SEMARANG — Di tengah gempuran teknologi dan dominasi gawai dalam kehidupan anak-anak, permainan tradisional mulai terpinggirkan. Lahan bermain yang semakin sempit di perkotaan, termasuk di Kota Semarang, membuat dolanan anak Nusantara kian jarang terlihat. Namun, sebuah inisiatif hadir untuk menghidupkan kembali warisan budaya ini melalui Festival Dolanan Anak Nusantara.
Direktur Anantaka, Ika Kamelia, mengatakan bahwa pelestarian permainan tradisional kini menjadi tantangan besar.
“Kalau kita berbicara pelestarian permainan tradisional, ini sudah hampir punah. Anak-anak sekarang terkendala lahan. Padahal, banyak dolanan seperti tembang dolanan dan permainan sederhana yang masih bisa dilestarikan tanpa membutuhkan area luas,” ungkapnya kepada diswayjateng.com, Selasa 12 Agustus 2025.
Menurut Ika, persepsi masyarakat terhadap permainan tradisional sering kali terbatas pada permainan yang memerlukan lapangan, seperti gobak sodor atau manda. Padahal, ada banyak jenis dolanan yang bisa dilakukan di ruang terbatas.
Upaya ini tidak hanya sebatas festival. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah menggagas program agar permainan tradisional masuk ke semua satuan pendidikan.
"Di Kota Semarang, dari PAUD hingga SMA sudah mengembangkan Satuan Pendidikan Ramah Anak. Salah satunya dengan partisipasi melalui media permainan tradisional. Pilot project-nya ada di SMP 39, Kecamatan Semarang Selatan," jelas Ika.
Ika berharap semua sekolah di Semarang bisa mengadopsi program serupa sehingga anak-anak dapat jeda dari gadget dan berinteraksi secara sosial.
Festival Dolanan Anak Nusantara menjadi bagian dari rangkaian Hari Anak Nasional Kota Semarang dengan tema Anak Hebat Cerdas Digital. Salah satu agenda utamanya adalah Sehari Tanpa Gadget, di mana anak-anak diajak mengganti waktu layar dengan permainan tradisional.
"Sehari Tanpa Gadget itu bisa diisi permainan tradisional. Di SMP 39 misalnya, permainan ini sudah menjadi ekstrakurikuler. Anak-anak jadi terbiasa mengalihkan waktu dari gadget ke aktivitas yang melatih kerja sama, empati, dan interaksi sosial," tutur Ika.
Kerja sama dengan Kecamatan Semarang Selatan diharapkan dapat memperluas penerapan dolanan di sekolah-sekolah lain. Selain hiburan, permainan tradisional juga memiliki nilai pendidikan karakter yang tinggi.
"Permainan tradisional melatih anak berinteraksi, bekerja sama, dan berempati. Hal-hal ini tidak bisa diperoleh dari layar gadget," tegas Ika.