SEMARANG — Bermula hanya sebagai hiburan untuk menghilangkan penat sepulang kerja, Ahmad Mansur mulai memelihara sembilan ekor ikan koi dengan kolam sederhana yang terbuat dari terpal kecil.
Niat awalnya hanya untuk menenangkan pikiran dengan gemercik air dan memandangi ikan koi. Namun, lambat laun hobinya ini justru berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan dan menghasilkan banyak cuan.
Mansur menceritakan, pada awal tahun 2019, ia menghabiskan dana sekitar Rp350 ribu untuk membeli ikan koi, membuat kolam dari terpal, dan membeli pompa air. Seiring waktu, jumlah ikan terus bertambah karena ia semakin sering membeli.
"Lambat laun terjadi miskomunikasi dengan istri. Akhirnya, kami mencoba menjual ikan koi lewat media sosial. Dari situ, banyak yang tertarik untuk membeli," ujarnya kepada wartawan diswayjateng.com, Senin, 16 Juni 2025.
Dari pengalaman awal menjual ikan koi tersebut, ia pun memutuskan untuk serius berjualan dengan nama brand Ammaur Koi.
"Setelah banyak yang minat, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan rebranding dan mulai fokus berjualan. Kami memperkenalkan Ammaur Koi sambil terus belajar, dan ternyata banyak yang tertarik hingga laku habis," ujar pria yang juga merupakan dosen pariwisata di Semarang.
Hingga kini, Mansur telah memiliki sekitar seribu ekor koi yang dikelola di Semarang dan Magelang. Berbagai jenis dan ukuran ikan koi tersedia, dengan harga bervariasi mulai dari Rp10 ribu hingga Rp35 juta per ekor.
"Yang paling mahal satu ekornya bisa sampai Rp35 juta. Tapi kalau pembelian borongan, pernah sampai Rp100 juta untuk beberapa ekor. Sedangkan yang paling murah mulai dari Rp10 ribu hingga Rp15 ribu," jelasnya.
Ia mengaku, pengiriman ikan koi kini telah menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri seperti Malaysia.
"Sejak awal membuka usaha hingga sekarang, pengiriman ikan koi kami sudah sampai Malaysia. Sementara untuk dalam negeri, hampir semua wilayah sudah pernah kami kirim, dari Aceh hingga Papua," ungkapnya.
Meski begitu, Mansur mengaku bahwa penjualan pada tahun 2025 ini mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni 2023 dan 2024. Hal ini ia kaitkan dengan kondisi perekonomian nasional yang sedang lesu.
"Tahun 2025 ini perekonomian sedang menurun. Menurut saya, kondisinya belum benar-benar pulih, alias masih lesu. Namun, peluang bisnis tetap ada semuanya tergantung bagaimana kita menjual dan mempresentasikannya," paparnya.
Menjadikan ikan koi sebagai bisnis sampingan selain mengajar, Mansur mampu menjual hingga 30 ekor ikan per bulan dari berbagai ukuran.
"Soal nominal hasil penjualan itu normatif, karena dari 30 ekor yang dijual, ada yang ukuran besar dan kecil, sehingga harganya tentu berbeda-beda," jelasnya.
Selama menjalankan usaha ikan koi, Mansur mengaku tantangan terbesar datang dari kondisi cuaca yang tidak menentu, terutama saat pancaroba.
"Kendala utama biasanya saat pancaroba. Perubahan dari panas ke hujan atau sebaliknya sering membuat ikan mengalami gangguan. Selain itu, ikan baru yang belum maksimal masa karantinanya baik impor maupun lokal sering bermasalah jika tidak ditangani dengan benar," ujarnya.
Ia menambahkan, ikan koi yang konon dipercaya membawa kelancaran rezeki ini didatangkan dari importir di Jawa Timur, seperti Tulungagung, Kediri, dan Blitar.
"Konon, menurut feng shui Tionghoa, memelihara sembilan ekor ikan koi bisa melancarkan rezeki," tutup Mansur.