terpenuhi,” ucapnya.
Tantangan lain juga didapatkannya dari penerima MBG yang mana banyak anak-anak sekolah yang pilih-pilih makanan dan belum mengerti bahwa yang disajikan adalah makanan bergisi tidak sekedar enak
“Contoh sayur kita sajikan sayur siem yang vitaminnya tinggi, tapi dianggap ga enak padahal kami selain memikirkan rasa juga terpenuhinya gizi. Dimana kita kan punya ahli gizi yang menentukan makan apa bergizi apa. Jadi bukan gratisnya. Isina nasi,lauk,sayur, buah atau ikan2 da susu setiap seminggu sekali,”pungkasnya.