Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Di Balik Kasus Korupsi Chromebook, SMP Gratis di Semarang Akui Sangat Terbantu

Chromebook masih dimanfaatkan sebagian sekolah gratis di Semarang. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Di tengah mencuatnya kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang menyeret empat tersangka, suara berbeda datang dari kalangan bawah yang menjadi penerima manfaat.


Salah satunya adalah SMP Kristen Gergaji Semarang, sekolah swasta gratis yang berada dipusat Kota Semarang ini mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan 15 unit Chromebook yang diterima dua tahun lalu.


Kepala sekolah SMP Kristen Gergaji, Suwarsi, menerangkan bahwa perangkat tersebut sangat penting untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, terutama pada mata pelajaran Informatika dan pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).


"Iya, bantuan Chromebook itu kami terima sekitar dua tahun yang lalu. Waktu itu saya masih menjabat sebagai wakil kepala sekolah. Kami menerima 15 unit, ditambah satu set proyektor," ujar Suwarsi saat ditemui diswayjateng.com di sekolah, Kamis 17 Juli 2025.


Chromebook tersebut dimanfaatkan dalam pembelajaran informatika, yang kini menjadi materi wajib di setiap jenjang kelas.


Bahkan, menurut Suwarsi, jika tanpa bantuan tersebut, pelaksanaan ANBK akan menjadi beban tambahan karena harus menumpang di sekolah lain.


"Kalau nggak ada bantuan itu, kami harus nginduk ke sekolah lain. Sementara itu butuh dana dan persiapan logistik. Dengan adanya Chromebook, kami bisa mandiri melaksanakan ANBK di sekolah sendiri," jelasnya.


Dengan total jumlah siswa sebanyak 66 orang, kebutuhan perangkat masih dirasa belum mencukupi, apalagi untuk kelas 9 yang memiliki jumlah siswa paling banyak.


"Kelas 9 saja ada 26 siswa. Dengan hanya 15 unit, kami harus membagi jadi dua sesi. Bahkan, dalam pembelajaran biasa, satu perangkat digunakan untuk dua siswa secara bergantian," tambahnya.

Selain untuk ANBK, Chromebook juga dimanfaatkan oleh guru untuk menyampaikan materi dengan lebih interaktif. Bahkan tahun ini, pembelajaran coding juga mulai diperkenalkan kepada siswa sebagai bagian dari kurikulum.


"Selain informatika dan ANBK, nanti juga ada coding, guru-guru juga bisa pakai untuk mata pelajaran lain jika diperlukan. Tapi pemakaian tetap bergilir, rata-rata sekitar tiga kali dalam seminggu," tutur Suwarsi.


Meski demikian, beberapa unit Chromebook mengalami kerusakan kecil, namun telah diperbaiki oleh teknisi sekolah.


"Ada satu yang sempat pecah layarnya, tapi sudah diperbaiki. Kerusakan ringan saja," katanya.


Dengan keterbatasan sarana dan jumlah perangkat yang belum ideal, pihak sekolah berharap ke depannya tetap mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah agar bisa terus meningkatkan kualitas pendidikan siswa.


"Kalau ada bantuan lagi ya pasti kami sangat terbuka. Karena anak-anak kita juga butuh perangkat untuk bisa belajar maksimal," pungkas Suwarsi.


Kasus korupsi pengadaan Chromebook yang kini sedang ditangani aparat hukum menyoroti adanya penyimpangan dalam proses pengadaan barang di lingkungan Kemendikbudristek.


Namun, di sisi lain, banyak sekolah terutama yang berada di wilayah kurang mampu mengakui bahwa program ini sangat membantu digitalisasi pendidikan di Indonesia.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube