SEMARANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat angka penderita tuberkulosis (TBC) masih tinggi di sejumlah wilayah. Tiga kecamatan dengan kasus tertinggi adalah Gunungpati, Ngaliyan, dan Genuk, yang kini menjadi fokus utama program skrining TBC massal.
Kepala Dinkes Kota Semarang, M. Abdul Hakam, mengungkapkan bahwa pemerintah kota menargetkan 10 ribu sampel untuk skrining TBC dalam kurun waktu empat bulan. Program ini difokuskan di daerah dengan angka kasus TBC tertinggi, termasuk wilayah sekitarnya.
"Kita dapat bantuan tiga alat skrining dari pemerintah pusat. Alat ini akan dipusatkan di Puskesmas Ngaliyan, Puskesmas Gunungpati, dan Puskesmas Bangetayu agar bisa menjangkau wilayah lain di sekitarnya," jelas Hakam kepada diswayjateng.com, Sabtu, 6 September 2025.
Menurutnya, dengan alat skrining tersebut, pemeriksaan TBC bisa dilakukan hingga 50 sampel per hari, termasuk pemeriksaan paru-paru menggunakan sinar X. Layanan ini juga dikombinasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) agar masyarakat lebih mudah mengakses pemeriksaan tanpa harus ke rumah sakit.
"Di Puskesmas Bangetayu misalnya, sudah tersedia tes dahak dan sinar X, jadi masyarakat bisa langsung melakukan pemeriksaan TBC secara gratis," tambahnya.
Apabila dari skrining ditemukan pasien positif TBC, maka Dinkes akan memberikan pengobatan gratis selama enam bulan. Sedangkan bagi yang negatif namun berisiko, akan menjalani terapi pencegahan TBC (TPT) selama 12 minggu.
Hingga kini, Dinkes mencatat ada 2.300 kasus aktif TBC dari total 3.300 penderita yang pernah terdata di Kota Semarang. Jumlah tertinggi ditemukan di Gunungpati, Ngaliyan, Genuk, serta wilayah Semarang Utara.
"Dari hasil pemeriksaan terakhir, sudah ada dua kasus baru ditemukan dengan gejala utama batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, dan nafsu makan yang menurun," ungkap Hakam.
Dengan program skrining masif ini, Pemkot Semarang berharap angka TBC dapat ditekan dan masyarakat lebih sadar akan pentingnya deteksi dini serta pengobatan tuntas.