SEMARANG — Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang sejak Selasa 21 Oktober 2025 menyebabkan banjir di sejumlah wilayah Pantura Semarang belum juga surut hingga Jumat 24 Oktober 2025. Genangan air yang sudah berlangsung dua hari berturut-turut membuat aktivitas warga dan arus lalu lintas di kawasan Kaligawe hingga Sayung lumpuh total.
Pantauan di lapangan, air setinggi 30 hingga 70 sentimeter masih menutupi sebagian ruas jalan nasional di kawasan Kaligawe. Kondisi ini menyebabkan kendaraan dari arah timur menuju Kota Semarang maupun sebaliknya menuju Kabupaten Demak terjebak kemacetan panjang.
Beberapa kendaraan berat seperti truk dan bus tampak berhenti berjam-jam di tengah jalan. Suara petugas kepolisian yang mengatur arus lalu lintas bersahutan di tengah genangan air cokelat, mengingatkan para sopir agar tidak menepi ke sisi jalan yang lebih dalam.
Denny, sopir truk asal Tuban, mengaku sudah lebih dari lima jam terjebak di kawasan Sayung-Kaligawe. Ia berangkat sejak pukul 05.00 pagi untuk mengantarkan barang ke Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Semarang, namun hingga pukul 10.00 kendaraan belum juga bisa bergerak.
“Di Sayung airnya masih rendah, tapi begitu masuk Kaligawe langsung naik setinggi pinggang orang dewasa. Semua kendaraan berhenti, mau putar balik juga percuma karena sama saja,” ujar Denny saat ditemui, Jumat 24 Oktober 2025 siang.
Beberapa sopir truk lain terlihat memilih turun dari kendaraan, beristirahat di warung pinggir jalan sambil menunggu antrean kendaraan. Ada pula yang memilih tidur di dalam kabin truk karena kemacetan tak kunjung terurai.
Di tengah situasi itu, petugas kepolisian bersama warga terus berupaya mengevakuasi kendaraan besar yang selip di tengah genangan.
“Tadi ada truk tronton yang kejebak di tengah, terus ditarik pakai seling baja. Banyak warga yang bantu,” tambah Denny.
Tidak hanya sopir, sejumlah warga juga harus berjuang menghadapi banjir. Andik, warga asal Kudus, mengaku harus turun dari bus di kawasan Genuk karena kendaraan tidak bisa masuk Terminal Terboyo.
“Bus enggak bisa lewat, jadi saya jalan kaki dari Genuk sampai batas banjir,” tuturnya.
Sementara Ayu, karyawan sebuah perusahaan di kawasan Kaligawe, mengaku tetap bekerja meski rumah dan jalan menuju tempat kerja terendam air.
“Sudah tiga hari ini harus menembus banjir, soalnya tempat kerja tidak kasih libur meski banjir,” katanya.
Beberapa pengendara motor tampak nekat menerobos banjir meski berisiko mogok. Banyak yang akhirnya harus menuntun kendaraan mereka di tengah air setinggi lutut, dengan raut wajah lelah dan cemas.
Petugas gabungan dari kepolisian dan warga setempat terus berjibaku membantu kendaraan yang mogok atau terperosok. Bahkan, para pengunjung Rumah Sakit Islam Sultan Agung harus menggunakan perahu karet untuk menembus banjir yang merendam akses jalan menuju rumah sakit.
Kapolsek Genuk, Kompol Rismanto, mengatakan pihaknya terus melakukan rekayasa lalu lintas serta evakuasi kendaraan besar yang terjebak.
“Ada truk tronton yang terperosok ke median sejak kemarin sore, baru bisa dievakuasi hari ini dengan bantuan satu truk besar dan tiga seling baja. Kami imbau pengguna jalan tidak memaksa melintas di malam hari karena banyak lubang dan batu besar di bawah air,” jelasnya.
Menurut Rismanto, banyak batu median yang hanyut dan tersangkut di roda kendaraan berat akibat arus air deras, sehingga membuat truk mudah selip.