Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Gaji Karyawan PLN Semarang Dipotong 2,5%, Demi Griya Singgah Pasien Gratis untuk Kaum Dhuafa

RUMAH SINGGAH PASIEN GRATIS- PLN PUSMANPRO meresmikan rumah singgah pasien gratis untuk kaum dhuafa yang akan melakukan kontrol di RS type A RSUP Dr Kariadi. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Gaji kayawan PT PLN (Persero) Pusat Manajemen Proyek (PUSMANPRO) Semarang dipotong 2,5 pesen demi misi kemanusiaan yang mereka lakukan.


Di balik megahnya proyek-proyek infrastruktur listrik nasional, ada kisah menyentuh yang lahir dari hati para karyawan, melalui kepedulian sosial yang nyata. PT PLN (Persero) PUSMANPRO Semarang bersama Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN meresmikan Griya Singgah Pasien (GSP) YBM PLN PUSMANPRO yang berlokasi di Jalan Tengger V No.132, Gajahmungkur, Kota Semarang.


Fasilitas ini diperuntukkan bagi kaum dhuafa yang sedang menjalani pengobatan atau kontrol kesehatan di rumah sakit rujukan tipe A di Semarang.


Peresmian dilakukan oleh General Manager PLN PUSMANPRO Sukahar, didampingi Penanggung Jawab GSP Syaifullah, serta perwakilan YBM PLN PUSMANPRO Ahmad Nur Arianta.


General Manager PLN PUSMANPRO Sukahar mengatakan, rumah singgah ini merupakan bentuk nyata empati sosial kepada masyarakat kurang mampu yang datang dari luar kota untuk berobat.


"Banyak pasien dhuafa yang kesulitan biaya tempat tinggal saat menjalani perawatan di Semarang. Melalui rumah singgah ini, kami ingin meringankan beban mereka, memberikan kenyamanan, sekaligus mendukung proses kesembuhan," ujar Sukahar kepada Diswayjateng.com, Selasa, 23 September 2025 sore.


Menariknya, biaya pembangunan dan operasional GSP YBM PLN PUSMANPRO ini berasal dari potongan 2,5 persen gaji karyawan Muslim PLN yang dikumpulkan melalui YBM PLN.


"Kami sisihkan gaji karyawan Muslim berharap pasien merasa tenang, nyaman, dan terbantu, termasuk layanan antar-jemput dari rumah singgah ke rumah sakit maupun terminal dan stasiun," tambahnya.


Dalam kesempatan yang sama, PLN PUSMANPRO juga menyerahkan bantuan berupa satu unit mobil ambulans dan santunan kepada dhuafa.


"PLN tidak hanya hadir lewat sambungan listrik, tetapi juga melalui program sosial yang langsung menyentuh kebutuhan warga. Griya Singgah Pasien adalah bagian dari semangat PLN untuk Rakyat," tegas Sukahar.


Perwakilan YBM PLN PUSMANPRO, Ahmad Nur Arianta, menegaskan bahwa pendirian dan operasional rumah singgah sepenuhnya berasal dari zakat pegawai.

"GSP YBM PLN PUSMANPRO ini merupakan hasil kepedulian para pegawai PLN yang menyalurkan zakatnya melalui YBM. Kami ingin zakat ini benar-benar menyentuh mereka yang membutuhkan, terutama pasien dhuafa," jelas Ahmad.


Pantauan Diswayjateng.com, rumah singgah yang dominan warna putih ini menyediakan lima kamar tidur bagi pasien dan satu pendamping, dapur bersama, layanan antar jemput ke rumah sakit, serta kegiatan tadarus Al-Qur’an setiap pagi. Aktivitas positif juga diberikan untuk mendukung pemulihan fisik dan batin pasien.


Adapun syarat untuk menempati GSP YBM PLN PUSMANPRO, harus beragama Islam, memiliki BPJS Kelas 3 atau Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), membawa fotokopi KTP/KK dan surat rujukan rumah sakit asal, bukan penderita penyakit menular, bersedia menaati tata tertib rumah singgah dan disertai penyerahan bantuan.


Roni Awal Saputra (57), warga Kudus, yang kini harus menjalani perawatan rutin akibat luka bakar mengaku harus melakukan kontrol medis dua kali seminggu di RSUP Dr. Kariadi. 


Sebelum mengenal fasilitas GSP YBM PLN PUSMANPRO, ia dan istrinya terpaksa pulang-pergi Kudus–Semarang untuk menjalani perawatan. Kini, mereka memilih menginap di Griya Singgah agar lebih hemat waktu, tenaga, dan biaya.


"Fasilitas yang diberikan sangat memuaskan dan benar-benar membantu bagi kami yang kurang mampu. Kalau bisa diberi bintang, saya kasih bintang lima," ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir serabutan.


Selama 11 hari tinggal di GSP YBM PLN PUSMANPRO, Roni dan istrinya mendapat dukungan penuh, mulai dari tempat tinggal hingga makan dan minum. Meski demikian, ia tetap merasa sungkan dengan pelayanan yang begitu lengkap.


"Saking nggak enaknya, kasur saya kasih alas lagi, takut kotor. Handuk dan selimut kita bawa sendiri saja," tuturnya.






Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube