Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Peringati Hari Wayang Nasional, Pepadi Siap Gali “Wayang Gagrak Semarang”

BUDAYA - Pepadi Kota Semarang akan menggali gagrak yang menjadi ciri khas Kota Semarang. (wahyu sulistiyawan/diswayjateng.com)

SEMARANG — Dalam momentum peringatan Hari Wayang Nasional 2025 dan Haul 40 tahun Ki Nartosabdo, Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Semarang akan menggali dan menghidupkan kembali Wayang Gagrak Semarang sebagai ciri khas lokal. Hal itu disampaikan Ketua Pepadi Kota Semarang, Anang Budi Utomo saat Pagelaran Wayang Kulit di Kampung Budaya Unnes.


Anang mengatakan, Kota Semarang sebenarnya memiliki gaya wayang tersendiri. Namun keberadaannya belum dibina secara serius.


“Semarang ini punya model wayang sendiri. Selama ini kita memakai gagrak Surakarta. Ke depan, ketika dunia wayang sudah stabil, kita akan fokus menggali gagrak Kota Semarang karena daerah lain tidak ada yang mengopeni selain Semarang,” ujarnya kepada Diswayjateng.com, Sabtu 15 November 2025.


Kolaborasi Seni dan Penguatan Sanggar

Anang membuka peluang kolaborasi Wayang Gagrak Semarang dengan kesenian khas kota, seperti Gambang Semarang. Ia juga menegaskan pentingnya pembinaan generasi muda melalui sanggar seni.


“Ya mungkin alatnya lebih lebih sederhana, jumlahnya tidak sebesar wayang yang pakai Gagrak Surakarta seperti ini. Dan pemudi kita berdayakan, jadi sanggar-sanggar kita fasilitasi agar regenerasi dalang berjalan baik,” katanya.


Kebangkitan Wayang Pasca Pandemi

Menurut Anang, situasi dunia pedalangan mulai pulih setelah terdampak pandemi selama tiga hingga empat tahun. Ia optimistis pada 2025–2027 kegiatan seni wayang akan kembali semarak.


Dalam peringatan Hari Wayang Nasional ke-7 ini, Pepadi Kota Semarang menyelenggarakan dua rangkaian kegiatan: Festival Wayang di Simpang Lima pada 7–8 November dan pagelaran di Kampung Budaya Unnes pada 15 November, bekerja sama dengan Pepadi Jawa Tengah.


Pagelaran turut menjadi ajang apresiasi bagi juara nasional Festival Dalang Anak, yakni Danendra Dananjaya Djuanda yang menampilkan lakon Gathotkaca Jedhi, serta Respati Listyatmoko dengan lakon Praba Kusuma Labuh.


Selain itu tampil pula Hafist Yusuf Muhamad (lakon Sesaji Raja Surya) dan dalang Gunarto Gunotalijendro (lakon Banjaran Bhatara Wisnu).


Selain itu, Pepadi mendorong inovasi pertunjukan wayang, termasuk penggunaan e-gamelan karya seniman Odinus dan format pertunjukan padatan (durasi dipersingkat). Meski begitu, Anang menegaskan pakem pedalangan tidak boleh ditinggalkan.


“Cerita padatan jangan lepas dari induknya. Ini untuk menarik generasi muda tapi tetap menjaga marwah wayang,” ujarnya.


Pepadi memastikan pertunjukan wayang rutin digelar di ruang publik. Setiap malam Jumat Kliwon, TBRS Semarang akan menggelar pentas wayang secara konsisten. Wayang Orang Ngesti Pandowo juga dipentaskan setiap malam Minggu, ditambah konsep wayang orang on the street.


Pada 2026, Pepadi menyiapkan program pentas wayang keliling kampung melalui skema fasilitasi pemerintah kota.


“Kita memastikan Jumat Kliwon tetap jalan. Untuk wilayah lain, kami mendorong munculnya pentas-pentas dengan fasilitasi Pemkot,” kata Anang.

Mulai tahun ini, pengelolaan agenda Jumat Kliwon tidak hanya dilakukan Teater Lingkar, tetapi bergilir dengan sanggar-sanggar wayang agar seluruh pelaku seni memperoleh ruang berkarya.


Terkait penggunaan e-gamelan, Anang menilai inovasi tersebut tidak menurunkan nilai estetika wayang, asalkan tetap mengacu pada rekaman gamelan asli.


“E-gamelan masih bisa diterima. Yang penting bukan suara organ pentatonis yang berbeda pakem,” tegasnya.


Disis lain, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Semarang, Sarosa, mengatakan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi ajang pentas bagi para dalang cilik berprestasi yang sebelumnya meraih juara dalam lomba dalang tingkat nasional di Jakarta pada 5 November lalu.


“Pemerintah Kota Semarang mendukung penuh kegiatan ini. Para dalang kecil yang tampil hari ini adalah juara nasional, sehingga semakin mengharumkan nama Kota Semarang di bidang seni pedalangan,” ujar Sarosa.


Sarosa menegaskan bahwa pagelaran ini merupakan bagian dari upaya Pemkot Semarang dalam melestarikan seni wayang kulit sekaligus menumbuhkan minat generasi muda.


“Ini bagian dari pelestarian. Ada dalang usia 11 tahun yang sudah menjuarai festival tingkat kota hingga nasional. Ini membuktikan potensi besar seni pedalangan di Semarang,” jelasnya.


Menurut Sarosa, pemajuan kebudayaan harus dilaksanakan melalui empat strategi, yaitu perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.


Para pelatih maupun pegiat seni diminta mampu membuat kemasan pertunjukan yang lebih menarik bagi anak muda, tanpa menghilangkan pakem wayang kulit.


Ia menilai format pertunjukan singkat seperti dalam lomba dengan durasi sekitar 40 menit dapat menjadi alternatif agar generasi muda tertarik sebelum mengenal format pagelaran tradisional semalam suntuk.


Menjawab tantangan minimnya penonton muda, Sarosa menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai inovasi agar seni wayang tetap diminati di tengah derasnya budaya populer dan gempuran konten digital.


“Anak muda sekarang terbiasa dengan budaya dari luar seperti drama Korea. Karena itu kami harus kreatif untuk mendekatkan wayang kepada mereka,” tutur Sarosa.


Salah satu langkah yang dilakukan Pemkot Semarang yaitu menyelenggarakan pertunjukan di ruang terbuka dan kawasan wisata, seperti Wayang On the Street di Kota Lama, yang digelar rutin sejak beberapa tahun terakhir.


Pementasan wayang kulit setiap malam Jumat Miwon, yang memungkinkan masyarakat termasuk anak muda menonton tanpa harus datang ke gedung pertunjukan.


“Pementasan di luar gedung membuat masyarakat yang sedang berwisata bisa menonton sekalian mengapresiasi seni wayang,” tambahnya.