SEMARANG — Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran baru 2025/2026 di SMA Negeri 3 Semarang diwarnai dengan fenomena unik dan langka dengan hadirnya lima pasang anak kembar sebagai peserta didik baru.
Hal ini diungkapkan oleh Nur Subagio, Sekretaris MPLS sekaligus Staf Kesiswaan SMA Negeri 3 Semarang, yang mengaku sempat kaget setelah mengetahui jumlah anak kembar yang diterima ternyata mencapai lima pasang.
"Ini saya baru tahu, ternyata ada 5 pasang anak kembar, informasi sebelumnya hanya ada 4. Ini termasuk langka sekali, biasanya cuma satu pasang saja tiap tahun," ujar Subagio saat ditemui oleh diswayjateng.com, Senin 14 Juli 2025.
Kelima pasang anak kembar tersebut diterima melalui berbagai jalur berbeda. Rinciannya, dua pasang melalui jalur zonasi, dua pasang melalui jalur prestasi, dan satu pasang melalui jalur mutasi dari luar daerah.
Satu pasang melalui jalur Mutasi adalah M. Atayafi R.S. - M. Albarani R.S. lulusan dari SMPN 21 Semarang dan pindahan dari Bekasi. Yang melui jalur Zonasi ada pasangan Rafa Izzan Rifai - Rafi Mirza Arfa’i (SMPN 2 Semarang) dan
Bella Sabrina - Della Sabrina (SMPN 7 Semarang).
Sedangkan yang melalui jalur prestasi, Nayla Fadhilah Sadewo - Halimah Fadhilah Sadewo dari SMP Islam Hidayatullah dan Khansa Rukmania P. - Sarisha Kayana P. dari SMP IT PAPB Semarang.
Subagio menyebut bahwa dalam sejarah penerimaan peserta didik baru di SMA Negeri 3 Semarang, jumlah anak kembar tahun ini merupakan yang terbanyak.
"Secara kuantitas, tahun ini memang rekor, tahun-tahun sebelumnya paling banyak satu atau dua pasang saja. Ini lima sekaligus," tambahnya.
Meski kembar, pihak sekolah memiliki kebijakan untuk memisahkan mereka dalam kelas yang berbeda. Hal ini juga sesuai dengan permintaan sebagian besar orang tua.
"Biasanya orang tua memang minta agar dipisah kelasnya. Tujuannya agar mereka bisa memperluas pergaulan dan tidak selalu bersama-sama," jelas Subagio.
Fenomena anak kembar ini sekaligus memperlihatkan tingginya minat masyarakat terhadap SMA Negeri 3 Semarang yang dikenal sebagai salah satu sekolah favorit di Kota Semarang.
"Kami bersyukur SMA 3 masih menjadi pilihan utama. Ini adalah bentuk kepercayaan masyarakat yang harus kami jaga. Amanah ini jadi tantangan dan tanggung jawab bagi kami," ujar Subagio.
Tahun ini, SMA Negeri 3 Semarang menerima total 432 siswa baru yang terbagi dalam 12 kelas.
Subagio menuturkan bahwa proses seleksi berjalan ketat dan transparan. Beberapa peserta sempat mengundurkan diri karena alasan pribadi, seperti pindah domisili atau mendapat beasiswa penuh di sekolah swasta.
Halimah Fadhilah Sadewo (Lili) kakak dari Nayla Fadhilah Sadewo (Lala) menceritakan perjalanan bisa masuk SMA Negeri 3 Semarang melalui jalur prestasi.
Mereka bisa masuk dengan nilai rapor yang memuaskan ditambah berhasil menjuarai dalam bidang sain.
"Kami memang ingin bareng terus, dari SD, SMP, dan sekarang SMA. Dulu bareng tapi beda kelas, biar punya teman berbeda. Tapi tetap belajar bareng di rumah," ungkap Lili.
Cita-cita yang sama menjadi penguat tekad keduanya untuk menjadi dokter. Karena itulah mereka sepakat memilih SMA 3 Semarang sebagai satu-satunya tujuan sekolah lanjutan mereka.
"Karena SMA 3 terkenal sebagai SMA terbaik di Semarang. Kami ingin mengejar cita-cita yang sama ke dunia kedokteran, jadi memang diarahkan ke sini,” ujarnya.
Menariknya, mereka mendaftar melalui jalur prestasi akademik, dengan Lili menambahkan bahwa ia juga memiliki catatan prestasi di bidang olimpiade sains.
"Aku ikut jalur rapor dan juga tambahan dari olimpiade sains. Lala juga lewat jalur prestasi, walau beda bidang, tapi tetap fokusnya di pelajaran," tambah Lili.
Tak hanya itu, proses belajar pun dilakukan secara bersama-sama. Meski berada di kelas berbeda saat SMP, keduanya tetap meluangkan waktu untuk belajar bersama di rumah.
"Walaupun beda kelas, di rumah belajar bareng. Jadi saling mendukung. Sempat takut juga kalau misalnya yang keterima cuma satu, tapi alhamdulillah bisa masuk berdua," ujarnya.
Mereka bahkan hanya mendaftar ke SMA 3 saja. Jika salah satu tak lolos, rencananya adalah kembali ke lembaga pendidikan asal mereka di Hidayatullah.
"Kalau enggak lolos, mungkin balik ke SMA Hidayatullah, karena SMP-nya juga dari sana. Tapi ternyata rezekinya di SMA 3 semua," kata Lala.
Berbeda dengan layaknya pasangan kembar lainnya yang ingin selalu bersama justru pasangan kembar M. Atayafi R.S. (Ata) - M. Albarani R.S. (Alba) ingin bisa berbeda sekolah atau kelas.
"Dari SD di Merbau, SMP di 21 Semarang, sampai akhirnya bareng lagi di SMA 3. Sebenarnya sempat kepikiran buat pisah sekolah, soalnya udah bareng terus dari kecil. Tapi kata orang tua, mending bareng aja biar enggak repot juga," kata Alba.
Perjalanan mereka tak selalu mulus. Alba dan Atta pindah ke Semarang karena mutasi pekerjaan orang tua dari Bekasi. Bahkan, kakak mereka yang lebih tua juga turut pindah dan saat ini duduk di kelas 12 SMA 3 Semarang.
"Iya, kita pindahan semua, dari Bekasi ke Semarang. Kakak juga sekolah di SMA 3. Jadi sekarang bertiga di sekolah yang sama," ujar Alba.
Meski sering terlihat bersama, keduanya mengaku memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Jika Alba cenderung aktif dan suka bersosialisasi, Atta justru lebih pendiam dan menikmati waktu di rumah.
"Kalau Atta itu pendiam banget, jarang banget keluar rumah. Tapi kalau aku lebih senang main di luar. Jadi walaupun kembar, kita beda banget," jelasnya sambil tersenyum.
Saat ditanya soal kebiasaan belajar, Alba mengungkapkan bahwa mereka lebih suka belajar terpisah. "Waktu ujian SMP aja kita jarang belajar bareng. Saking udah sering barengnya jadi malah suka jaga jarak. Di rumah tetap akrab sih, suka main game bareng juga. Tapi belajar masing-masing," imbuhnya.
Mereka juga bercerita tentang tanggapan guru saat mengetahui bahwa mereka kembar. "Beberapa guru sempat kaget. Kayak Bu Santi, Bu Ani bilang ‘Oh, ini kembar toh’. Apalagi kita enggak selalu sekelas, jadi enggak langsung ketahuan," tutur Alba.
Meski serupa secara fisik, cita-cita mereka berbeda. Alba punya minat besar di bidang teknik atau lingkungan, bahkan tertarik juga pada dunia medis. Sementara Atta, menurut Alba, masih mencari arah yang tepat.
"Kalau aku mungkin pengen ke teknik, atau lingkungan. Atau kalau enggak, jadi dokter. Tapi Atta belum yakin mau ke mana," ucap Alba.