SEMARANG — Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jawa Tengah mendorong pemanfaatan teknologi sebagai sarana untuk mengenalkan kesenian wayang kepada generasi muda tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisinya. Hal tersebut disampaikan Ketua Pepadi Jawa Tengah, Untung Wiyono, pada peringatan Hari Wayang dan Haul 40 tahun Ki Nartosabdo di Kampung Budaya Unnes.
Untung menegaskan bahwa kehadiran teknologi bukan ancaman bagi seni pedalangan. Sebaliknya, inovasi seperti media digital justru dapat menjadi jembatan untuk menarik minat anak muda.
“Teknologi itu membantu sosialisasi dan pengenalan wayang ke generasi muda. Mereka bisa tahu bentuk, karakter, dan cerita wayang melalui media digital, lalu tertarik untuk mendalami,” ujarnya, Sabtu 15 November 2025 malam.
Namun demikian, Untung menegaskan bahwa digitalisasi tidak akan pernah menggantikan praktik seni pedalangan yang asli, termasuk gamelan dan tata pementasannya.
“Sama seperti musik band atau orkestra, semua itu tidak bisa digantikan hanya oleh IT. Teknologi hanyalah sarana pengembangan, bukan penghapus tradisi,” jelasnya.
Terkait wacana Pepadi Pusat soal penguatan ciri khas dalang, Untung menyebut bahwa karakteristik tersebut akan tumbuh alami sesuai daerah.
“Banyumas punya ciri sendiri, Jogja, Kartosuro, Surabaya juga berbeda. Di Jateng, daerah seperti Solo dan Semarang pun punya kekhasan masing-masing, tapi tetap saling mendukung,” paparnya.
Ia juga menyebut kesenian wayang dari daerah lain seperti Sunda maupun golek memiliki daya tarik yang dapat menjangkau seluruh audiens.
Di tengah perubahan zaman, Untung menilai dalang harus kreatif dalam menyampaikan nilai cerita agar tetap relevan. Menurutnya, wayang sejak dulu adalah sarana pendidikan moral dan kehidupan.
“Wayang mencontohkan kehidupan manusia. Menunjukkan mana kebenaran, mana kesalahan, serta akibatnya. Dari India sampai ke Indonesia, wayang juga dipakai sebagai media dakwah. Nilai positifnya sangat kuat,” ujar Untung.
Ia menambahkan bahwa dirinya sejak kecil dididik melalui cerita pewayangan yang mengajarkan karakter, kesatria, dan integritas. “Anoman itu meski digambarkan sebagai kera, tapi ia punya jiwa ksatria dan membela kebenaran,” ucapnya.
Menanggapi pertanyaan soal minimnya dalang perempuan, Untung menegaskan bahwa sesungguhnya jumlahnya cukup banyak di berbagai daerah.
“Ada banyak dalang perempuan. Di Serang ada, di Purwokerto juga ada yang bagus sekali, di Banyuwangi, Sukoharjo, dan lainnya. Mereka sering tampil, hanya saja tidak banyak terekspos,” jelasnya.
Untung menyebut perbedaan jumlah antara dalang laki-laki dan perempuan lebih dipengaruhi faktor tradisi dan minat, namun bukan berarti perempuan tidak memiliki ruang dalam dunia pedalangan.
Pagelaran turut menjadi ajang apresiasi bagi juara nasional Festival Dalang Anak, yakni Danendra Dananjaya Djuanda yang menampilkan lakon Gathotkaca Jedhi, serta Respati Listyatmoko dengan lakon Praba Kusuma Labuh. Selain itu tampil pula Hafist Yusuf Muhamad (lakon Sesaji Raja Surya) dan dalang Gunarto Gunotalijendro (lakon Banjaran Bhatara Wisnu).
Dalam kesempatan itu pula, dilakukan pengukuhan Pepadi Pusat kepada Sembilan pengurus Pepadi Jateng Periode 2024-2029.
Serupa dengan Ketua Pepadi Jateng, Untung Wiyono, dalang senior asal Yogyakarta, Gunarto Gunotalijendro, menegaskan bahwa kemajuan teknologi bukan ancaman bagi dunia pedalangan, melainkan justru menjadi peluang besar untuk memperluas akses dan menarik minat generasi muda.
Menurut Gunarto, digitalisasi memberikan ruang baru bagi pelestarian wayang, terutama melalui platform seperti YouTube dan layanan streaming. Ia menilai, kehadiran teknologi membuat proses belajar dalang jauh lebih mudah dibanding era sebelumnya.
“Sekarang wayang pentas bisa streaming, dari Jakarta bisa nonton. Bisa diulang, dipelajari lagi. Dulu kalau mau belajar dalang harus nyantrik, ngikuti ke mana pun guru pentas. Sekarang tinggal buka YouTube,” ujarnya.
Gunarto menyebut perkembangan dalang muda dalam lima tahun terakhir cukup menggembirakan. Jika dulu di daerahnya satu kabupaten hanya memiliki sekitar lima dalang, kini jumlahnya melonjak signifikan.
“Kemarin saya tanya ketua bupati, sekarang hampir 150 dalang. Ini luar biasa. Jumlahnya masih kurang dibanding penduduk, tapi ini progres baik,” tuturnya.
Ia juga mengapresiasi berbagai program pemerintah daerah yang menyediakan wadah bagi anak-anak dan remaja untuk tampil, seperti festival dalang anak dan lomba dalang remaja.
Menanggapi munculnya gamelan elektronik dan bentuk kolaborasi baru dalam seni pertunjukan, Gunarto menilai hal itu wajar sebagai bagian dari perkembangan.
“Apapun teknologinya, kalau untuk pengembangan ya tidak masalah. Jangan membatasi. Kalau tidak mengikuti zaman, kita akan ditinggalkan,” tegasnya.
Ia mencontohkan bahwa generasi muda cenderung menyukai format yang lebih dinamis. Karena itu, dalang perlu kreatif dalam mengemas pertunjukan, termasuk menghadirkan pelawak atau bintang tamu untuk menarik penonton.
“Jangan menyalahkan penonton. Kalau dalangnya pintar, bisa mengambil hati. Tantangan akan selalu ada dari dulu sampai sekarang,” katanya.
Wayang Mendunia
Gunarto menyampaikan bahwa seni wayang kini mendapat tempat di berbagai negara, bahkan menjadi kurikulum di sejumlah universitas internasional.
“Di Amerika ada kurikulum gamelan dan wayang. Orang asing saja belajar. Saya sampai merinding melihatnya,” ungkapnya.
Dalam kariernya selama 25 tahun, Gunarto sudah tampil di berbagai negara termasuk Italia dalam rangka Kongres FAO, serta dijadwalkan tampil di Turki, China, dan Amerika Serikat.
Untuk pertunjukan di luar negeri, ia kerap membawakan lakon Ramayana karena cerita tersebut sudah dikenal luas oleh masyarakat mancanegara.
“Mereka sudah baca Ramayana, tahu tentang Rama, Sinta. Jadi mereka ingin mencocokkan dengan versi kita,” jelasnya.
Pada agenda tahun ini, ia akan membawakan lakon Banjaran Batara Wisnu untuk memperingati 40 tahun wafatnya maestro Ki Narto Sabdo.
Regenerasi Harus Terus Dirawat
Gunarto menegaskan bahwa keberlangsungan wayang bergantung pada pembinaan generasi penerus. Ia mengingatkan bahwa meski usia manusia terbatas, usia wayang tidak terbatas.
“Anak-anak ini harus terus dipupuk supaya melanjutkan perjuangan. Dadi dalang itu bukan harus kondang. Yang penting menguasai pakem, menguasai cerita. Itu bekal kehidupan,” ujarnya.
Wayang, lanjutnya, memiliki filosofi penting yang dapat membentuk karakter generasi muda. Karena itu, ia berharap pelestarian wayang terus mendapat dukungan banyak pihak.
“Harapan saya, semangatnya jangan mengendor. Wayang akan tetap ada dan menyesuaikan zaman,” pungkasnya.(sul)