DEMAK — Kepala Kantir Kementrian Agama (Kemenag) Demak memberikan tanggapan dan reaksi atas peristiwa pelecegan seksual kepada 16 siswa oleh guru Madrasah Diniyah (Madin) di Demak. Menurutnya hal ini tidak boleh terjadi.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Demak, H. Taufiqur Rahman, menyampaikan keprihatinan dan menilai seorang guru Madin seharusnya menjadi panutan dan menjaga marwah lembaga pendidikan agama.
“Saya menyesalkan dan prihatin atas terjadinya dugaan pencabulan yang dilakukan oleh oknum guru Madin di Kabupaten Demak. Madin seharusnya menjadi tempat yang aman bagi peserta didik,” kata Taufiqur, Jumat 4 Juni 2025.
Ia menambahkan bahwa pihak Kemenag telah melakukan pembinaan terhadap pengelola Madin, termasuk saat Musyawarah Cabang (Muscab) Madin di Gedung FKDT Kadilangu pada Mei lalu.
Taufiqur juga mengaku telah mengunjungi langsung lokasi kejadian dan bertemu dengan kepala Madin serta seluruh ustaz dan ustazah yang mengajar di sana.
Terkait proses hukum, Kemenag menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum (APH).
“Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan,” tegasnya.
Sebelumnya, Kepala Desa Mulyorejo sekaligus pengurus Yayasan Asy-Syafi’iyyah, Suharsono, membenarkan bahwa kasus ini pertama kali mencuat pada Sabtu (28/6/2025) sore. Ia mendapat laporan adanya tindakan tidak pantas oleh seorang guru berinisial MR.
Malam harinya, yayasan langsung menggelar pertemuan darurat dengan para wali murid. Dalam forum tersebut, beberapa orang tua menyampaikan pengakuan anak-anak mereka yang mengaku telah diraba di bagian tubuh tertentu oleh guru tersebut.
“Ada sekitar tiga hingga lima wali murid yang hadir dan menceritakan apa yang disampaikan anak-anak mereka,” ungkap Suharsono saat ditemui, Senin (30/6/2025).
Menanggapi laporan tersebut, pihak yayasan langsung mengambil langkah tegas dengan memberhentikan oknum guru dari semua aktivitas mengajar.
“Mulai hari ini, yang bersangkutan resmi tidak lagi mengajar di Madin Asy-Syafi’iyyah,” tegasnya.
Suharsono menyampaikan rasa terkejutnya karena pelaku dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan dan memiliki citra religius. Ia juga membuka kemungkinan adanya korban lain dari tahun-tahun sebelumnya.
“Beberapa anak yang sudah lulus juga mengaku pernah mengalami hal serupa,” ujarnya.
Meskipun kasus ini menimbulkan kegemparan di lingkungan madrasah, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa. Yayasan juga menyatakan siap bekerja sama penuh dengan pihak kepolisian untuk mengungkap kasus ini.